Daerah

Indahnya Puncak Gaduang Bukik Bunian Panjang Tujuah

Agam, Prokabar — “Bukik Bunian Panjang Tujuah, Lalu dilipek Panjang Limo. Bukan tanaman sagan tumbuah, Bumi nan indak suko manarimo”. Begitulah bunyi dendang dan pituah orang tua terdahulu terhadap Puncak Gaduang Bukit Bunian, Jorong IV Surabayo, Nagari Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Syofrial Sutan Alam Syah (56) selaku Ninik Mamak setempat mengatakan lokasi tersebut dahulunya memang sudah terkenal keindahan panaromanya. Masyarakat memang sudah biasa menikmati bentangan alam Lubuk Basung itu. 

Merupakan bukit tertinggi dari tujuh bukit bunian di daerah tersebut. Namun sempat ditutup karena sering disalahgunakan untuk berbuat mesum oleh anak muda-mudi.

Sementara itu, Gusriwendi (38) pemuda Lapau Konsi menjelaskan ide pembukaan objek wisata Puncak Gaduang dirintis 4 orang pemuda. Yakni Hengki (25), Andi (25), Ikhsan (18) dan Inyiak (18) pada 3 bulan lalu. 15 hari goro dan tidak lama kemudian, pemuda lainnya akhirnya turut serta mendukung dan ikut membangun akses.

Setelah memulai dengan semangat kekompakan kepemudaan, mereka pun meminta petunjuk kepada orang tua di sana.”Kami akhirnya mendapat respon positif dari kalangan tua. Mulai dari persoalan tanah, regulasi hingga tata hias dan pengelolaan,” tuturnya.

Melihat semangat pemuda lanjutnya, para orang tua kami ikut bersemangat membantu. Kekompakan pemuda membuat ninik mamak bangga dan senang. Hal tersebut mendapat kesempatan bagi orang tua kampung mendorong inovasi dan kreatif pemuda dan pemudi.

“Pemerintah Kabupaten Agam, Camat dan Walinagari juga sudah mulai melirik kebersaman kami. Mereka membantu kami berupa bibit Batang Pinang dan Kelapa sebagai langkah awal respon positif mereka,” Terang Syahrul (50) salah satu Tokoh Masyatakat setempat.

Untuk sementara lanjut Syahrul, tidak ada pungutan bagi pengunjung. Kecuali sumbangan sukarela atau parkir yang tidak ada penetapan jumlah nilai. Pengunjung sabtu dan minggu mencapai 400 ribu orang. Di hari biasa mencapai 50 orang.

“Uang yang terkumpul dari sumbangan sukarela, kami gunakan untuk membuat tangga dan hiasan,” terang Bapak berjambang putih tersebut. 

Pos pemuda juga dibuat sebagai tempat pos kantibmas setempat. “Kami berharap objek wisata ini bisa menasional, sehingga meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan kami. Tanpa dukungan semua pihak, harapan tersebut akan sulit terwujudkan,” tutupnya. (rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top