Agam, Prokabar – Ahmad Fadly, seorang tenaga ahli geologi menjelaskan konsep geopark terdapat tiga pilar komponen alam dan budaya. Ketiga tersebut yakni warisan geologi atau geoheritage, warisan biologi dan warisan budaya. “Membuat konsep Geopark, kita mendasari kearifan lokal dulu. Kita menggali dari tiga pilar intinya. Di situ ada alam, budaya dan biodevercity fauna yang dikaitkan dengan aktivitas masyarakatnya,” ungkapnya saat memberikan materi di Sosialisasi Geopark Sianok Maninjau di Hotel Nuansa Maninjau, Selasa (3/9).
Melalui objek tersebut dapat dilakukan riset disertai kuliner, homestay, serta kelompok bisnis tour di dalam kawasan atau geosite. Untuk pengembangan geosite tersebut harus dikembangkan dulu masyarakatnya. Membangun visi dan misi yang jelas untuk pemanfaatan alam tanpa merusak kelestarian alam. “Mau diambil dari sisi edukasinya, ilmiahnya atau adat budaya. Dan kemungkinan itu bisa digabung dalam satu kemasan,” terangnya.
Diterangkannya, masyarakat harus ambil alih dan berperan dalam kawasan tersebut. Objek-objek besar menjasi zona inti, sementara masyarakat akan bermain di zona penyanggah dengan melibatkan aktifitas. “Seperti adanya keripik, rendang ketika dilalui ataupun kerajinan-kerajinan atau geoprodak dalam kawasan geopark tersebut,” tururnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, Martias Wanto mengatakan sejak ditetapkanya Kabupaten Agam menjadi Kawasan Geopark Nasional, maka penting dilakukan sosialisasikan ke masyarakat. Pemanfaatan hutan dapat dilakukan sejalan dengan pelestarian warisan alam, warisan biologi dan warisan budaya.
“Seluruh stagholder kita hingga ke penggiat wisata, pemerintahan nagari, camat dan pemerhati wisata penting memahami konsep geopark tersebut. Apa-apa saja yang masuk dalam kawasan tersebut, objek pasa saja, dan apa saja situsnya sehingga lebih dikenal terlebih dahulu. Dan lalu kedepan, kita akan berbagi, mana yang bisa ditindaklajuti oleh pemerintah nagari beserta anggarannya, mana yang bisa ditindalanjuti oleh pemerintah kabupaten, dan jika anggarannya besar maka kita usulkan ke pemerintah pusat,” tutur Martias.
Pengembangan wisata kabupaten agam berpedoman kepada geopark. Disamping untuk wisata, jauh dari pada itu untuk penyelamatan ekosistem, flora fauna, maupun situs-situs budaya, berupa keagamaan, sejarah dan lainnya. “Khusus warisan budaya sangat mendukung pengembangan wisata, seperti kuliner, sejarah edukasi ulama masa lalu. Hal ini akan kita tindaklanjuti melalui penganggaran di tahun 2020 nanti,” pungkas Sekda Kabupaten Agam. (rud)
















