Daerah

Isi Ramadan Lebih Optimal, Masyarakat Benteng Helat Lomba Tahfiz

Dibaca : 121

Agam, Prokabar – Surau kecil itu pagi-pagi sudah terdengar ramai. Ramai dengan dengungan bacaan ayat suci Al Quran. Berbeda dihari biasanya, kini Mushalla Al Mujahiddin Tapian Benteng, lebih banyak diikuti anak-anak TPA.

Mushalla itu terletak di daerah perbukitan, kampung kelahirannya Buya Hamka dan Inyiak Rasul. Tepatnya di Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Di sekitar sana juga ada Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, sebagai tanda bersejarahnya daerah tersebut.

Masyarakat di daerah perbukitan mayoritas berprofesi sebagai petani sawah dan perkebunan. Sementara, masyarakat yang berada di tepi danau, berprofesi sebagai nelayan tangkap dan petani keramba jaring apung. Tingkat ekonomi mereka agak sedikit berbeda.

Petani keramba jaring apung sedikit lebih beruntung ketimbang nelayan tangkap, petani kebun dan pembajak sawah. Keberagaman itu memperkaya kebersamaan sesama umat Muslim.

Meski penduduknya sedikit sekitar lebih kurang 300 jiwa, namun memiliki kekompakan dan semangat reliqius. Sejak awal Ramadan 1442 Hijriah ini, tadarus rutin dilakukan usai subuh dan sholat tarawih. Dan itu hampir berlangsung di setiap surau atau masjid.

Untuk lebih mengoptimalkan semangat baca Al Quran sekaligus menguji kompitisi anak didik, guru serta orang tua dan masyarakat Benteng sepakat menggelar lomba di Mushalla Al Mujahirin itu. Lomba Tahfiz Quran tingkat anak-anak TPA.

Sengaja dibatasi, mengingat masa pandemi covid-19 masih terus terjadi. Sehingga lomba hanya bisa dilaksanakan dalam bentuk skala kecil saja.

Fajri Datuk Mangkuto Nan Basa, Kepala Jorong Batung Panjang menyebutkan, kegiatan digagas masyarakat Tapian Benteng sebagai bentuk semangat mereka untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan generasinya. Terutama memperlancar bacaan ayat suci Al Quran.

“Tujuan kegiatan, memperkokoh generasi dari bidang keagamaan. Dan harapan kedepan, kegiatan ini tidak hanya di tapian Benteng saja. Tapi akan diupayakan berlangsung di Tingkat Jorong dan Nagari,” terang Fajri.

Jumlah peserta sekitar sebelas orang anak. Hanya saja tiga orang anak berhalangan hadir sehingga peserta menjadi delapan orang anak. “Hadiah pun tidak terlalu besar, namun setidaknya bisa memotivasi anak didik. Karena hadiah bukan nilai akhir. Melainkan ilmu dan ketaqwaan paling utama,” tutupnya. (rud)

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top