Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

HIKMAH RAMADHAN : Shalat Tarawih Bahagia Bersama Keluarga


ABDULLAH KHUSAIRI

Dibaca : 708

LAIN terasa lain. Ibadah puasa di bulan suci Ramadhan kali ini begitu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Wabah Covid-19 telah menghalau kita dari keramaian, berbagai pertemuan, serta hal-hal yang membuat bahagia karena berada di luar rumah. Kebahagiaan kita telah dibatasi di bulan penuh berkah ini.

Kini kita tak boleh kemana-mana. Ada aparat dan petugas medis di jalan akan memeriksa. Antri. Jika dicurigai, segera dikarantina. Kalau tak kuat alasan, jika tidak penting menurut aparat maka disuruh putar balik. Pulang! Berdiamlah di rumah.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), berita-berita kenaikan angka terpapar Covid-19 datang menakutkan. Lebaran dan mudik sepertinya sudah jelas suram di depan mata. Semua itu demi keberhasilan untuk memotong mata rantai penularan wabah.

Kita mungkin sehat, kuat, muda, dan punya imunitas tinggi, tetapi semua itu sedang tidak berlaku. Harus hormati, seperti kita yang terpaksa melambat di gundukan polisi tidur di sebuah jalan yang sering dilewati dengan ugal-ugalan entah siapa. Inilah toleransi, mengalah karena keadaan. Tak perlu membenci mereka yang sering ugal-ugalan, hingga harus dibuat polisi tidur itu. Toh kita tetap mesti melambat, jika tak ingin mengalami guncangan.

Alasan Bahagia
Bulan penuh berkah ini harus kita lewati dengan cara yang berbeda dari sebelumnya tetapi harus dengan bahagia yang lebih. Walau ada wabah, ketakutan, kesedihan, kerinduan, kadang-kadang juga bosan dengan keadaan, kita bisa mencari alasan-alasan untuk bahagia. Begitu banyak kepergian yang sudah dilunaskan, sementara begitu banyak pula hutang untuk ditunaikan untuk keluarga. Itulah kebersamaan yang acap terabaikan.

Kepada keluarga, kita kadang-kadang merasa bersama tetapi sebenarnya tidak bersama. Pergi pagi, pulang sudah senja raya. Malam kadang pergi lagi, ada yang pergi pagi pulang hingga larut. Senin hingga Jumat, kadang juga Sabtu, mungkin juga Minggu. Hitung sajalah sendiri, tentang kepergian-kepergian kita yang mungkin saja tidak begitu penting itu. Tentu ada yang penting, tugas negara, tugas kantor, demi mencari nafkah yang kita asumsikan untuk kebahagiaan keluarga juga.

Entah bahagia entah tidak, yang jelas setiap keluarga, bila pagi tiba, semua harus bergegas. Entah itu keluarga di tengah komunal yang masih padat adatnya, apalagi keluarga urban, keluarga muda, keluarga baru beranak dua dan tiga, semua begitu. Pagi tiba, kita bergegas pergi. Kita semua senyatanya, telah abai dengan kebersamaan yang indah itu. Kita melunasinya ketika libur tiba, itupun kadang-kadang tidak juga dilunaskan.

Maka Covid-19 telah memulangkan kita ke dalam kebersamaan keluarga untuk melunaskan dengan cara yang dipaksakan. Kita dipulangkan ke keluarga yang harusnya membuat kita harus berbahagia karenanya. Tidak ada alasan secuil pun untuk tidak bahagia. Carilah, bingkailah semua kenangan yang ada, carilah sisi paling indah itu. Tentu ada.

Imam Kebahagiaan
Begitulah, Covid-19 pada Ramadhan 1441 H ini menyeret saya ke depan. Menjadi imam shalat tarawih di tengah keluarga. Sesuatu yang belum pernah diperkirakan. Pada bulan Ramadhan sebelum-sebelumnya, jika adzan Isya terdengar maka bergegaslah menutup pintu rumah, pergi ke masjid bersama. Shalat isya’ berjamaah, mendengar ceramah ustadz yang kadang-kadang itu ke itu saja, kadang juga garing lucunya. Seterusnya, shalat tarawih dan diakhir dengan gemuruh anak-anak minta tanda tangan.

Tak hendak pula saya postang-posting shalat tarawih dengan keluarga, saya hendak cerita suasana bathin saja. Berbagi cerita tentang kehidupan kita menghadapi wabah ini. Sebuah rutinitas baru terbentuk karena sebuah wabah sedang melanda kota. Semua telah berubah cepat, sejak wabah tiba menjadi bagian dari kehidupan kita.

Menjadi imam shalat isya’ dan tarawih di tengah keluarga sangat membahagiakan. Jika tidak ada Covid-19, anak-anak tentu sudah berkumpul dengan sesama mereka di masjid. Ikut pesantren ramadhan, ikut tadarus, dan memang mereka harus di situ, dunia mereka.

Ramadhan kali ini telah membawa suasana bathin yang berbeda. Kita dihantarkan kepada sikap bersabar melebihi tingkat rata-rata yang pernah ada. Begitu banyak hal yang tertunda, pengharapan, pencapaian, berbagai rutinitas, target kerja, harus berhenti dan terhenti. Merenungi semua perjalanan yang pernah dilalui dalam keheningan sendiri.

Beda beberapa bulan silam, kita hanya mendengar ketakutan dari jauh, kita abai untuk bersiap-siap. Kabar ketakutan itu ada di Wuhan, lalu kita seperti tak punya kepentingan dengan kejauhan itu. Kita tidak takut.

Ketika ia tiba di kota kita diami, kita merasakan sendiri, ketakutan itu nyata, kerinduan ke masjid adalah nyata, tidak lebaran dan mudik itu akan terjadi, angka-angka korban bertambah, orang-orang berbaju khusus itu ada di kota tempat kita hidup. Rasa abai, rasa sombong, yang pernah ada, akhirnya ciut sendiri. Wabah itu ternyata nyata adanya.

Kini kita kembali ke keluarga, berbahagialah untuk itu. Kita diperintahkan agar menyelamatkan keluarga dari api neraka (Q.S:66:6). Diperintahkan untuk membebaskan keluarga dari ancaman-ancaman. Covid-19 adalah ancaman bagi siapa saja.

Begitulah, akhirnya menjadi imam shalat Isya’ dan shalat Tarawih di rumah dengan kebahagiaan yang tiada taranya. Ini tentu indah pula dikenang-kenang di masa tua. Jika tak pernah jadi imam, ini waktunya, belajar. Kita tak boleh sedikitpun berhenti belajar, agar bisa membangun istana kebahagiaan di rumah. Semoga kita selamat dari wabah, kembali ke keluarga, kembali ke dalam diri, menyusun seluruh sikap terbaik, membersihkan diri dari sikap-sikap buruk, demi mencapai redha ilahi di bulan suci ini. Amin. (*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top