Trending | News | Daerah | Covid-19

Ekonomi

Harga Elpiji 3 Kg Capai Rp28 Ribu di Solsel


“Terkadang saat dibutuhkan gas tiga kilogram malah habis, dan harganya juga tidak tetap”

Dibaca : 292

Padang Aro, Prokabar – Harga elpiji tabung tiga kilogram di Kabupaten Solok Selatan, Sumbar mencapai angka Rp28 ribu pertabung.

Seorang ibu rumah tangga Weni (30) di Padang Aro, Selasa, mengatakan harga elpiji tabung tiga kilogram di warung dekat rumahnya mencapai Rp28 ribu, dan itu pun tidak selalu tersedia.

“Terkadang saat dibutuhkan gas tiga kilogram malah habis, dan harganya juga tidak tetap,” katanya.

Walaupun harganya mahal ia tetap membelinya karena dibutuhkan untuk memasak, kalau menggunakan minyak tanah mencarinya lebih sulit lagi.

Warga Lubuak Malako Kecamatan Sangir Jujuan, Gustini (26) mengatakan di warung dekat rumahnya harga jual elpiji tabung tiga kilogram jika pasokan normal Rp23 ribu, namun lebih sering Rp28 ribu per tabung.

“Sangat jarang mendapatkan harga Rp23 ribu per tabung, karena elpiji di daerah ini lebih sering langkanya daripada normal,” ujarnya.

Ia mengaku dulunya sering mencari elpiji ke pangkalan untuk mendapatkan harga normal sesuai harga eceran tertinggi (HET), namun tidak pernah dapat, pemilik pangkalan selalu mengatakan kosong.

Jika ingin mendapatkan elpiji harus ke warung, tetapi harganya jauh lebih mahal antara Rp23.000 hingga Rp28.000 per tabung.

“Untuk mendapatkan keuntungan lebih, kemungkinan pangkalan menjual elpiji ke pemilik warung bukan ke masyarakat, sehingga ketika ditanya selalu kosong,” kata dia.

SementaraPemilik Pangkalan Elpiji di Muaralabuh, Rivo Rinaldi mengatakan pihaknya menjual elpiji tabung tiga kilogram sebesar Rp20 ribu per tabung sesuai HET.

“Kalau pangkalan menjual sesuai HET, sebab ada aturannya, sedangkan warung pengecer karena mereka tidak berbadan hukum tentu bisa menjual lebih, namun kami juga tidak tahu berapa dijual per tabungnya oleh mereka,” ujarnya.

Dia mengatakan panggkalannya mendapat jatah 440 tabung setiap minggu dengan dua kali pengiriman.

Diakuinya setiap elpiji tiga kilogram datang, tidak akan bertahan lama, dalam beberapa jam akan habis diborong pedagang pengecer.

“Saya mendapat jatah sekali bongkar 220 tabung, itu tidak akan bertahan lama karena sudah banyak yang antre mendapatkannya,” katanya.

Tugas pangkalan katanya, menjual kepada pengguna dan pedagang pengecer, sedangkan berapa penjualan di tingkat pengecer pangkalan tidak tahu lagi.

Dia menambahkan saat ini semua rumah tangga rata-rata menggunakan elpiji tabung tiga kilogram, bahkan ada yang lebih dari satu tabung stoknya di rumah.

“Kalau mau tepat sasaran dan ketersediaan mencukupi, penjualannya harus sistem tertutup dan yang bisa membeli hanya masyarakat yang diberi kartu khusus,” katanya.

Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, mengatakan tidak bisa menindak masyarakat yang menjual elpiji tabung tiga kilogram di atas HET.

“Kalau pangkalan yang menjual elpiji tabung tiga kilogram di atas HET baru bisa ditindak, tetapi kalau masyarakat kami tidak berhak sebab yang berizin adalah pangkalan,” kata Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdakab Solok Selatan, Epli Rahmat.

Dia menjelaskan sekarang yang terjadi masyarakat membeli gas ke pangkalan kemudian dijual lagi dengan harga di atas HET.

Masyarakat yang mengecer gas tabung tiga kilogram membeli ke pangkalan dengan harga sesuai HET, kemudian sampai di rumah dijual lagi dengan harga yang lebih mahal sehingga stok cepat habis.

Pihak pangkalan katanya, tidak bisa melarang pedagang pengecer yang ingin membeli elpiji tabung tiga kilogram sehingga stok cepat habis.

Dia menyebutkan keluarga miskin di Solok Selatan sebanyak tujuh persen, sedangkan ketersediaan gas tabung tiga kilogram tidak mencukupi, ditambah lagi hampir semua penduduk Solok Selatan menggunakan elpiji tiga kilogram. (*/mbb)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top