Tanah Datar, Prokabar – Enam hari pasca bencana, Posko Penanggulangan Bencana Banjir Bandang Tanjung Bonai, Lintau Buo Utara sampai saat ini belum juga mendapatkan data pasti kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan.
Berdasarkan data yang diumumkan di posko penanggulangan bencana, kerusakan akibat banjir bandang meliputi kerusakan jalan dan jembatan Balai Tangah Payakumbuh yang merupakan aset Provinsi. Dampak kerusakan hanya rusak ringan.
Kerusakan terhadap sungai, irigasi, dan bendungan yang merupakan aset kabupaten saat ini juga terjadi dan saat ini dalam kondisi rusak berat. Selain itu, kerusakan terhadap jaringan air bersih, berupa rusaknya pipa distribusi, pipa induk, dan broncaptaring dan merupakan aset PDAM Tirta Alami Batusangkar.
Sementara, kerusakan pada aset kepemilikan masyarakat terdapat pada rusaknya bangunan rumah dan tempat ibadah serta toko atau kedai yang terkategori pada rusak berat dan hancur total.

Selain itu, kerugian terhadap masyarakat juga berupa rusaknya lahan persawahan dan ladang yang ditaksir mencapai 20 hektar.
Dari pantauan prokabar.com, pamflet data yang dipajang di posko bencana, hanya berbentuk kerusakan dan kepemilikan aset tanpa ada angka pasti kerusakan dan kerugian materil, baik milik pemerintah maupun masyarakat.
Kepala Jorong Piubuah mengatakan jika banjir bandang yang terjadi pada Kamis lalu setidaknya merusak enam unit rumah dengan kategori rusak berat. Sementara, 48 kepala keluarga menjadi dampak bencana alam banjir bandang.
Selain itu, 10 kolam ikan milik masyarakat juga ludes disapu oleh banjir bandang, dan 20 hektar areal persawahan warga mengalami rusak berat, dua ekor kerbau dan satu unit mobil milik H. Kiri hanyut terbawa arus air banjir bandang.
“Kami minta pemerintah juga memperhatikan masyarakat yang terkena dampak banjir bandang. Adanya satu unit mobil terseret banjir bandang juga baru kami ketahui, dan mobil tersebut ditemukan di kelok hantu, Jorong Stugar,” ucapnya.
Disisi lain, posko relawan bersama yang terdapat tepat di lokasi bencana banjir bandang merilis jika kebutuhan mendesak yang dibutuhkan oleh korban banjir saat ini berupa tempat tinggal, selimut, pakaian, perlengkapan tidur, perlengkapan dapur dan sembako.
“Menurut hemat kami, korban banjir yang kehilangan tempat tinggal sudah semestinya mendapatkan tinggal sementara atau barak. Karena saat ini, mereka hanya menumpang di tempat sanak keluarga,” ucap Sri Chandra Nurlaili yang merupakan relawan S3 atau Sedekah Seribu Sehari. (eym)
















