Trending | News | Daerah | Covid-19

Kesehatan

Ini Hasil Survei Pemerintah Terkait Penerimaan Vaksin Covid

Dibaca : 108

Jakarta, Prokabar — Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi menyatakan, dari hasil survei yang dilakukan pihaknya menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia telah mendengar tentang vaksin Covid-19 dan bersedia menerimanya, jika memang nantinya sudah ada.

Dalam keterangan resmi yang diterima, survei ini dilakukan Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), dengan dukungan UNICEF dan WHO.

Oscar mengungkapkan survei nasional tentang penerimaan vaksin Covid-19 telah berlangsung pada 19-30 September 2020lalu  dengan tujuan untuk memahami pandangan, persepsi, serta perhatian masyarakat tentang vaksinasi Covid-19.

Pada pelaksanannya, survei tersebut mengumpulkan tanggapan lebih dari 115.000 orang, dari 34 provinsi yang mencakup 508 kabupaten/kota atau 99 persen dari seluruh kabupaten/kota.

Menurut Oscar, hasil survei menunjukkan bahwa tiga perempat responden menyatakan telah mendengar tentang vaksin Covid-19, dan dua pertiga responden menyatakan bersedia menerima vaksin Covid-19.

“Namun demikian, tingkat penerimaan berbeda-beda di setiap provinsi, hal ini dilatar belakangi oleh status ekonomi, keyakinan agama, status pendidikan serta wilayah,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, pada kelompok masyarakat dengan informasi yang lebih banyak seputar vaksin misalnya, mereka cenderung akan menerima pemberian vaksin Covid-19. Hal yang sama juga terjadi pada responden dengan kepemilikan asuransi kesehatan, sebagian besar dari mereka lebih mungkin menerima vaksin Covid-19.

“Ini menegaskan bahwa saat ini masih dibutuhkan informasi yang akurat tentang vaksin Covid-19. Tapi secara keseluruhan survei menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia telah mendengar tentang vaksin Covid-19 dan bersedia menerimanya,” lanjut Oscar Primadi.

Sementara itu, hasil survei juga menunjukkan adanya kelompok yang ragu dan sebagian kecil yang menolak. Dari tujuh persen responden yang menolak, menyebutkan faktor keamanan, efektivitas, serta kehalalan vaksin sebagai faktor pertimbangan mereka.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi menyatakan, dari hasil survei yang dilakukan pihaknya menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia telah mendengar tentang vaksin Covid-19 dan bersedia menerimanya, jika memang nantinya sudah ada.

Dalam keterangan resmi yang diterima InfoPublik.id, Rabu (18/11/2020) survei ini dilakukan Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), dengan dukungan UNICEF dan WHO.

Oscar mengungkapkan survei nasional tentang penerimaan vaksin Covid-19 telah berlangsung pada 19-30 September 2020lalu  dengan tujuan untuk memahami pandangan, persepsi, serta perhatian masyarakat tentang vaksinasi Covid-19.

Pada pelaksanannya, survei tersebut mengumpulkan tanggapan lebih dari 115.000 orang, dari 34 provinsi yang mencakup 508 kabupaten/kota atau 99 persen dari seluruh kabupaten/kota.

Menurut Oscar, hasil survei menunjukkan bahwa tiga perempat responden menyatakan telah mendengar tentang vaksin Covid-19, dan dua pertiga responden menyatakan bersedia menerima vaksin Covid-19.

“Namun demikian, tingkat penerimaan berbeda-beda di setiap provinsi, hal ini dilatar belakangi oleh status ekonomi, keyakinan agama, status pendidikan serta wilayah,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, pada kelompok masyarakat dengan informasi yang lebih banyak seputar vaksin misalnya, mereka cenderung akan menerima pemberian vaksin Covid-19. Hal yang sama juga terjadi pada responden dengan kepemilikan asuransi kesehatan, sebagian besar dari mereka lebih mungkin menerima vaksin Covid-19.

“Ini menegaskan bahwa saat ini masih dibutuhkan informasi yang akurat tentang vaksin Covid-19. Tapi secara keseluruhan survei menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia telah mendengar tentang vaksin Covid-19 dan bersedia menerimanya,” lanjut Oscar Primadi.

Sementara itu, hasil survei juga menunjukkan adanya kelompok yang ragu dan sebagian kecil yang menolak. Dari tujuh persen responden yang menolak, menyebutkan faktor keamanan, efektivitas, serta kehalalan vaksin sebagai faktor pertimbangan mereka. (*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top