Lubuk Basung, Prokabar — Berdasarkan penelitian LIPI Pusat, prilaku intoleran dan radikalisme di Indonesia semakin meningkat. Hal tersebut disampaikan Kapolres Agam, AKBP Ferry Suwandi saat melaksanakan pertemuan bersama seluruh komponen masyarakat, KPU, Bawaslu dan MUI Kabupaten Agam.
Kegiatan di Aula Polres Agam, Kamis siang (29/11) tersebut menyepakati komitmen dan konsisten pemilu 2019 aman, damai dan badusanak. Menurutnya, beberapa pihak mulai membuat gaduh dengan menggunakan isu agama untuk kepentingan politik, sehingga memicu intoleran.
“Intoleran terjadi tidak hanya terjadi pada kelompok antar beragama, melainkan sesama umat muslim sudah mulai terjadi perpecahan,” ungkap Kapolres.
Bahkan katanya, ada pihak yang sudah mulai memburukan pihak lain dan menganggap kelompok mereka lebih suci dan paling benar. “Dan hal ini penting kita waspadai karen akan memicu terjadinya konflik menjelang Pemilu 2019,” terang AKBP Ferry Suwandi.
Ketua MUI Kabupaten Agam, Alwisra Imam Zaidallah membenarkan hal tersebut. “MUI ini merupakan himpunan seluruh ulama. Jadi tugasnya mengawal dan mengayomi supaya pemilu ini menjadi berkualitas. Oleh sebab itu kepada seluruh terkait baik dari calin atau tim suksesnya, tidak boleh menjelek-jelekan pihak lain,” kata Ketua MUI Kabupaten Agam.
Ia melanjutkan silahkan dia sampaikan visi misinya, programnya dengan baik tetapi jangan menjelek-jelekan program kandidat orang lain. Selain itu, berkampanye di rumah ibadah juga harus dicegah dan dihindari. Karena dapat merusak kesucian, keagungan dan sakral rumah ibadah akibat politik praktis.
Sementara itu, Komisioner Devisi Hukum KPU Kabupaten Agam, Al Hadi menyambut baik kegiatan tersebut. Karena sangat membantu penyelenggara pemilu dalam sisi keamanan menjelang pemilu 2019 nanti. “Kami sangat senang dan berharap agar pelaksanaan pemilu 2019 nanti berjalan aman, damai dan badusanak nantinya. Dengan gencarnya sosialisasi dan mencegah sikap intoleran sesama umat, akan meminimalisir di saat puncak pemilihan nanti,” kata Al Hadi.
Ia juga mengkutip salah seorang pemerhati dengan ungkapan Pemilu bukan mencari yang terbaik, melainkan mencegah calon pemimpin terburuk berkuasa. “Hal tersebut paling tidak untuk hari ini, terkait pertanyaan dari masyarakat bahwa untuk apa pemilu? Paling tidak bagaimana mencegah yang jahat berkuasa atau yang terburuk berkuasa,” jelasnya.
Ia kembali menerangkan calon pemimpin yang melakukan kecurangan dan kezaliman saat pelaksanaan pemilu. Baik langsung dilakukan diri sendiri atau tim suksesnya jelas salah satu ciri pemimpin jahat dan terburuk berkuasa.
“Dan masyarakat sudah bisa menilai siapa pemimpin yang pantas dan layak untuk memimpin mereka. Dan kami selaku penyelenggara, akan terfokus bagaimana proses pelaksanaan pesta demokrasi ini berjalan lancar, aman, damai dan badusak,” tutupnya. (rud)
















