Lubuk Basung, Prokabar – Persoalan ogen tunggal yang senonok menelanjangi adat dan budaya Minang, masih menjadi momok di Ranah Minang. Hal tersebut menjadi tanggungjawab semua pihak, agar persoalan tersebut segera teratasi. Pernyataan tersebut disampaiakan Bupati Agam, Indra Catri saat membuka peresmian gedung baru Walinagari Lubuk Basung beberapa waktu lalu. Ia berharap, pemerintahan nagari yang dipimpin walinagari di seluruh Kabupaten Agam, harus kompak dan merangkul semua komponen masyarakat. Terutama menggerakan peranan Ninik Mamak, Alim Ulama, Bundo Kanduang beserta Bamus, Wali Jorong dan pemuda-pemudi.
“Kantor ini tempat berkumpulah, tempat bermusyawarah. Tugas pemerintahan nagari itu kan tidak banyak, kerja-kerja pemerintahan hanya perbantuan. Yang banyak kerjanya adalah menganyam masyarakat, menyusun masyarakat, melindungi masyarakat, agar tidak terkena wabah penyakit, agar tidak terkontaminasi kenakalan remaja, agar tidak bertengkar, agar tidak ada konflik. Itulah gunanya pemerintahan nagari, makanya harus banyak melakukan pertemuan!,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Dirinya menilai peranan Ninik harus lebih banyak lagi, melakukan musyawarah bersama pemerintahan nagari beserta seluruh anak kemenakannya, mengatasi segala persoalan sosial yang terjadi. Makanya, ninik mamak harus kompak dan bersatu dalam pemanfaatan Balai Nagari.
Sementara itu, Walinagari Lubuk Basung, Darma Ira Putra sejauh ini anggaran untuk pemberdayaan ninik mamak masih sebatas pelatihan maupun kegiatan berupa non fisik. Untuk 2019 dan 2020 nanti, akan diperbanyak kegiatan musyawarah sesuai arahan Bupati Agam. Sejauh ini, pemerintahan nagari dengan ninik mamak melalui Kerapatan Adat Nagari cukup baik.
Dengan adanya kantor baru sekaligus gedung pertemuan atau balai adat ini, diharapkan komunikasi dan kerjasama akan semakin dipererat. Terutama dalam pembentukan peraturan nagari, seperti pelarangan orgen tunggal serta persoalan kenakalan remaja atau penyakit masyarakat lainnya.
“Kehadiran dan keikutan sertaan ninik mamak kali ini, sangat lebih baik. Tradisi Bajamba mulai kembali lestari, yang sebelumnya sempat memudar. Kita akan lebih mengoptimalkan gedung ini untuk pertemuan dan musyawarah mufakat, sehingga tatanan sosial masyarakat di Lubuk Basung, semakin Islami dan beradab,” pungkasnya. (rud)
















