Oleh
Reido Deskumar
Putra Tanjung Raya Maninjau
Sebentar lagi, hitungan hari bulan Ramadhan akan segera berakhir. Bulan yang penuh keberkahan, terdapat lipatan derajat pahala bisa didapati, ampunan bisa raih akan berganti dengan bulan kemenangan.
Sebulan penuh sudah perpuasa, mengelola diri dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas ibadah. Mulai dari sahur, sampai berbuka puasa. Dilanjutkan ibadah-ibadah malam, agar jiwa-jiwa kokoh dalam menjaga keistiqomahan kepada Allah SWT.
Beruntunglah orang-orang yang senantiasa menempa diri, selama bulan Ramadhan. Ibadah dilakukan dengan maksimal, berlipat ganda pahala di dapat. Semoga Ramadhan yang dijalani menjadikan diri sebagai hamba yang bertaqwa dikemudian hari.
Ramadhan berlalu, Idul Fitri 1444 H, hari kemenangan umat sudah di depan mata. Setiap insan, bersuka cita menyambutnya. Lantunan kalimat takbir, tahlil dan tahmid berkumandang disetiap penjuru langit. Sahut menyahut dari satu nagari ke nagari lainnya.
Di hari nan fitri ini, mengalir sebuah kerinduan. Rindu akan rumah. Rindu akan sanak keluarga serta karib kerabat. Jiwa-jiwa yang masih di perantauan terpanggil untuk pulang melihat tepian kampung halaman.
Beruntunglah setiap hamba di hari nan fitri, bisa bertemu dengan sanak keluarga. Berjabatan tangan, saling silaturahim. Terjaga sudah spirit persaudaraan disetiap insan.
Idul Fitri disambut gegap gempita. Potensi-potensi nagari dikelola. Beragam kekhasan nagari disiapkan, sebagai wujud suka cita menyambut kemenangan umat.
Begitu juga halnya di beberapa nagari di Salinga Danau Maninjau. Ada sebuah tradisi dalam rangka menyambut Idul Fitri yang sampai saat sekarang masih terjaga kelestariaannya.
Rakik-rakik. Begitulah masyarakat Salingka Danau Maninjau menyebutnya. Berasal dari kata rakit. Sebuah alat yang digunakan untuk alat penyeberang sungai terbuat dari bambu.
Rakik-rakik juga begitu terdiri dengan bahan utama bambu. Diapungkan dengan menggabungkan beberapa sampan kecil yang lebih familiar di masyarakat Maninjau dengan sebutan biduak. Kalau saat ini cukup praktis, Rakik-Rakik bisa diapungkan dengan menggunakan drum. Kemudian Rakik-Rakik didisain membentuk meniatur bangunan. Seperti masjid, rumah gadang dan hiasan-hiasan lainnya
Rakik-Rakik yang sudah menyerupai bangunan, kemudian dihiasi dengan lampu obor disetiap sisi dan sudut bangunanya. Tak jauh seperti lampu lampion kecil. Kelap kelip lampu inilah yang membuat hiasan Rakik-Rakik begitu indah, memikat mata yang melihatnya.
Komponen pendukung juga disiapkan. Seperti meriam bambu dengan sebutan anak nagari badia-badia batuang. Jika dibunyikan dentumannya akan terasa sampai ke jantung.
Setelah semua persiapan Rakik-Rakik terpenuhi, saat malam takbiran Idul Fitri Rakik-Rakik di arak dari pinggir danau sampai ke tengah. Sembari melantunkan takbir, tahlil dan tahmid.
*Rakik-Rakik Budaya Lokal Potensial Dikenal Dunia*
Bicara tentang Rakik-Rakik, ada keunikan yang dimilikinya. Selain sebagai budaya lokal Danau Maninjau, kegiatan Rakik-Rakik bersifat temporari. Hanya bisa dinikmati dan disaksikan di saat Idul Fitri. Terutama malam takbiran dilanjutkan beberapa hari setelahnya.
Biasanya malam takbiran, masyarakat melakukan pawai obor, menggunakan kendaraan menyusuri jalan-jalan, akan tetapi Rakik-Rakik begitu unik dan khas. Hiasan bangunannya yang menakjubkan, pawai dilakukan di atas air. Bukan hanya satu rakik yang dibuat, melainkan ada beberapa yang berasal dari jorong dan kenagarian yang berbeda. Nantinya akan bertemu dalam satu lokasi . Sumaraknya begitu terasa.
Tidak semua daerah punya tradisi penyambutan Idul Fitri dengan Rakik-Rakik. Maka ini merupakan potensi yang harus dikelola bersama. Sehingga Rakik-Rakik bukan hanya sebatas suguhan acara untuk masyarakat Maninjau, perantau Maninjau akan tetapi bisa dikenal masyarakat luas bahkan dunia.
Tradisi anak nagari ini, harus naik kelas. Menjadi rujukan untuk dikunjungi dan disaksikan kegiatanya. Jika orang datang ke Indonesia, bahkan ke Sumatera Barat, ada yang belum lengkap, jika belum datang dan menyaksikan Rakik-Rakik di Danau Maninjau.
Sebagai anak nagari yang besar dan tumbuh di Maninjau, penulis sangat optimis mimpi dan cita-cita mulia ini bisa terwujud. Bagaimana Rakik-Rakik bisa menjadi ikon Maninjau yang sangat populer dimata dunia.
Keoptimisan penulis, bukan tidak berlandasan.
Melihat potensi Maninjau dan juga kecenderungan orang yang saat ini lebih tertarik dengan budaya dan kearifan lokal suatu daerah. Maka pontesi Rakik-Rakik ini bisa lebih memliki nilai jual untuk dilirik dari luar.
Kuncinya sederhana saja. Semua sektor harus terlibat, semua elemen masyarakat dan stokholder pemerintah juga harus ambil bagian.
Misalkan kegiatan Rakik-Rakik ini dimasukan pada “Calander of Event” kegiatan tahunan Masyarakat Nagari Salingak Danau bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Agam. Sehingga menjadi agenda resmi yang anggarannya dialokasikan oleh pemerintah daerah. Tentu secara otomatis Rakik-Rakik akan ada setiap tahunnya.
Tinggal lagi bagaimana membuat jaringan dan promosi secara besar-besaran sehingga Rakik-Rakik dikenal dunia. Dan orang menanti-menanti kegiatanyya.
*Rakik-Rakik Penguat Ekonomi Masyarakat Salingka Danau*
Jika orang sudah ramai datang ke Danau Maninjau, menyaksilan Rakik-Rakik maka akan tercipa peluang terkait penguatan ekonomi masyarakat.
Tak terbayang, orang datang ke Maninjau dari berbagai penjuri negeri hanya untuk menyaksikan Rakik-Rakik. Secara otomatis mereka butuh makan, mereka butuh penginapan dan mereka butuh kendaraan.
Maka muncullah masyarakat yang nantinya menjadi produsen menyuplai pemenuhan kebutuhan konsumen yang datang.
Biasanya para pengunjung tidak akan menghabiskan waktunya secara singkat
Ada potensi mereka berhari-hari sampai acara Rakik-Rakik selesai. Tentu kebutuhan harus disiapkan dalam beberapa hari kedepan.
Semakin banyak pengunjung yang datang, semakin banyak permintaan, dan semakin banyak pula pelaku-pelaku ekonomi yang muncul dalam rangka memenuhi kebutuhan pengunjung.
Potensi itu sudah kelihatan. Tinggal bagaimana kita masyarakat Salinga Danau Maninjau, saling menguatkan dan menyiapkan diri untuk berkolaborasi dengan semua pihak terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Agam untuk menjadikan Rakik-Rakik masuk dalam agenda kunjungan tahunan yang ada di daerah.
Semoga cita-cita yang mulia ini bisa terwujud. Sehingga Rakik-Rakik menjadi kearifan lokal yang bisa dikenal oleh banyak orang bahkan di mancanegara. Dan berdampak baik dalam peningkatan perekonomian masyarakat di Salingka Danau Maninjau.
















