Sungai Batang, Prokabar — Festival Rinyuak tersisa 5 hari lagi. Sejumlah panitia telah mulai membersihkan dua titik lokasi, Rabu (25/12). Bertujuan agar saat pelaksanaan kegiatan nanti sukses dan lancar.
Goro pertama dilaksanakan Tapian Junguik Kampuang Tangah, Jorong Batuang Panjang. Sepanjang tepian danau tersebut telah berhasil dibersihkan. Di sana akan menjadi akses jalan menuju lokasi lomba menangkap rinyuak dan lomba pacu babiduak.
Lokasi kedua membersihkan semak sepanjang jalan menuju Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Lokasi bertepat di Simpang Kuladang hingga ke Teluk.
“Lokasi tersebut memang sudah parah semak belukar. Sehingga sering kali mengganggu pengguna jalan yang melintas,” ungkap Wali Jorong Batung Panjang, Irfan Caniago.
Festival Rinyuak digagas KPGH Tanjung Raya binaan Pemerintah Kecamatan Tanjung Raya tersebut disambut baik Pemerintah Kabupaten Agam.
Kegiatan direncanakan pada Senin, (30/12) nanti. Selain lomba Menangkap Rinyuak secara tradisional, juga ada lomba Memasak Palai Rinyuak dan sejenisnya. Perlombaan Pacu Biduak Tradisional juga akan semakin membuat seru pengunjung nantinya.
“Festival Rinyuak sebagai ajang membangkitkan semangat kepedulian masyarakat terhadap ikan endemik Danau Maninjau, yang satu-satunya di dunia hanya ada di sini. Sangat penting untuk digerakan edukasi dan literasi, sehingga kelestarian ikan tersebut semakin meningkat,” ungkap Camat Tanjung Raya, Handria Asmi, Rabu (25/12).
Kegiatan tersebut telah dikoordinasikan seluruh OPD terkait, karena jelas mendukung berbagai program Pemerintah Kabupaten Agam. Seperti Peningkatan potensi wisata reliqius Buya Hamka, kelestarian ikan endemik, seni budaya. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mssyarakat, serta mendorong peranan ninik mamak dan pemuka masyarakat, untuk aktif membimbing anak kemenakannya.
“Kehadiran KPGH Tanjung Raya ini, membuat semangat kerja saya semakin optimis. Terutama menggerakan Agam Madani dan perekononian masyarakat melalui destinasi wisata minat khusus Buya Hamka,” lanjutnya.
Sementara itu, Koordinator KPGH Tanjung Raya, Rudi menambahkan, dulunya, Sungai Batang merupakan perkampungan Serambi Mekah. Dimulai kehadirian Tuanku Nan Tuo, Syekh Guguk Katur, Syekh Muhammad Amrullah hingga Syekh Abdul Karim Amrullah.
“Berdasarkan catatan di buku Ayahku karya Buya Hamka, dulu ratusan bahkan ribuan murid pernah belajar di sebuah pondok pesantren Di Jorong Nagari. Bahkan lahirnya organisasi Muhammadiyah pertama di Pulau Sumatra diluar Pulau Jawa, berada di Jorong Batuang Panjang, Sungai Batang ini,” Terang Rudi Yudistira, Koordinator KPGH Tanjung Raya.
Sejarah hebat dengan keindahan alam disertai beragam keunikan ini, menjadikan Sungai Batang dan Selingkar Danau Maninjau, salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia.
“Kita harus bangkitkan semangat masyarakat untuk paham atas potensi besar di sini. Bisa mengelola sendiri dan memelihara segala keindahan alam, flora fauna serta hutan dan danau. Sejarah keteladan Buya Hamka juga menjadi bagian terpenting untuk generasi penerus, sehingga kembali lahir Ulama terkemuka dan teladan nantinya,” pungkasnya. (rud)
















