Inggris, Antara Football is Coming Home dan “Hutang” Gareth Southgate

Penulis -

Minggu, 4 Juli 2021 - 16:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolom Sepakbola: Rizal Marajo

KETIKA  Inggris menjadi tuan rumah Euro 1996, mereka mengusung tagline yang penuh makna; “Football is coming home”. Bisa diartikan “Sepakbola pulang ke rumah.

Inggris meyakini permainan 11 lawan 11 di lapangan rumput seukuran 110 x 60 meter itu, tanah kelahirannya adalah di Inggris. Untuk beberpa hal, klaim tersebut cukup punya argumen.

Melalui Dewan Asosiasi Sepakbola Internasional (IFAB) yang berdiri tahun 1904, Inggris adalah tempat di mana aturan sepakbola dirancang. Kemudian. Inggris juga punya kompetisi sepakbola tertua di dunia yakni Piala FA yang dimulai tahun sejak 1871.

Walau mengaku sebagai tanah kelahiran sepakbola, Inggris sepanjang sejarahnya baru memenangkan satu gelar turnamen besar, yaitu juara Piala Dunia 1966, saat mereka menjadi tuan rumah.

Sampai detik ini, sudah 55 tahun lamanya, Inggris tak kunjung mampu menambah gelar juara mereka, baik di Piala Dunia, maupun Piala Eropa atau euro. Sebuah ironi yang telak untuk negara yang mengklaim sebagai penemu sepakbola dan menepuk dada sebagai negara dengan kompetisi sepakbola terbaik di dunia.

Moment menjadi tuan rumah Euro 1996, benar-benar diharapkan Inggris menjadi sebuah kesempatan terbaik untuk menjadi juara lagi. Maka diusunglah Tema heroik fottball is coming home atau sepakbola pulang ke rumah.

Tapi apa yang terjadi? Timnas Inggris yang diperkuat bintang-bintang kelas satu seperti Alan shearer, Teddy sheringham, David Platt, Stuart Pearce, Paul Ince, Paul Gascoigne, dan lain-lainhya, hanya bertahan sampai semifinal.

Di stadion keramat Timnas Inggris, Stadion Wembley London, Jerman menjegal mimpi Inggris untuk memulangkan sepakbola ke tanah kelahirannya. Bermain 1-1 di waktu reguler dan extra time, Inggris menyerah lewat adu penalti 5-6.

Pria yang dituding menjadi penyebab kegagalan Inggris, adalah penendang penalti keenam Inggris yang gagal menaklukan kiper Jerman, Andrea Koepke. Pria “pendosa” itu adalah Gareth Southgate!

Sekarang lelaki itu menjadi pelatih Timnas Inggris di Euro 2021. Sejauh ini dia sudah membawa timnya ke semifinal, dan akan menghadapi Denmark di semifinal, tiga hari ke depan.

Kini, frasa “football is coming home” kembali menggema di Inggris setelah “The Three Lions” sudah sampai di semifinal dengan cara yang sangat meyakinkan.

Tidak terkalahkan di lima pertandingan sejak fase grup sampai perempatfinal, dan satu-satunya tim yang gawangnya belum terjamah gol lawan, membuat publik Inggris semakin lantang menyuarakan football is coming home.

25 tahun lalu mereka gagal total dengan jargon heroik itu. Di rumah sendiri jargon itu hancur lebur. Tapi mereka tak patah arang, bahkan menjadikannya jargon abadi Timnas Inggris di setiap turnamen besar.

Sayangnya, jargon itu tetap terasa hambar dan kehilangan makna, karena Inggris tetap jadi pecundang di Piala Dunia dan Euro pasca 1996 itu. Jangankan juara, menyentuh final saja belum pernah.

Dua tahun lalu sempat menggema keras, tatkala Inggris maju ke semifinal Piala Dunia 2018 di Rusia. Tapi sepakbola tetap tak akan pernah benar-benar pulang ke rumahnya, sampai Inggris mengangkat Piala di turnamen besar.

Hebatnya Inggris, walaupun diterpa kegagalan demi kegagalan, tapi mewujudkan Football is coming home itu benar-benar menjadi sebuah obsesi terbesar Timnas Inggris sampai saat ini.

Sampai-sampai grup musik The Lighting Seeds dan dua presenter sekaligus penggemar sepakbola, David Baddiel dan Frank Skinner, menciptakan lagu yang kemudian jadi anthem untuk timnas Inggris, berjudul Three Lions, Football’s Coming Home.

Akankah euro 2021 ini akan menjadi akhir penantian panjang Inggris untuk mewujudkan sepakbola pulang ke rumah?

Sorotan kini diarahkan kepada Gareth Southgate, sang pelatih Timnas Inggris sekarang. Tahun 1996, kegagalan penaltinya menyebabkan dia menjadi orang paling bertanggungjawab atas kegagalan Inggris saat itu.

Kini Southgate mencoba membayar hutang kegagalan penaltinya tahun 1996. Dengan performa timnya yang semakin mengkilat dan meyakinkan, ditambah laga semifinal dan final digelar di Stadion Wembley, Inggris spertinya akan berhasil kali ini.

Jerman, yang selalu menjadi momok menakutkan selama 55 tahun, sudah dikalahkan Southgate bersama anak buahnya. Kini tinggal Denmark yang harus dituntaskan di semifinal, dan pemenang antara Italia vs Spanyol yang mesti dihabisi di final.

Bagaimana. Mr. Southgate?

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jerman Umumkan Skuad Final Piala Dunia 2026: Neuer Kembali, Musiala dan Wirtz Jadi Andalan
Dijagokan Kandidat Juara Piala Dunia 2026, Ini Skuad Timnas Portugal
Pertama Kali Masuk Piala Dunia, Ini Skuad Cape Verde Bertarung di Grup Neraka
Brasil Resmi Rilis Skuad Piala Dunia 2026, Neymar Kembali, Joao Pedro Dicoret
Agama yang Membebaskan atau Masyarakat yang Menindas?
PSP Tergabung Dalam Grup H Putaran Nasional Liga 4, Bertanding Di Mandala Krida Yogyakarta
Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Menguat di Awal 2026
PTS Terjepit, LLDIKTI Jangan Diam: Saat Jalur Mandiri Membesar, Keadilan Pendidikan Dipertanyakan

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 21:52 WIB

Jerman Umumkan Skuad Final Piala Dunia 2026: Neuer Kembali, Musiala dan Wirtz Jadi Andalan

Rabu, 20 Mei 2026 - 23:13 WIB

Dijagokan Kandidat Juara Piala Dunia 2026, Ini Skuad Timnas Portugal

Rabu, 20 Mei 2026 - 16:36 WIB

Pertama Kali Masuk Piala Dunia, Ini Skuad Cape Verde Bertarung di Grup Neraka

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:22 WIB

Brasil Resmi Rilis Skuad Piala Dunia 2026, Neymar Kembali, Joao Pedro Dicoret

Kamis, 14 Mei 2026 - 22:42 WIB

Agama yang Membebaskan atau Masyarakat yang Menindas?

Berita Terbaru