Introspeksi Ala Komang: Refleksi Sebelum Menuntut

Penulis -

Kamis, 8 Mei 2025 - 19:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Khairul Fadli Rambe

Mahasiswa Universitas Imam Bonjol Padang

 “Ingin rasanya cinta para penguasa kepada rakyatnya sama seperti ketulusan dan keapaadaan cinta Ode dengan Ade.”

Drama kehidupan selalu diwarnai dengan ekspektasi yang terlalu berlebihan. Padahal, kebahagiaan itu sering kali bersembunyi dalam kesederhanaan pilihan yang selalu kita abaikan. Ironisnya, ekspektasi tersebut acap kali terbelenggu yang berlarut-larut dalam ilustrasi yang indah, tanpa menyadari bahwa itu hanyalah fatamorgana.

Beredar di aplikasi TikTok, Instagram, dan X serta status WA juga terlibat, bahwa para kaum wanita menginginkan dunia percintaan mereka sama halnya dengan kisah cinta antara Raim Laode (Ode) dan Komang Ade (Ade). Yakni, sebuah narasi romansa yang tulus dan apa adanya (autentik), jauh dari kepalsuan dan kemunafikan yang kerap menghiasi dunia percintaan.

Viralitas kisah cinta Ode dan Ade bukan tanpa alasan. Di tengah idealisasi hubungan yang seringkali tidak realistis, interaksi mereka yang tulus tanpa dibuat-buat, serta dukungan apa adanya yang mereka berikan satu sama lain, terasa menyegarkan. Tak heran, banyak wanita yang kemudian menyuarakan keinginan agar pasangan mereka kelak memiliki kehangatan dan keautentikan seperti yang diperlihatkan Ode kepada Ade.

Hal ini terasa seperti tuntutan bagi seorang pria. Sebab, untuk mewujudkan ekspektasi tersebut, seorang pria mungkin merasa terpaksa mengadopsi persona yang bukan dirinya, dengan menanggalkan keaslian demi citra ideal yang diinginkan pasangannya. Proses ini lambat laun dapat mengikis kejujuran dalam hubungan dan memunculkan inkonsistensi dalam perilakunya, yang pada akhirnya bisa dianggap sebagai ”bermuka dua”. 

Perumpaan seseorang bisa tertekan untuk mengubah kepribadiannya ibarat seperti ini. Ketika seseorang yang memiliki ambisi karir tertentu mungkin menundanya atau bahkan mengubah arah karirnya jika pasangannya memiliki pandangan yang berbeda tentang pekerjaan ideal, merasa terancam atau tak pantas bersama sebab kesuksesan yang dimiliki pasangannya. Maka Ia mungkin akan merasa harus mengalah demi menjaga keharmonisan dalam hubungan mereka.

Inilah titik krusialnya, yang berpontensi menimbulkan konflik dan keretakan hubungan. Di mana Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, ketidakjujuran, serta penyelewengan kepercayaan, yang pada akhirnya akan bermuara pada perpisahan, sebagai konsekuensi logis dari pengkhianatan nilai-nilai dasar sebuah hubungan.

Fenomena ini sayangnya tidak hanya terbatas pada ranah asmara. Di arena pemerintahan, ketidaksesuaian antara retorika populis dan tindakan koruptif, ketidakjujuran dalam laporan keuangan negara, serta penyelewengan kekuasaan yang dilakukan oleh para politikus ”bermuka dua” di hadapan publik, juga menggerogoti fondasi kepercayaan dan persatuan bangsa.

Bukan lagi sebuah kejutan, setiap para paslon yang ingin menjadi pelayan publik seringkali tampil sebagai “tokoh protagonis” dalam drama politik. Mereka mempersiapkan diri dengan “alat tempur” mereka—blusukan dramatis dan retorika membakar semangat—dikerahkan untuk menciptakan citra sosok ideal yang penuh solusi dan dedikasi, layaknya memiliki ”kekuatan super” yang mampu menyelesaikan semua masalah bangsa.

”Nyatanya kita sering tertipu oleh wajah lugunya, padahal ia menyembunyikan agenda di balik topeng kepolosannya.” Hahaha

Hal ini menjadi sebuah tolog ukur baik dalam memilih pasangan hidup maupun pemimpin negara, di mana fenomena ini mengingatkan kepada kita bahwa keinginan akan sosok Ode yang apa adanya dalam percintaan, mencerminkan pula dahaga kolektif bangsa akan pemimpin ”baik dan bijaksana”. Esensi yang dicari adalah keaslian dan integritas, bukan pemimpin yang piawai dalam memakai topeng pencitraan.

Secara substansi, kualitas kepemimpinan ideal bukanlah entitas yang terisolasi, melainkan produk sinergis personal seorang pemimpin yang merupakan resonansi kolektif dari norma-norma etika yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai contoh, sebuah komunitas yang berorientasi pada kebenaran dan integritas individu, kecenderungannya akan mengafirmasi figur-figur publik yang teruji kredibilitasnya dan memiliki rekam jejak yang bersih.

Merujuk pada hakikat bahwa kualitas kepemimpinan bukanlah fenomena tunggal, melainkan sebuah pantulan dari kualitas moral masyarakat itu sendiri, maka jelaslah bahwa harapan itu hanya akan terwujud jika kita terlebih dahulu berbenah kepribadian kita. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 11: “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…”, menjadi landasan kuat bahwa perubahan kualitas pemimpin berawal dari perubahan kualitas masyarakatnya.

Kalau kita mau pemimpin yang baik, jujur, dan pintar, kuncinya ada di diri kita sendiri dan masyarakat. Pemimpin itu bukan muncul tiba-tiba, tapi bagian dari masyarakat. Kalau masyarakatnya punya kesadaran hukum, etika, dan anti korupsi, pemimpin yang terpilih juga kemungkinan besar begitu. Sebaliknya, kalau masyarakatnya cuek dan gampang dibohongi, pemimpin yang tidak baik pun bisa terpilih. Jadi, pemimpin yang baik itu hasil dari masyarakat yang baik juga.

Maka dengan itu, marilah kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk harapan eksternal dan alihkan pandangan ke dalam diri. Sadarilah dengan penuh kesungguhan, bahwa setiap kita adalah variabel penting dalam persamaan perubahan. Kualitas pemimpin yang kita dambakan esok hari, sangat ditentukan oleh kualitas individu dan masyarakat yang kita bangun hari ini. Introspeksi bukan berarti pasrah, melainkan langkah awal yang esensial untuk mengaktifkan potensi perubahan yang laten. Mari bergerak, mulai dari diri, untuk Indonesia yang kita impikan.

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB