Pasaman, Prokabar — Pemilihan umum (Pemilu) 2019 baru saja berlalu. Namun, di balik suksesnya pesta demokrasi itu, masih ada segelintir masalah yang mesti diperbaiki. Salah satunya pentingnya edukasi dan perhatian lebih kepada Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).
“Kita harus sepakat, titik kesuksesan Pemilu itu adalah di tangan KPPS. Sangat disayangkan, sistem yang ada membuat KPPS tidak terlalu diperhatikan. Malahan, salah sedikit atas kesalahan yang seharusnya bukan salahnya KPPS, meradangnya minta ampun. Penuh takanan dari semua pihak. Ini sangat memprihatinkan,” kata salah satu Komisioner KPU Pasaman, Juli Yusran dalam evaluasi Pemilu 2019 untuk menyonsong Pilkada 2020.
Diakui Juli Yusran, pihaknya telah mencatat sekelumit permasalahan sistem yang harus diperbaiki untuk memunjang kinerja KPPS dan membuat para anggota KPPS lebih santai namun pasti dalam menjalankan tugasnya.
“Salah satunya ialah masalah bimbingan teknis. Kami KPU bakal fokus, bagaimana bimbingan teknis ini satu suara masalah aturan pemungutan suara dari PPK, PPS hingga KPPS. Tidak itu saja, kami juga mencatat hal yang perlu dibenahi ialah penyederhanaan atau perampingan tugas KPPS. Contohnya, pembersihan APK radius 200 meter dari TPS, sebelumnya adalah tugasnya KPPS. Kita ingin ini tidak jadi tugas KPPS lagi,” kata Juli Yusran.
Tidak itu saja, perihal honor petigas KPPS, dipastikan Juli Yusran, dibanding Pemilu 2019, dalam Pilkada 2020 nanti, honor KPPS naik dua kali lipat. Sekitar 800 ribu per orang, untuk satu hari proses pemungutan suara hingga selesai penghitungan.
Diakui Juli Yusran, catatan-catatan sekelumit dari hasil evaluasi Pemilu 2019 ini, bakal mereka rangkum dalam jurnal ilmiah untuk menjadi acuan atau masukan lebih lanjut terhadap pemangku keputusan, salah satunya untuk KPU sendiri. (Ola)
















