Oleh: Rizal Marajo
Timnas Italia disebut-sebut sebagai tim paling solid, konsisten, dan paling minim kelemahan di Euro 2021. Susah mencari celah untuk mengalahkan Italia besutan Roberto Mancini ini.
Fakta dari segala gembar-gembor kehebatan Italia itu, mereka sudah lolos ke semifinal dan akan bertemu Spanyol, 6 Juli 2021 mendatang. Lima laga diselesaikan dengan hasil sempurna.
Mencetak 11 gol dan hanya kebobolan dua gol melengkapi menterengnya reputasi Italia di Euro 2021 ini. Tak ayal, Italia sejauh ini semakin kokoh bertengger kokoh sebagai favorit juara.
Benar-benar tim yang nyaris sempurna. Lini per lini semuanya solid, nyaris tanpa kelemahan. Nyaris tak ada perbedaan kualitas antara pemain inti dan cadangan. Pemain senior dan pemain muda saling melengkapi dan saling mengisi.
Bahkan media olahraga Spanyol Marca, memberi penilaian tersendiri, dan seolah memberi peringatan kepada timnas Spanyol yang akan jadi lawan Italia di semifinal. Marca menyebut, Italia tim yang sangat menakutkan.
Jika sukses melewati Spanyol, Italia sudah berada di partai puncak menunggu pemenang antara Inggris vs Denmark.
Berbicara tentang final sebuah turnamen besar, Italia pernah mengalami “horor” yang menakutkan. Karena ancamannya tidak main-main. “menang atau mati!”
*******
Bagaimana ceritanya?
1938, Timnas Italia berangkat menuju Parancis untuk mempertahankan gelar juara Piala Dunia 1934 yang mereka rebut empat tahun sebelumnya di negeri sendiri.
Dua tantangan berat yang dihadapi Italia saat itu. Pertama ingin membuktikan keraguan banyak pihak tentang kemenangan mereka di Piala Dunia 1934 karena adanya campur tangan diktator Italia, Benito Musolini, yang menekan lawan Italia di final untuk mengalah.
“Tim Azzurri mesti menjawab keraguan terkait kemenangan mereka empat tahun sebelumnya, apakah mampu menang jika bukan tuan rumah dan bermain di tempat lain. Mereka juga harus membuktikan bahwa tim mereka punya kemampuan mumpuni, mengingat banyaknya tuduhan pengaturan skor atau suap dalam kemenangan mereka di 1934,” tulis Tim Harris dalam Sport: Almost Everything You Ever Wanted to Know.
Yang kedua adalah tekanan dari sang diktator berpaham fasis itu. Sampai-sampai Italia harus mengganti kostum kebanggaan biru putih dengan kostum serba hitam khas “Fascio”. Para pemain juga diwajibkan melakukan hormat ala fasis jelang kickoff.
Jalan Italia pun berjalan mulus di Piala Dunia Prancis melewati fase demi fase. Mereka menyingkirkan Norwegia 2-1, tuan rumah Prancis 3-1, serta Brasil 2-1 di semifinal. Akhirnya, di final Giuseppe Meazza dan kawan-kawan harus bertemu Hungaria yang sedang hebat-hebatnya di Eropa saat itu.
Disnilah horor final itu dimulai. Diktator Mussolini mengirim telegram berisi ancaman: “Vincere o morire!” yang artinya “Menang atau mati!”
Ancaman itulah yang mungkin membuat para pemain Italia mati-matian di final yang akhirnya mereka menangkan dengan skor 4-2. Lega, nyawa para pemuda Italia masih utuh melekat di badan sepulangnya ke Italia.
Walaupun usai laga final, kiper Hungaria Antal Szabo langsung “bernyanyi” Dia mengaku tak menyesal timnya kalah dari Italia di final Piala Dunia 1938,
“Saya mungkin membiarkan terjadinya empat gol ke gawang saya, namun setidaknya saya menyelamatkan nyawa mereka,” kenang Szabo sebagaimana dikutip Diane Bailey dalam Great Moments in World Cup History.
Tapi setelah Musolini meninggal, banyak sejarwan Italia yang meneliti, apakah benar tim Italia tampil disertai ancaman pertaruhan nyawa pada laga final di Stade Olympique de Colombes, Paris, 19 Juni 1938 itu?
“Beberapa orang menafsirkan bahwa pesan telegram itu tidak secara harfiah. Pesan ‘Menang atau Mati’ mungkin hanya sebagai ungkapan dengan cara ekstrem oleh Mussolini untuk menyatakan: ‘Lakukan yang terbaik!’,” lanjut Bailey.
Bertahun-tahun kemudian, bantahan juga datang dari Pietro Rava, salah satu punggawa Italia di Piala Dunia 1938. Dia menyanggah timnya mendapat telegram ancaman mati itu dari Mussolini.
“Tidak, tidak, tidak. Itu tidak benar. Dia (Mussolini) mengirim telegram hanya untuk mendoakan kami, bukan ancaman menang atau mati,” kata Rava kala diwawancara Simon Martin dari The Guardian pada 2001.
Lepas dari benar-tidaknya telegram ancaman yang memunculkan beragam versi itu, Rava dkk diundang Mussolini ke Palazzo Venezia di Roma pasca-kemenangan mereka. Setiap pemain diguyur bonus 8000 lira dan masing-masing sekeping medali emas fasis.

*******
Itulah drama sejarah yang pernah mewarnai perjalanan Timnas Italia di final Piala Dunia 1938, dan menjadi perdebatan sejarah yang panjang selama bertahun-tahun.
Tak banyak final turnamen besar seperti Piala Dunia dan Piala Eropa yang bisa dicapai Italia setelah itu. di Piala Dunia Italia lolos ke final tahun 1970 di Meksiko, dan kalah 1-4 dari Brasil.
Setelah juara Piala Dunia 1982, mereka kembali ke final Piala Dunia 2006 di Jerman, dan tampil sebagai juara dengan mengalahkan Prancis di final melalui adu penalti. Selebihnya capaian terbaik Italia hanya semifinal saat jadi tuan rumah tahun 1990.
Di Piala Eropa atau Euro, Italia pernah juara tahun 1968, dengan mengalahkan Yugoslavia di final. setelah itu, Italia juga pernah ke final tahun 2000 dan kalah dari Prancis melalui golden goal David Trezeguet.
Terakhir, Euro 2012 Italia juga ke final. Tapi lagi-lagi kalah, Italia dipermak Spanyol 4-0.
Kini peluang Italia terbuka untuk membalas kekalahan dari Spanyol itu di semifinal Euro 2021, sekaligus mencatatkan final keempat mereka di ajang Euro.
Jika berhasil, Italia tak perlu khawatir horor final 1938 akan terulang. Tak ada lagi telegram “menang atau mati”, dan Musolini sang diktator bengis itu juga sudah mati.(*)
















