Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Ini Bukan Lebaran Biasa

Dibaca : 728

Oleh : Dr. Abdullah Khusairi, MA,

Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang

Hari Raya Idul Fitri 1441 H bukanlah lebaran biasa. Ini lebaran yang berat untuk dirayakan. Situasi demikian sulit untuk kita pahami dan oleh anak-anak kita. Mereka harus bahagia tetapi lebaran kali ini harus dilaksanakan dengan sederhana saja. Tidak ada jalan-jalan, tidak ada salam tempel, tidak ada bertamu ke rumah sanak saudara.

Tetapi lebaran ini akan berlalu juga. Seberat apapun akan dilewati saja. Mungkin meriahnya sedikit berkurang. Tidak ada panjat pinang, permainan anak dan juga hiburan untuk berkumpul dalam skala yang besar. Tempat wisata ditutup, tak tentu entah seperti apa nantinya.

Lebaran adalah hari kemenangan setelah satu bulan beribadah puasa melawan hawa nafsu, ditutup dengan zakat fitrah. Pada 1 Syawal 1441 H, diharapkan jiwa-jiwa bersih yang saling memaafkan satu sama lain, dengan ucapan minal aidin wal faidzin.

Kita Belum Menang

Hari kemenangan segera tiba tetapi kita belum menang. Masih ada lagi satu perjuangan yang belum usai. Kita harus tetap waspada, di rumah saja, karena ada wabah Covid-19. Pemerintah sudah sulit meminta, menganjur, mengimbau, tetapi masih ada saja yang tak peduli. Angka-angka korban terpapar Covid-19 terus bertambah. Wabah ini menular di kerumunan tetapi begitu sulit melarang orang berkerumun. Apalagi dalam suasana lebaran.

Kita ternyata belum menang melawan hawa nafsu, nafsu berkerumun. Nafsu hendak mudik, melihat dan merasakan dunia kecil di kampung halaman. Mencium bau tanah belakang rumah dan aroma dapur emak. Pemerintah terlanjur untuk menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sementara kemauan tradisi sulit dihentikan. PSBB menjadi ada seperti tiada (wujuduhu ka adamihi). Wibawa pemerintah sedang diuji atas kebijakan ini. Lalu pemerintah sendiri yang membuat wacana melonggarkan PSBB, di tengah kecamuk kegalauan publik. Kemudian, ada pula yang meminta agar PSBB diperketat. Pro kontra tetapi pemudik dari luar kota masuk juga.

Memilih untuk tidak mudik adalah bijak. Mengikuti anjuran pemerintah dan juga Hadits, “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Tetapi pro kontra tetap terjadi, sebab suasana batin orang per orang berbeda-beda. Ada yang sangat takut, cukup takut, sedikit takut. Ada yang sangat berani, cukup berani, sedikit berani. Jika mematuhi ajaran agama, salah satunya adalah hadist itu. Hadits di atas menyatakan agar jangan keluar masuk negeri yang sedang kena wabah. Sayangnya, tradisi pulang ke kampung halaman sudah terjadi menahun. Mereka masih yakin akan baik-baik saja dan tak terjangkit oleh wabah menular bernama Covid-19. Apalagi dengan alasan-alasan yang terus diperkuat dan harus masuk akal, maka kerumunan, pulang kampung, merupakan desakan tak terhindarkan, sekalipun dibentengi apapun di perbatasan. Percuma.

Ini lebaran yang tak biasa. Harus kembali kepada nurani masing-masing, mengajak keluarga kecil untuk memahami tentang “suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia.” Setiap orang mendapatkan peringatan dengan kehadiran Covid-19, seperti rambu-rambu jalanan yang mengingatkan. Jika dilanggar, jangan marah bila mendapatkan dampaknya. Peringatan berarti membutuhkan perhatian jangan sampai abai.

Abaikah mereka yang hendak berkerumun merayakan hari kemenangan? Terlalu banyak yang abai, padahal protokol kesehatan Covid-19 mengharuskan pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, dst. Lihatlah nafsu belanja lebaran di pasar-pasar yang tak lagi terbendung PSBB. Mereka seperti biasa, belanja beli baju, beli kue lebaran, agar lebaran seperti biasa. Sementara, lebaran kali ini tak mungkin seperti biasa. Ada sebagian yang lain begitu awas karena mengerti atas peringatan dan ancaman dari sebuah wabah.

Agaknya ujian kesabaran, ujian melawan hawa nafsu yang saban tahun tiba, kurang berat dijalani atau sudah terlalu biasa. Manusia generasi ini memang belum merasakan wabah yang senyatanya datang secara periodik persatu abad. Kehadiran wabah ini membuat kita membaca sejarah, sebagai cermin kehidupan di masa mendatang. Wabah akan selalu ada di dunia, kini giliran kita sedang menghadapinya. Seperti menghadapi kedatangan hujan dan panas, begitu pula kini kehadiran wabah itu. Tak perlu takut dan cemas tetapi tetaplah waspada.

Kini muncul tagar #IndonesiaTerserah, semacam kekecewaan dari dunia kesehatan. Perkiraan ledakan korban terjangkit wabah Covid-19 pascalebaran nanti tak tertampung rumah sakit. Sudah ada rumah sakit di Banjarmasin tutup karena penuh. Inilah yang paling ditakutkan para pemerintah dan tenaga medis. Itu pula yang tak dimengerti oleh sebagian orang yang tak takut, abai, serta sepele dengan wabah ini.

Selain muncul tagar di atas, juga lahir optimisme agar kita memulai kelaziman baru dalam kehidupan sehari-hari (new normal life). Terbiasa dengan protokol kesehatan, yang selama ini bisa jadi telah diabaikan. Kali ini tidak boleh lagi, harus ketat dan disiplin. Ini juga sebenarnya anjuran agama, hidup bersih, suci, halal, dst. Kelaziman ini bisa jadi jalan keluar dari ketakutan yang berlebihan, selain terus belajar tentang wabah ini agar tidak abai lagi.

Terakhir, kita tetap lebaran. Merayakan hari kemenangan. Tetapi ini lebaran yang tidak biasa. Tak perlu berlebihan. Jagalah diri, keluarga kita. Sebagaimana diperingatkan, Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka.(QS. At-Tahrim ayat 6). Tak hanya dari api nereka, tetapi di dunia. Jaga dari kehidupan yang buruk, termasuk terjangkit wabah Covid-19. Minal aidin wal faizin. Lebaranlah dengan sederhana. (*)

 


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top