Pasaman, Prokabar — Sudah hampir habis bulan lima, Mei. Sebentar lagi Juni, memasuki semester dua atau catur wulan ke-3. Serapan anggaran Pasaman agaknya terancam kembali rendah, seperti tahun sebelumnya.
Apa sebab, dinas-dinas di Pasaman belum kunjung memasukan dokumen lelang ke Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pasaman. Adapun yang sudah, namun belum ada yang mulai bekerja. Itipun tidak banyak. Hanya tujuh paket pekerjaan. Tidak pula semuanya fisik, ada juga pengadaan barang dan jasa.
“Ini sudah termasuk cepat jika dibanding tahun sebelumnya. Kalau tahun 2018, Juni baru mulai proses lelang, ada pula dinas yang hampir habis tahun anggaran, baru masukan dokumen pekerjaan untuk dilelang,” kata Kepala ULP Pasaman, Bujang.
Dijelaskan Bujang, tujuh paket yang sudah dilelang dan ada rekanannya itu berasal dari pengadaan jasa cleaning servis di Setda Pasaman dan RSUD, kemudian pengadaam barang, jasa konsultan dan pembangunan fisik di PU dan Dinas Kesehatan.
“Ada juga paket pekerjaan yang sedang tayang, lima paket. Ini sedang dikerjakan Pokja ULP. Kalau ini sudah, berarti baru 12 paket lelang yang selesai,” lanjut Bujang.
Diakui Bujang, pengadaan fisik yang paling besar dan telah dilelang terdapat pada pekerjaan lanjutan pembangunan jalan Rao Gunung Manahan, Rp13 miliar lebih. Dan paling kecil, pengadaan cleaning servis di Setda Pasaman, Rp480 juta.
“Kami sebenarnya sudah melayangkan himbauan, supaya dinas-dinas mempercepat pemasukan dokumen lelang. Biar cepat pula selesai dilelang dan mulai dilakukan pekerjaan, sehingga serapan anggaran tercapai. Namun, ya beginilah, masih lambat,” tegas Bujang.
Tidak itu saja, ternyata polemik juga terdapat di tubuh ULP. Kekurangan personil, kata Bujang. Sebabnya, tidak ada ASN yang mau jadi Pokja, sementara dari kemampuan ASN tersebut sangat mampu.
“Tapi sejak kasus anggota ULP yang terjerat kasus korupsi dulu tahun 2018. Tidak ada lagi yang sanggup. Padahal kami sudah minta penambahan peraonil. Nihil,” kata Bujang.
Meski begitu, Bujang mengaku, personil yang sekarang siap tempur. Anti intervensi dan bekerja sesuai aturan.
“Bila nanti kewalahan, mau gimana lagi. Jangan salahkan ULP dengan anggapan lambat dilelang lah, ini lah atau apalah. Yang jelas, kami sudah meminta untuk cepat-cepat memasukan dokumen, biar semua tidak mepet,” tukas Bujang. (Ola)
















