Budaya

Giatkan Diskusi Adat Melawan Degradasi Moral Masyarakat

Padang Pariaman, Prokabar – Kondisi prilaku generasi mulai dirasakan, jauh dari nilai-nilai Agama Islam dan Adat Istiadat Minangkabau menjadi perhatian serius dari semua Pihak. Seperti Walinagari III Koto Aua Malintang Batu Basa, Azwar Mardin bersama Tokoh Masyarakat lainnya.

Mereka bersama Ninik Mamak fokus menggelar program peningkatan kemampuan tentang pemahaman nilai-nilai kearifan lokal tersebut. Dan program tersebut akan terus berlanjut nantinya. Progam perdana terlaksananya Diskusi Adat Dan nilai-nilai moralitas menghadirkan Tokoh Budaya, Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto.

Kegiatan bertemakan “Peranan Ninik Mamak dan Prilaku Generasi Muda dalam Perspektif Budaya Minangkabau” dengan tujuan Degradasi Moral. Sekitar 50 orang selain Ninik Mamak, Bundo Kanduang, LPM dan Bamus, pemuda-pemudi, para pelajar tingkat SMP dan SMA juga turut menghadiri kegiatan tersebut.

“Kita saat ini terfokus pada pengoptimalkan peranan Ninik Mamak sehingga kontrol sosial, pengawasan, pembinaan dan pendidikan kepada anak beserta kemenakannya. Sehingga konsep anak dipangku, kamanakan dibimbing dapat terwujud sesuai idealnya,” kata Azwar.

Tidak hanya pada Ninik Mamak, Anak kemenakan selaku generasi muda juga dibenahi dalam diskusi adat tersebut. Mereka pemuda dan pemudi yang sudah mulai terjadi degradasi moral perlu kita perbaiki dengan berbagai cara dan upaya. Termasuk dengan dialok-dialok khusus dengan tokoh budaya. Termasuk peranan Alim Ulama dan Bundo Kanduang dalam nagari.

“Dialok ini akan dilanjukan dengan diskusi dengan Tokoh Ulama Sumbar, yang dianggap sangat paham dengan nilai-nilai Islam dan Budaya Minangkabau. Diskusi akan terfokus pada peran dan fungsi tokoh agama seperti Imam, Katik, labai dan sebagainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN), Iskandar mengapresiasi kegiatan yang diprogramkan Walinagari III Koto Aua Malintang Batu Basa tersebut. Menurutnya, program tersebut sangat penting untuk pembangunan mental dan fisik masyarakat.

“Setiap kita harus bersinergi dalam segala pembangunan yang dilakukan Kebijakan dan Program di Pemerintahan Nagari. Artinya, Walinagari harus merangkul semua pihak agar segala pembangunan tersebut dapat terlaksana dengan baik,” kata Iskandar.

Ninik Mamak lanjutnya, sering terpinggirkan dan tidak terperhatikan. Terutama disaat terlaksananya sebuah pembangunan fisik maupun pemberdayaan. Di saat terkendala, baru Ninik Mamak dilibatkan.

“Harusnya setiap program hendaknya Ninik Mamak harus dari awal dilibatkan dan diketahuinya. Sehingga segala akar persoalan yang dimungkinkan terjadi, tidak terlalu sulit diselesaikan. Ninik Mamak harus dirangkul sejak awal pelaksanaan pembangunan dan program dari Pemerintah,” lanjut Ketua KAN III Koto Aua Malintang Batu Basa tersebut.

Ia mengatakan terkait Degklarasi Moral yang terjadi pada generasi muda, merupakan tanggungjawab bersama. Pembenahan tidak bisa hanya dari ninik mamak saja, karena anak saat ini juga diatur dalam dalam perundang-undangannya di NKRI ini. Mereka seutuhnya milik dan tanggungjawab kedua orang tuanya secara harfiah. Sedangkan Peranan Ninik Mamak berlaku pada kearifan lokal saja.

“Untuk penegakan aturan dalam nagari, kembali lagi kepada Pemerintahan Nagari merangkul Ninik Mamak. Bila kita sinergi, dan Pemerintahan Nagari Konsisten menegakan kembali nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kittabullah, kita bisa membakukan aturan melalui Peraturan Nagari atau Pernag,” ungkapnya.

Bupati Padang Pariaman, Ali Mukhni tuturnya, sudah mengeluarkan Peraturan Bupati atau Perbup nomor 13 tahun 2016 tentang Peraturan dilarangnya Orgen tunggal yang beraktifitas di malam hari. “Saya setuju sekali bila peraturan tersebut kita perkuat melalui Pernag, dan dapat memberi sangsi adat pada pelaku yang masih membandel,” tutupnya. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top