Sungai Batang, Prokabar — Setelah beberapa kali mengikuti pelatihan kebencanaan, akhirnya Madrasah Aman dan Tanggap Bencana atau MANTAP dari MTsS Muhammadiyah Sungai Batang, ditutup dengan simulasi bencana gempa, Sabtu Siang (3/11).
Kegiatan meliputi puluhan siswa-siswi beserta guru, dilatih bagaimana menyikapi peristiwa bencana, terutama gempa bumi dan longsor di sekolah tersebut.
“Penerapan kearifan lokal untuk pengurangan risiko bencana penting. Apalagi masyarakat yang berada di daerah rawan bencana,” ungkap Yunaidi, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Agam.
Menurutnya, daerah tersebut perlu mendapat perhatian khusus agar masyarakat terutama pelajar mampu menyikapi dan mengatasi keadaan. Seperti menyelamatkan diri serta menyelamatkan orang yang bisa ia bantu ketiga bencana terjadi.
Latihan simulasi gempa bumi dan tanah longsor sebagai mitigasi bencana bertujuan melindungi melatih dan membiasakan masyarakat menghadapi bencana. Dan Program Mantap dari Baznas Tanggap Bencana (BTB) Nasional ini pertama kali di Sumatra Barat. Dan Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam ini menjadi lokasi pilihan pertama karena pernah mengalami longsor besar dan memang daerah paling rawan bencana.
Simulasi tanggap bencana ini dipandu dari Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam, Baznas Tanggap Bencana (BTB) Kabupaten Agam, BTB Provinsi Sumatera Barat dan relawan PMI Agam.
Kepala Sekolah MTsS Muhammadiyah Sungai Batang, Ramadhani, mengatakan simulasi dan pelatihan ini menjadi bekal guru beserta murid dalam mengetahui kebencanaan. “Pada siswa memiliki kemampuan penerima pesan dan data tangkap cepat menyerap serta mengembangkan ilmu pengetahuan dengan kreatif,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua BTB Provinsi Sumatera Barat, Stepenson merasa bangga atas kelancaran simulasi gempabumi yang diperagakan dengan baik dan sukses pada siswa dan guru. “Mari kita tanggap atas risiko bencana yang bakal terjadi. Karena itu kesiapsiagaan diri sangat penting,” katanya.
Walinagari Sungai Batang, Jhon Hendra berharap ilmu dan pelatihan yang telah diberikan dapat diserapkan dengan baik. Ilmu yang sudah didapat harus disampaikan pula kepada rekan dan adik-adik kelasnya.
“Para siswa dapat memahami dan mengetahui potensi bencana di sekolah dan lingkungan sekitar. Disamping itu dapat dikembangkan disekitar tempat tinggal masing-masing,” tutup Jhon Hendra. (rud)
















