Daerah

Hendak Melahirkan di RSUD M.Zein Painan, Istri Pemuda Ini Diusir Dokter

Pessel,Prokabar–Pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M. Zein Painan Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), mengeluhkan buruknya layanan medis.

Kali ini, keluhan datang datang dari Alfis Suhandi, salah seorang warga Kambang Kecamatan Lengayang.

Menurutnya, dokter dan perawat di Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) itu belum bisa memberikan layanan terbaik bagi pasien.

Karenanya, ia meminta Bupati Pesisir Selatan menindak tegas perawat dan dokter yang ada di RSUD M. Zein Painan.

“Tolong Pak Bupati Pesisir Selatan ditindak tegas perawat dan dokter yang mengusir isteri saya yang hendak melahirkan di RSUD M. Zein Painan,” unggah dia di halaman media sosialnya, Selasa (11/5).

Secara terpisah, Direktur RSUD, dr. Sutarman dalam keterangan tertulisnya membantah adanya perawat dan dokter yang mengusir pasien.

Ia menjelaskan peristiwa itu bermula ketika Alfis Suhandi membawa isterinya yang hendak melahirkan ke RSUD.

Pasien merupakan rujukkan dari Puskesmas Kambang. Menurut diagnosa medis di, posisi bayi dalam keadaan melintang dan hampir melahirkan (inpartu).

Namun, setelah pemeriksaan dan USG, dokter memerkirakan dapat melahirkan normal. Kemudian diobservasi, sehingga terlihat perkembangan ke arah yang lebih baik.

“Tapi pasien tidak sabar. Melahirkan tentu ada rasa sakit karena kontraksi. Meski sudah kami jelaskan, suaminya tetap tidak mau terima. Ini perlu kami jelaskan, agar tidak bias,” jelas Sutarman.

Sang suami lalu meminta agar isterinya dirujuk ke ke Rumah Sakit BKM, Sago. Sesuai aturan, rumah sakit tipe C tidak boleh merujuk pasien ke rumah sakit dengan tipe D.

Akhirnya pasien minta keluar dari rumah sakit. Namun, dalam ketentuannya, jika pasien meminta pulang paksa, harus melalui prosedur yang berlaku.

Pihak keluarga mesti mengisi formulir dan tandatangan. Dengan demikian, secara medis sudah sesuai Partograf dan SOP pasien melahirkan.

“Intinya, tidak mungkin RSUD mengusir pasien, karena sudah ditanggung Jampersal dan BPJS. RSUD juga memiliki anggaran dana pasien bermasalah,” ulasnya.

Sebelumnya, pasien rawat jalan jantung juga mengeluhkan buruknya pelayanan. Hingga kini, manajement masih belum bisa menyediakan dokter spesialis jantung.

Dari yang dulunya ada, kini menjadi tidak ada. Penderita menjadi terlantar. Parahnya, pasien rawat jalan jantung kini masih harus ditangani di poli penyakit dalam.

“Ini aneh. Kondisi ini sudah berbulan-bulan. Sakit saya lain, spesialis yang menangani juga lain. Padahal sebelumnya ada spesilis jantung di sini,” ungkap Topik (42), salah seorang pasien rawat jalan jantung,” ujarnya,(min)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top