Oleh : Silvinia Hikma Rehan, Mahasiswa S1 Farmasi, Universitas Perintis Indonesia.
Padang, Prokabar – Kita tahu bahwa narkoba, psikotropik dan zat adiktif menjadi trend yang sudah lama menguasai kaum manusia, baik itu remaja, orang dewasa ataupun lansia sudah dikuasai oleh bahan terlarang ini.
Berdasarkan pertemuan BNN dari 100% transaksi narkotik di ASEAN, 40 persen berada di Indonesia, sungguh miris.
Banyak oknum yang merasa tak bersalah demi mencukupi kebutuhan ekonomi serta lemahnya iman di dada, mereka siap dan gentar untuk memperjualbelikan barang barang haram ini yang efeknya dapat diwaspadai jika disalahgunakan.
Contoh dari narkotika berupa Codein, LSD, morfin, kokain dan ganja. Sedangkan contoh dari psikotropika berupa diazepam, ekstasi, nitrazepam, sementara contoh dari zat adiktif berupa alcohol, coffein, dan nikotin.
Artikel ini akan menjelaskan tentang bahaya nikotin yang ada pada rokok dengan brand yang bermacam resiko mengancam pemakainya.
Mungkin pada saat ini merokok merupakan hal yang biasa, bisa dibilang sudah jadi kebiasaan umum. Pemakainya pun beragam mulai dari anak anak, remaja, orang tua, maupun lansia sudah terikat akan efek candunya.
Tahukah kita? Nikotin dapat menyebabkan peradangan pada paru-paru, merasa cemas jika tidak mendapatkan nikotin, stroke, Impotensi maupun kanker, karena rokok mengandung 60 zat kimia penyebab kanker serta zat berbahaya lainnya.
Yang mirisnya padahal sudah terpampang nyata pada kemasan, efek yang dapat ditimbulkan. Tapi nyatanya mereka dengan santai masih menghisap, menghirup bahkan menghembuskan asapnya di depan khalayak ramai.
Nikotin memberikan rasa puas terhadap pemakainya, nikotin akan meningkatkan pelepasan dopamin, zat kimia yang berfungsi membantu memperbaiki suasana hati dan menimbulkan rasa puas, dan nikotin merupakan zat adiktif yang kuat sehingga para pemakainya tidak jauh dari kata CANDU.
Jika sudah mengenal nikotin dengan efek candu, maka itu sudah membuka pintu gerbang untuk mengenali alcohol bahkan sampai merangkak ke narkoba contohnya ganja. Karena berawal dari rokok maka kenal lah dengan narkoba. Maka sebagai orang tua jangan lengah, karena guru menjadi orang pertama yang mereka kenali untuk sebagai contoh teladan.
Kepada remaja yang belum mencoba berbanggalah karena tidak bersentuhan dengan nikotin, untuk yang sudah menetap dengan candunya jangan bangga dan jangan merasa keren, karena tahukah kita? Mereka yang merokok sudah melakukan kerugian yang fatal. Rugi finansial, rugi akan kesehatan orang tua dan sekitar, dan rugi akan diri sendiri.
Maka dari itu untuk para pecandu yang ingin berhenti merokok, bisa melakukan beberapa metode. Pertama, niat yang sungguh-sungguh dari hati untuk berhenti. Kedua, lakukan konseling dengan dokter dan motivasi kepada pecandu. Ketiga, terapi pengganti nikotin seperti bisa mengunyah permen karet. Keempat, mengkonsumsi obat obatan untuk pecandu nikotin seperti bupropion dan verenicline. Kelima, terapi lain seperti akupuntur, hypnosis, serta mengkonsumsi obat herbal.
Dilansir dari alodokter sekitar 90% pecandu rokok yang mencoba berhenti hanya 5-7% yang benar-benar bisa berhenti. Tapi ingatlah tidak ada yang tidak mungkin jika kita mempunya niat dan melakukan usaha yang ekstra.
Bagaimana menurut kita bersama? Nikotin tak hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga masa depan dan orang disekitar kita.
Jangan sampai nikotin mengalahkan kasih sayang kita kepada orang tua dan orang sekitar kita, maka mulai dari sekarang stop penggunaan nikotin untuk masa depan yang lebih baik. Karena kita adalah aset bangsa yang harus dijaga dari sedini mungkin untuk mempersiapkan nasib bangsa kita kedepannya.
Tidak hanya bangsa, ada orang tua yang harus kita ukir senyumnya dan tanggung jawab kita untuk kebanggan mereka akan prestasi yang kita capai. Jangan sampai bangsa lain memperolok kita sebagai penerus yang tak becus, karena tiap-tiap dari kita adalah harapan yang besar dimiliki bangsa ini.
Stop nikotin sekarang, esok dan selamanya. (**)
















