Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Harapan Terindah Itu Bernama Sembako

Dibaca : 430

Oleh: Rizal Marajo
(Wartawan Utama)

250 paket sembako dari anggota DPR-RI itu ludes dalam waktu singkat. Sengaja tidak ada pengumuman akan ada pembagian, tapi hanya melalui “radio lutut” dari mulut ke mulut. Siapa cepat dia dapat.  Hanya dalam tempo 1,5 jam paket itu pun terbagi sudah di Nagari Paninjauan.

Mengharukan, melihat wajah-wajah penuh harap menyodorkan foto copy KTP masing-masing. Tak sabar mendapatkan paket berisikan beras 5 kg, minyak goreng 2 liter, mie instant, kopi dan teh. Kalau dinilai dengan rupiah mungkin sekitar Rp120k.

Ada wajah berbinar, mengiringi ucapan Alhamdulillah dan terima kasih ketika kantong plastik itu sampai ditangan mereka. Terasa begitu  berarti bagi mereka mendapatkan paket itu, ditengah kondisi sulit ekonomi karena terjangan Corona.

Yang lain, seperti tak sabar untuk mendapatkan. Ajakan untuk sabar, tertib, dan tetap jaga jarak seperti tak mempan. Begitu benarlah, ketakutan mereka kalau sampai tidak dapat paket sembako yang jumlahnya sangat terbatas itu.

Saya dan istri  kebetulan dapat amanah menyalurkan sembako itu kepada masyarakat. Pesan dari sang anggota Dewan cukup simple, tidak perlu ada formal-formalan dan mempersulit masyarakat. Cukup pakai foto copy KTP atau catat saja NIK penerima, sudah itu saja.

Paninjauan, nagari subur, ibarat sepotong tanah surga yang diturunkan ke bumi itu, juga sedang bersusah hati. Seperti di tempat-tempat lainnya, paket sembako menjadi magnet yang menarik orang untuk bergeduru datang, apalagi lebaran akan segera datang menjelang. Walau hanya bernilai 120k, tapi itu sangat berarti ditengah kondisi sulit sekarang.

Petani yang biasanya hidup lumayan makmur, sekarang dihadang harga yang jatuh dan melorot sampai titik terendah. Cabe yang biasanya jadi primadona, sekarang hanya dihargai Rp10 ribu/kg, dapat Rp15 ribu sudah bagus. Begitupun untuk semua produk pertanian lainnya, semuanya murah.

Tukang ojek tak kalah miris, sepi penumpang, karena orang malas ke pasar Padang Panjang karena ada PSBB.  Kalaupun ada, mungkin hanya membawa barang petani ke pasar sayur Busur hari Kamis dan Minggu. Selebihnya, banyak yang hilir mudik, tapi tak ada bawa penumpang.

Tak kalah pilu, yang punya kedai di pasar diterpa masalah jual beli yang terus menurun, bahkan nyaris zero. Apalagi ditengah penerapan PSBB, harus bermain kucing-kucingan dengan petugas untuk membuka toko.

Tukang jahit, biasanya selama bulan puasa sudah bersijadi dan berkentuntang dapat order, bahkan biasanya H-7 lebaran terpaksa lembur sampai tengah malam, sekarang apa mau dikata. Pakaian hari raya apa pula yang akan dijahit orang, sedangkan untuk makan sehari-hari saja sudah tungang tunggik.

Jadi, memakai istilah pengamat ekonomi, tak bisa dipungkiri ekonomi masyarakat memang sudah semakin memburuk. Tak hanya kalangan bawah, kalangan ekonomi menengah pun juga berpotensi jadi miskin di zaman Corona ini.

Dilema luar biasa ditengah masyarakat, ada PSBB yang harus diterapkan untuk mempersempit penyebaran covid-19 tak berjalan seperti diharapkan. Bagaiman mungkin, dengan fundamental ekonomi masyarakat yang sudah sangat  lemah itu, dipastikan hanya akan menambah penderitaan masyarakat dalam menghadapi kebijakan seperti PSBB.

Karena secara teori pencegahan penularan covid 19 baru bisa dicapai secara efektif, jika rakyat tetap tercukupi kebutuhan hidupnya, utamanya perut mereka harus terisi dulu. Sebab konsekwensi logis dalam kebijakan karantina wilayah pemerintah harus menanggung seluruh kebutuhan kehidupannya selama lockdown tersebut.

Tapi yang terjadi di grass root, masyarakat terkadang seperti dipaksa keadaan untuk bertarung sendiri. Akhirnya dimana-mana terjadi cekcok. Masyarakat bersikukuh, mereka terpaksa harus melanggar pembatasan pemerintah karena harus memilih mati karena corona atau mati karena tak makan. Umumnya mereka memilih opsi pertama, artinya harus keluar rumah.

Tak sedikit warga yang kebingungan dan tak tentu ojok di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu saat ini. Katanya ada BLT dari pemerintah, tapi seperti orang berjudi apakah akan dapat jatah atau tidak.

Faktanya, BLT di banyak tempat justru jadi sumber permasalahan tersendiri, karena pendisitribusian yang tak tepat sasaran. Ada yang seharusnya dan layak dapat, tapi hanya dapat melihat orang lain menerima, yang awak mengurut dada saja.

Ya, sembako, darimanapun asalnya, apakah dari anggota Dewan, donatur, darmawan, atau sumber lainnya menjadi harapan terakhir dan terindah. Jumlah atau nilainya tak seberapa, tapi seolah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Apalagi kalau didalamnya ada beras, kebutuhan paling pokok dan fundamental menghadapi kehidupan.

Saya terenyuh, melihat beberapa orang yang datang belakangan, tergopoh-gopoh penuh harap sembari menyodorkan foto copy KTP mereka. Sayangnya, keterlambatan mereka hanya menemui paket yang sudah habis terbagikan menjelang berbuka puasa itu.

“Maaf Amai, lah habih barangnyo. Talambek amai tibo..”saya hanya bisa  berucap lirih, dan berbuka puasa dengan perasaan tercabik. Terbayang wajah kecewa dan berhiba hati itu melangkah pergi dengan tangan kosong. Andaikan saya juga seorang anggota Dewan RI, atau urang kaya tajir melintir. Tapi sudahlah.(*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top