Groundbreaking Huntap di Kuranji; BNPB Percayakan Sepablock di Sumut dan Aceh

Penulis -

Rabu, 8 April 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar– Inovasi material konstruksi karya anak bangsa, Semen Padang Bata Interlock (Sepablock), kian menegaskan posisinya sebagai solusi utama pembangunan hunian tetap (huntap) pascabencana di Indonesia.

Tidak hanya di Sumatera Barat (Sumbar), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga memperluas pemanfaatan Sepablock yang diproduksi PT Semen Padang hingga ke berbagai daerah rawan bencana, termasuk Sumatera Utara dan Aceh.

Momentum ini ditandai dengan peletakan batu pertama rumah contoh Huntap Mandiri di Kampung Tangah, Kelurahan Sungai Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Selasa (7/4/2026). Proyek ini menjadi etalase nyata keunggulan Sepablock sebagai material konstruksi cepat, efisien, dan ramah gempa.

Peletakan batu pertama rumah contoh huntap mandiri itu dilakukan Sekretaris Utama BNPB Rustian bersama Wali Kota Padang Fadly Amran dan Direktur Operasi PT Semen Padang Andria Delfa, serta disaksikan jajaran pejabat daerah.

Sekretaris Utama BNPB, Rustian, menegaskan bahwa kepercayaan terhadap Sepablock bukan tanpa alasan. Menurutnya, inovasi dari PT Semen Padang ini telah terbukti mampu menjawab kebutuhan mendesak dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

“Sepablock ini bukan hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga memastikan kualitas dan ketahanan hunian terhadap bencana. Ini solusi yang tepat, terutama untuk daerah rawan gempa seperti Sumbar,” ujarnya.

Lebih jauh, Rustian mengungkapkan bahwa keberhasilan implementasi Sepablock di Sumbar akan direplikasi secara nasional. “Tidak hanya di sini, Sepablock juga akan kami gunakan untuk pembangunan huntap di Sumatera Utara dan Aceh. Ini akan menjadi bagian dari standar pembangunan huntap BNPB ke depan,” tegasnya.

Keunggulan Sepablock juga terlihat dari kecepatan pembangunan. Rumah contoh huntap mandiri ini ditargetkan rampung hanya dalam waktu 10 hari kerja, sebuah lompatan signifikan dibanding metode konstruksi konvensional.

Wali Kota Padang Fadly Amran turut mengakui efektivitas teknologi ini. Ia menyebut, penggunaan Sepablock telah terbukti mempercepat pembangunan huntap di berbagai titik di Kota Padang.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

“Saya saksikan sendiri pengerjaan huntap dengan Sepablock sangat cepat, bahkan bisa selesai dalam hitungan hari. Ini solusi konkret untuk percepatan pemulihan pascabencana,” katanya.

Sementara itu, Direktur Operasi PT Semen Padang, Andria Delfa, menegaskan bahwa meningkatnya penggunaan Sepablock di berbagai daerah merupakan bukti kepercayaan terhadap inovasi lokal.

“Kami melihat Sepablock kini tidak hanya menjadi solusi di Sumbar, tetapi mulai diadopsi secara nasional. Ini menunjukkan bahwa inovasi lokal mampu menjawab tantangan pembangunan di wilayah rawan bencana,” ujarnya.

Ia menambahkan, Sepablock dirancang untuk memenuhi tiga kebutuhan utama pembangunan huntap: kecepatan, ketahanan, dan efisiensi. Dengan standar nasional dari Kementerian PUPR dan karakter ramah gempa, produk ini diyakini menjadi masa depan konstruksi hunian pascabencana di Indonesia.

Tren penggunaan Sepablock di Sumbar sendiri terus meningkat secara signifikan. Sebelumnya, Kadin telah membangun 10 unit huntap di Koto Tuo, Kecamatan Pauh, menggunakan Sepablock. Selain itu, Yayasan Buddha Tzu Chi tengah membangun huntap di Air Dingin, Koto Tangah, serta di Kabupaten Agam.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Kian masifnya penggunaan Sepablock ini mempertegas transformasi pola pembangunan huntap di Indonesia—dari metode konvensional menuju teknologi konstruksi modern yang lebih cepat dan tangguh.

Bagi masyarakat terdampak, kehadiran inovasi ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga harapan baru. Agusman (46), salah satu penerima manfaat, mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya.

“Rumah kami hanyut akibat banjir. Sekarang kami punya harapan baru. Kalau bisa selesai 10 hari, kami bisa segera menempati rumah ini,” ujarnya.

Dengan dukungan penuh dari BNPB, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan, Sepablock kini bukan sekadar produk—melainkan telah bertransformasi menjadi standar baru pembangunan huntap nasional. (*/Eym)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB