Tanjung Raya, Prokabar — Pemerintah Kecamatan Tanjung Raya tekankan setiap Pemerintahan Nagari di Selingkar Danau Maninjau untuk membangun tambatan perahu dan taman bunga sebagai bentuk dukungan penuh program save Danau Maninjau dicanangkan Pemerintah Kabupaten Agam. Peralihan perekonomian masyarakat harus dikurangi dari Keramba Jaring Apung (KJA) menjadi pariwisata dan pertanian.
Camat Tanjung Raya, Handria Asmi menjelaskan dari 8 nagari yang ada di Tanjung Raya, ditambah nagari persiapan Dalko sudah hampir seluruhnya mengganggarkan dana desa untuk membangun dermaga kecil atau tambatan perahu. “Gunanya nanti untuk penghubung kapal wisata, sesuai cerita rakyat atau kisah Bujang Sambilan,” ungkapnya kepada prokabar.com saat mengikuti rapat program terpadu di Kantor Nagari Sungai Batang, Jumat lalu (1/2).
“Jadi antara tambatan perahu dari satu nagari ke nagari lain, akan terhubung sehingga menjadi satu paket minat khusus,” lanjutnya.
Dari sektor pariwisata, jelas akan banyak menyerap tenaga manusia, terutama pemuda-pemudi yang menganggur saat ini. Berbagai bentuk wisata alam dan edukasi sangat cocok dikembangkan di Selingkar Danau Maninjau. Memiliki belasan air terjun nan indah, lahan perkebunan dan sawah, wisata adventur perbukitan, perahu sampan tradisional bahkan wisata olahraga paralayang sekaligus.
“Alhamdulillah, saat ini kita di seluruh OPD terkait diperintahkan Bapak Bupati Indra Catri, untuk fokus program Save Maninjau. Artinya, seluruh OPD wajib menganggarkan untuk penyelamatan Danau Maninjau. Untuk itu, kita di Tingkat Kecamatan sebagai ujung tombak kesuksesan program tersebut harus berdarah-darah menekankan kesadaran masyarakat,” terangnya.
Tanpa ada dukungan dan kesadaran masyatakat, perjuangan kita dari Pemerintah Kabupaten Agam akan menjadi sia-sia saja. “Makanya, kita harus penuh semangat mendorong dukungan semua pihak. Terus gencar mensukseskan dan mengembalikan kejayaan sektor pariwisata dan pertanian yang pernah ada di Kecamatan Tanjung Raya ini,” turut Handra Asmi.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Agam bersama Pemerintah Kecamatan juga terfokus pembenahan pariwisata Nagari Sungai Batang. Memanfaatkan banyak potensi seperti Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, Cagar Budaya Rumah Baca, Dermaga, Konservasi Penelitian LIPI. Di sana juga terdapat Komplek Masjid dan Makam Kakek Buya Hamka bernama Syekh Muhammad Amrullah dan Komplek Makam Syekh Abdul Karim Amrullah (Ayah Hamka) beserta Kutubchanah yang terdapat ratusan manuskrip.
“Jadi, untuk green desain wisata, kita akan memulai dari Pasar Sungai Batang. Mereka akan melalui jalur danau menaiki kapal untuk menuju ke Museum Buya Hamka. Wisatawan itu bersama busnya, harus berhenti di depan Kantor Kerapatan Adat Nagari. Dipandu pramuwisata mengikuti alur yang kita rancang,” imbuhnya.
Dari dermaga Pasar Sungai Batang, Mereka menuju Konservasi LIPI, menikmati keindahan eduwisata di sana. Setelah itu baru menuju tambatan perahu ke Museum. “Saat ini kita juga sedang membahas dengan pemilik lahan, untuk pengelolaan dilokasi pengembangan destinasi wisata Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Kita menata serius sehingga nilai edukasi, humanis, reliqius dan ekonomis dapat dirasakan semua pihak. Baik dari pengelola, masyarakat maupun pemilik lahan,” pungkas Camat Tanjung Raya tersebut. (rud)
















