Budaya

Ini Dia Potensial Situs Gudang Kopi Peninggalan Belanda Di Agam

Tanjung Sani, Prokabar – Penjajahan Kolonial Belanda masa lalu, masih menyisakan kisah menarik pada Bangsa ini. Berbagai peninggalan sejarah menjadi bukti, kehadirannya berdampak pada kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Hal tersebut juga dialami Kabun Sibarasok, Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Di sini terdapat salah satu gudang pengolahan disertai 400 hektar perkebunan kopi.

Menurut Hamidi (62), warga setempat, perkebunan tersebut dimulai sejak 1936 oleh Kolonial Belanda. Setelah Penjajahan berakhir, mereka mengembalikan lahan masyarakat. Sehingga ninik mamak membagi tanah pusaka itu kepada masing-masing kaumnya.

Sejak saat itu, masyarakat kembali menggarap sendiri lahan tersebut secara tradisional. Perkebunan kopi terus dilanjutkan, sesuai kemampuan dengan sangat sederhana.

“Sejak lahan ini dikembalikan ke masyarakat oleh Belanda, sejak itulah kami menggarap dan melanjutkan perkebunan tersebut,” ungkapnya.

Hamidi menambahkan, jenis bibit kopi di tanam Belanda berupa Robusta. Dan sempat ditukar bibit Arabika, namun tidak cocok dan pemasaran sangat susah. Sehingga masyarakat kembali menanam bibit jenis Robusta.

“Sayangnya kami tidak mendapatkan ilmu cara pengolahan modren yang dilakukan Kolonial Belanda. Sehingga kami hanya bisa mengolah secara tradisional saja,” terangnya.

Ada beberapa orang yang telah mengolah menggunakan mesin, namun masih dalam skala kecil. Setidaknya sudah mulai menembus ke luar Provinsi Sumatra Barat.

Sementara itu, peninggalan Belanda berupa bangunan hanya menyisakan puluhan tongga dan beberapa pondasi saja. Tidak terawat sebagai situs sejarah peninggalan masa lalu. Begitu pula sisa-sisa logam besi, sebagian besar sudah banyak yang hilang. Sebagian kecil masih ada disimpan warga setempat.

Amri Syam Sutan Pamenan (69), pemilik kebun kopi di Kabun Sibarasok juga menjelaskan, awalnya perkebunan Kolonial Belanda sekitar 400 hektar. Perkebunan sempat bertambah 600 hektar hingga saat ini berkembang menjadi 850 hektar.

“Setau saya, setelah Belanda itu hendak pergi meninggalkan negara ini, mereka mengembalikan tanah perkebunan tersebut ke Ninik Mamak dan diserahkan ke masing-masing kaum,” tutur Amri.

Ia melanjutkan, perkebunan tersebut memang sangat cocok pada tanaman kopi. Hanya saja perhatian pemerintah sangat lemah. “Padahal kami sangat membutuhkan pembinaan,” harapnya.

Selain kopi, saat ini masyarakat perkebunan ini juga mengembangkan tanaman Manggis, Durian dan Kulit Manis. Selain perkebunan, daerah tersebut sangat potensial dikembangkan agrowisata serta wisata sejarah Situs Gudang Kopi Peninggalan Kolonial Belanda. 

“Panaroma Puncak Bukit Kabun Sibarasok serta Puncak Pemancar di sini sangat indah. Bahkan panaroma Danau Maninjau dan Pantai Tiku sangat jelas dari atas sana. Sangat disayangkan potensi ini tidak kita kembangkan,” pungkasnya. (rud)

Berani Komen Itu Baik

Tirto.ID
Loading...
To Top