Horor Sevilla 1982: Cederai Battiston Hingga Koma, Schumacher Disebut Penjahat Sepakbola dan Lebih Jahat dari Adolf Hitler

Penulis -

Kamis, 10 November 2022 - 13:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detik-detik Toni Schumacher menerjang Patrick Battiston hingga koma tahun 1982 (reuters)

Detik-detik Toni Schumacher menerjang Patrick Battiston hingga koma tahun 1982 (reuters)

Padang, prokabar – Satu peristiwa paling horor dalam sejarah, yang selalu dikenang dalam setiap penyelenggaraan Piala Dunia, adalah tragedi Sevilla di Piala Dunia 1982. Spanyol. Tepatnya 8 Juli 1982, adalah hari yang tak terlupakan, terutama bagi rakyat Prancis.

Kiper Jerman, Harald Schumacher dan Patrick Battiston bek Prancis jadi dua aktor utamanya. Keduanya tidak akan bisa melupakan tabrakan yang membuat nama terakhir terluka parah dan koma. Sedangkan nama yang pertama, selamanya menjadi salah satu penjahat dalam sejarah dunia sepakbola.

Battiston, yang menjadi pemain pengganti Prancis, berada di lapangan dalam hitungan menit, dan setelah itu terjadilah tabrakan maut itu. Hasilnya dua giginya langsung patah, tiga tulang rusuk patah dan cedera pada tulang belakang ketika dia dihantam oleh tendangan liar kiper Jerman itu.

Kurang ajarnya setelah perbuatan itu, Schumacher tampaknya tak peduli dengan kondisi Batiston yang mendapat perawatan. Sikapnya ini membuatnya banyak dikecam.

Bagi sebagian orang Prancis, jika ada orang Jerman yang menurut mereka lebih pantas untuk dibenci dibanding Adolf Hitler, tentunya dia adalah Harald ‘Toni’ Schumacher itu.

‘Kemenangan’ Schumacher atas Hitler itu jelas berlebihan. Biar bagaimana pun, Hitler adalah salah satu monster paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia. Namun, jikalau orang-orang Prancis lebih membenci Schumacher, itu pun bisa dimaklumi karena apa yang dilakukannya di Sevilla pada 8 Juli 1982 juga pantas masuk kategori mengerikan.

Cuaca musim panas di Sevilla benar-benar jahanam hari itu, seakan menjadi pertanda bahwa Estadio Ramon Sanchez Pizjuan bakal menggelar sebuah laga panas yang mempertemukan dua generasi emas. Prancis bertemu Jerman Barat dalam laga semifinal Piala Dunia 1982.

Daftar susunan pemain diisi nama-nama besar. Dari kubu Jerman, selain Schumacher, ada nama Paul Breitner, Hans-Peter Briegel, Felix Magath, dan Pierre Littbarski. Prancis, sementara itu, memainkan Marius Tresor, Jean Tigana, Alain Giresse, dan Michel Platini. Dari situ saja sudah terbayang laga seperti apa yang bakal terlaksana.

Dengan kekuatan yang seimbang, kedua kesebelasan saling serang sejak menit awal. Jerman Barat berhasil unggul lebih dulu saat laga memasuki menit ke-17. Klaus Fischer yang menjadi pengganti Karl-Heinz Rummenigge hari itu berhasil merebut bola dari sergapan kiper Prancis, Jean-Luc Ettori. Bola kemudian menggelinding secara liar dan disambar oleh Littbarski ke gawang kosong.

Baca Juga :  Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar

Sepuluh menit berselang, Prancis menyamakan skor. Bernd Foerster, bek kiri Jerman, didakwa melakukan pelanggaran terhadap penyerang Prancis, Dominique Rocheteau. Wasit Charles Corver dari Belanda menunjuk titik putih dan Platini yang ditunjuk menjadi eksekutor sukses menaklukkan Schumacher. Skor imbang 1-1 ini bertahan sampai turun minum.

Pada babak kedua, pelatih Prancis, Michel Hidalgo, membuat keputusan taktikal. Dia memasukkan sweeper Patrick Battiston dan menarik keluar Bernard Genghini. Prancis pun bermain dengan tiga bek dan mendorong dua full-back mereka, Manuel Amoros dan Maxime Bossis, menjadi wing-back. Ini dilakukan untuk menahan gempuran sayap para pemain Jerman Barat.

Meski demikian, Prancis tetap tak kehilangan daya gigit. Bahkan, Battiston yang menjadi sweeper itu bisa bergerak bebas ke depan untuk membantu serangan. Dan itulah yang dilakukannya ketika tragedi itu terjadi.

Battiston masuk pada menit ke-50. Tujuh menit kemudian, dia berupaya untuk menggapai umpan jauh Platini yang diarahkan ke area kosong di pertahanan Jerman Barat.
Lapangannya terlihat seperti koridor kosong, seperti Champs Elysses pada pukul lima pagi.

“Lapangannya terlihat seperti koridor kosong, seperti Champs Elysses pada pukul lima pagi,” kenang Battiston dalam buku Twelve Yards.

Battiston pun berlari kencang. Dia tahu bahwa dia bisa menggapai bola kiriman sang kapten dengan kakinya dan mengubah keadaan untuk Prancis. Namun, angan-angan Battiston itu tiba-tiba lenyap. Secara mendadak, semuanya jadi gelap. Battiston terkapar.

Battiston yang berpostur 181 cm itu tentu saja tidak kolaps tiba-tiba. Ada sebuah tumbukan yang membuatnya teronggok tak berdaya di lapangan hijau. Ketika dirinya sudah berhasil menggapai bola dengan kakinya, Schumacher yang berlari dari arah berlawanan menubruknya tanpa ampun.

Ketika Battiston berupaya untuk menghindari tabrakan dan mengurangi kecepatan, Schumacher justru mempercepat laju tubuhnya untuk melukai Battiston. Tiga giginya patah, tulang rusuknya remuk, dan tulang belakangnya rusak seketika. Battiston seperti baru saja tertabrak mobil dengan kecepatan tinggi.

Tujuh menit kemudian, tandu baru bisa masuk lapangan. Battiston pun segera dipapah dan dilarikan ke rumah sakit. Seusai laga, para pemain baru mendengar bahwa pemain Saint-Etienne itu jatuh koma.

Baca Juga :  Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar

Sembari menunggu datangnya bantuan, kerumunan tiba di tempat kejadian perkara. Sumpah serapah meluncur, tidak hanya kepada Schumacher, melainkan juga kepada wasit Corver yang alpa meniup peluit.

Belakangan, Corver mengakui bahwa dia tidak melihat kejadian karena matanya terfokus kepada bola yang ditendang Battiston keluar lapangan.

“Aku sudah bertanya kepada asistenku, tetapi karena mereka bilang itu tidak sengaja, aku tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya seperti dikutip dari Goal.

Setelah mendapat protes keras dari para pemain Prancis, Corver tetap bergeming. Di luar kerumunan, Schumacher tampak bosan. Sambil berkacak pinggang, dia cuma menunggu untuk bisa segera melakukan tendangan gawang dan setelah Battiston ditandu, itulah yang dia lakukan. Titik.

Laga pun berlanjut. Battiston segera digantikan oleh pemain bertahan lain, Christian Lopez. Sampai waktu normal berakhir, skor 1-1 tetap bertahan dan babak tambahan pun harus digelar.

Prancis mencetak dua gol pada babak tambahan lewat Tresor dan Giresse. Akan tetapi, Rummenigge dan Fischer, memanfaatkan kelelahan para pemain Les Bleus, membuat skor menjadi imbang 3-3. Mau tidak mau, pemenang harus ditentukan lewat tos-tosan.

Schumacher jadi pahlawan Jerman Barat malam itu. Sepakan Bossis dan Didier Six berhasil dia gagalkan. Die Mannschaft pun melenggang ke final dengan kemenangan 5-4 di adu penalti.

Namun, Schumacher hanya dianggap sebagai pahlawan oleh orang-orang Jerman saja. Bagi yang lainnya, Schumacher tak lebih dari seorang penjahat.

Schumacher merayakan keberhasilan itu dengan arogansinya yang biasa. Dia mengangkat tangan tinggi-tinggi, dengan gestur seperti mengangkat Piala. Ketika diberi tahu soal kondisi Battiston pun dia hanya menjawab, “Biar nanti kubayari biaya ganti giginya.”

Patrick BATTISTON a terre – France / Allemagne – 08.07.1982 – Coupe du monde 1982 – accident
im 00994627

Amarah meledak di ruang ganti Prancis. Di sesi konferensi pers, kedua kubu bersitegang sedemikian rupa.

Nantinya, insiden ini bakal menjadi insiden internasional terutama setelah publik Prancis melabeli Schumacher dengan sebutan ‘SS’ ― Schutzstaffel, pasukan tempur Nazi di Perang Dunia II. Sampai-sampai, Kanselir Jerman Helmut Schimdt dan Presiden Prancis Francois Mitterrand harus meredakan ketegangan itu lewat pernyataan bersama.

Baca Juga :  Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar

Imbas dari insiden ini berlangsung cukup lama. Pada laga uji tanding tahun 1984 di Strasbourg, Schumacher disambut dengan lemparan misil dari arah tribune.
“Telur, kentang, apel, tomat, batu, semuanya. Aku disoraki sepanjang laga,” kenang Schumacher.

Battiston sendiri baru benar-benar pulih enam bulan setelah kejadian itu. Meski demikian, cedera yang dideritanya di bagian punggung masih belum sembuh, bahkan sampai saat ini.

Jelang Piala Dunia 2014 lalu, kepada AFP, Battiston menuturkan ulang kejadian itu. Menurutnya, sejak masih duduk di bangku cadangan pun dia sudah melihat gelagat aneh dari Schumacher.

“Bagaimana dia berduel dengan Dominique Rocheteau dan Didier Six. Kupikir dia terlalu bersemangat. Aku sudah menyampaikan ini kepada rekan-rekan di bangku cadangan,” tutur Battiston.

Meski akhirnya sampai jatuh koma, Battiston mengaku sudah memaafkan Schumacher. Schumacher pun telah meminta maaf dan mengaku menyesal tidak langsung menjenguk Battiston seusai laga.

Namun, kiper andalan Koeln ini menegaskan bahwa apabila dihadapkan pada situasi serupa, dia akan melakukan lagi apa yang akan dilakukannya kepada Battiston. “Ya, bagaimana? Satu-satunya cara merebut bola cuma itu,” kata Schumacher.

Well, begitulah Schumacher. Sosoknya memang arogan dan di kalangan pemain Jerman Barat pun dirinya tidak disenangi. Dalam autobiografinya, Schumacher menuduh para pemain Jerman Barat melakukan doping dan sejak itu dirinya dikucilkan. Inilah yang kemudian membunuh karier sepak bola pria kelahiran 1954 itu.

Sejak menerbitkan buku itu, dia dilepas oleh Koeln dan tak lagi dipercaya mengawal gawang Tim Nasional Jerman. Gelar internasionalnya pun mentok di angka satu, yakni gelar Piala Eropa 1980. Di dua final berikutnya, Piala Dunia 1982 dan Piala Dunia 1986, Jerman Barat selalu kalah.

Sementara, pada gelaran Piala Eropa 1984, mereka tersisih di fase grup. Schumacher kemudian menjadi pengelana. Antara 1987 s/d 1996, dia bermain untuk empat klub, Schalke 04, Fenerbahce, Bayern Muenchen, dan Borussia Dortmund. Namun, di klub-klub itu dia tak pernah jadi pilihan utama, sampai akhirnya pensiun dalam kesunyian di usia 42 tahun.

*) dari berbagai sumber

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar
Besok Malam, Indonesia vs Vietnam: Ujian Sesungguhnya untuk Tim Garuda
Hasil Piala AFF: 3 Gol dalam 7 Menit, Indonesia Hajar Timor Leste dan Puncaki Klasemen
Preview Timor Leste vs Indonesia; Bukan Soal Menang, tapi Berapa Gol yang akan Dicetak Tim Garuda
Debut Langsung Hetrik di Timnas Indonesia, Mithcell Baker: Mimpi yang Jadi Nyata!
Prediksi Starting XI Timnas Indonesia vs Kamboja Malam Ini; Rizky Ridho Kapten, Profesor Haye akan jadi Jendral Lapangan Tengah
Malam Ini, Timnas Indonesia Vs Kamboja di Piala AFF 2026: Tidak Ada Cerita Imbang, Apalagi Kalah!
Ditargetkan Juara, Inilah 26 Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:32 WIB

Liga 2 Kembali Memakan Korban, Semen Padang FC Pecat Pelatih Nilmaizar

Minggu, 2 Agustus 2026 - 19:59 WIB

Besok Malam, Indonesia vs Vietnam: Ujian Sesungguhnya untuk Tim Garuda

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:31 WIB

Hasil Piala AFF: 3 Gol dalam 7 Menit, Indonesia Hajar Timor Leste dan Puncaki Klasemen

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:33 WIB

Preview Timor Leste vs Indonesia; Bukan Soal Menang, tapi Berapa Gol yang akan Dicetak Tim Garuda

Selasa, 28 Juli 2026 - 20:01 WIB

Debut Langsung Hetrik di Timnas Indonesia, Mithcell Baker: Mimpi yang Jadi Nyata!

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB