Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Ini Catatan Lengkap Rekap Kasus BKSDA Resor Agam selama 2020

Dibaca : 100

Agam, Prokabar — Berbagai catatan kasus telah direkap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam. Selain kasus konflik satwa liar dengan manusia, juga ada kasus tindak pidana perdagangan hewan dilindungi serta pembalakan liar.

Ade Putra, Kepala BKSDA Resor Agam menyebutkan sepanjang tahun 2020, BKSDA mencatat terjadi sepuluh kejadian konflik antara manusia dan satwa liar.

Diantaranya itu mengakibatkan satu warga meninggal dunia dan satu orang terluka akibat diserang Buaya Muara. Selain itu, 12 ekor ternak berupa tiga ekor kerbau, satu ekor sapi dan delapan ekor kambing dimangsa Harimau Sumatera, Macan Dahan dan Beruang Madu.

“Meski demikian dibanding tahun 2019 lalu, kejadian konflik antara manusia dan satwa liar di tahun 2020 terjadi penurunan kasus yaitu sebanyak 11 kejadian,” terang Ade.

Selain itu tindak pidana yang ditindak oleh resor Agam bersama pihak terkait sebanyak 6 kasus. Terdiri pelaku yang memiliki atau memperdagangkan satwa dilindungi seperti Burung Rangkong, Kukang, bagian tubuh berupa sisik Trenggiling dan Burung Nuri serta Tiong Emas atau Beo. “Keenam kasus telah melalui proses pengadilan dan para pelaku telah menjalani vonis,” imbuhnya.

Untuk tindak pidana pembalakan liar di dalam kawasan Hutan Cagar Alam Maninjau tidak terdapat kasus. Namun beberapa kali hasil patroli tim BKSDA, hanya menemukan barang bukti berupa beberapa batang kayu olahan. Dan telah diamankan di kantor Resor KSDA Agam.

“Tidak ditemukannya kasus pembalakan liar diduga akibat meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian kawasan hutan terutama Cagar Alam untuk kehidupan,” Ungkap Kepala BKSDA Resor Agam tersebut.

Ade kembali mengungkapkan, untuk potensi keanekaragaman hayati, sepanjang tahun 2020 di wilayah kerja resor KSDA Agam tercatat 17 individu bunga Rafflesia mekar. dan 4 tumbuhan Bunga Bangkai dalam kondisi mekar ditemukan. Selain itu terpantau keberadaan satwa langka dan dilindungi berupa Beruang Madu, Kijang, Kukang, Harimau Sumatra, Macan Dahan, Kucing Hutan, Binturung, Trenggiling, berbagai jenis burung seperti Rangkong dan Kuau. “Tentunya ini menjadi kekayaan hayati kabupaten Agam yang perlu terus dijaga dan dilestarikan,” tuturnya.

Sementara itu penyerahan satwa dilindungi dari masyarakat sebanyak 14 ekor terdiri dari 7 ekor Baning Coklat, 4 ekor Kucing Kuwuk atau Kucing Hutan, 1 ekor Kukang, 1 ekor Binturung dan 1 ekor Burung Rangkong.

“Untuk pendataan satwa sepanjang 2020, kami juga telah mencatat sebanyak 36 orang warga telah melaporkan dan melakukan pendataan satwa burung peliharaannya ke Resor KSDA Agam. Satwa burung itu didaftarkan ke pada kami secara kolektif dan perorangan. Khusus pendaftaran secara kolektif, petugas BKSDA setempat mendatangi ke lokasi pecinta burung,” ungkap Ade.

Lebih lanjut, dan untuk warga yang telah melaporkan diberikan surat tanda pelaporan. Dalam surat itu juga dicantumkan kewajiban pemilik untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-udangan yang berlaku. Memelihara kesehatan, kenyamanan serta keamanan tumbuhan. Satwa liar yang dipelihara pemilik bersedia untuk dilakukan pengawasan oleh BKSDA.

Sebelumnya pada 2018, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH) mengeluarkan Peraturan Menteri LKH Nomor P.20/2018 terakhir diubah dengan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/2018 tentang daftar tumbuhan dan satwa dilindungi. Dalam peraturan tersebut beberapa jenis satwa terutama burung yang sebelumnya tidak masuk daftar dilindungi menjadi dilindungi seperti, burung Tiong Emas atau Beo, Burung Cica Daun atau Murai Daun dan lainnya.

“Kami berharap untuk antisipasi terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar, warga masyarakat ikut melakukan mitigasi atau pencegahan. Dengan mengamankan ternaknya di kandang, meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di kebun dan di dalam air. Selain itu juga tidak melakukan aktivitas di dalam sungai atau perairan di malam hari,” himbaunya.

Untuk satwa dilindungi, peran serta masyarakat dalam mendukung kelestarian berupa melaporkan dan menyerahkan kepemilikan satwa kepada BKSDA dan tidak melakukan perburuan satwa dilindungi.

“Kedepannya, kami akan semakin meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak termasuk masyarakat dalam menjalankan tugas dan peran konservasi sumber daya alam di wilayah kerja Resor KSDA Agam,” Tutup Ade Putra, Kepala BKSDA Resor Agam. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top