Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Fungsi Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Dibaca : 184

Oleh
Dessi Handini, Zulmuqim &Demina
Manajemen Pendidikan Islam Program Pascasarjana
IAIN Batusangkar

Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap warga negara dalam rangka menjalani kehidupan yang lebih baik. Dengan adanya pendidikan diharapkan dapat membentuk manusia yang berkualitas, mandiri dan tentunya berguna bagi kemajuan bangsa dan negara (Febrian&Zulmuqim:2019).

Perkembangan pendidikan Indonesia saat ini yang masih jauh dibawah negara-negara lainnya di dunia menjadi perhatian yang cukup tinggi dari pemerintah agar bisa mengejar ketertinggalan tersebut dengan berbagai perubahan dalam manajemen sekolah yang bermutu. Peningkatan mutu pendidikan dapat terjadi jika fungsi-fungsi manajemen dilaksanakan oleh kepemimpinan yang tepat.

Kepemimpinan merupakan merupakan salah satu fungsi manajemen yang sangat penting untuk mencapai tujuan sekolah. Kepemimpinan menurut Tannenbaum, Wesler dan Massarik dalam Wahjosumidjo dalam Gunawan (2017) adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain dengan sengaja dalam suatu situasi melalui proses komunikasi, untuk mencapai tujuan atau tujuan-tujuan tertentu. Kepala madrasah sebagai pemimpin harus memiliki kemampuan manajerial untuk mengolah berbagai perangkat sehingga tercapai tujuan pendidikan di tempatnya (Asmendri:2014).

Pemimpin mempunyai peran yang sangat besar dalam pencapaian tujuan sekolah. Pimpinan pendidikan merupakan penggerak organisasi yang mempengaruhi kinerja anggotanya, yaitu para guru dan staf pegawai lainnya agar bekerja lebih maksimal, menampilkan etos kerja tinggi, dan secara sukarela bekerjasama dengan anggota lainnya untuk mewujudkan standar mutu yang diharapkan oleh konsumen pendidikan (orang tua, masyarakat, lembaga pendidikan yang lebih tinggi, pemerintah, dan dunia kerja).

Sondang P. Siagian dalam Saidah (2018) mengatakan beberapa fungsi kepemimpinan sebagai berikut:1) Pimpinan sebagai penentu arah dalam usaha pencapaian tujuan; 2) pemimpin sebagai wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak di luar organisasi; 3) pemimpin sebagai komunikator yang efektif; 4) pemimpin sebagai mediator, khususnya dalam hubungan ke dalam, terutama dalam menangani situasi konflik; dan 5) pemimpin sebagai integrator yang efektif, rasional, objektif dan netral.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan pemimpin yang dapat menjalankan fungsi-fungsi tersebut.
Dalam upaya mewujudkan pendidikan yang bermutu di sekolah dibutuhkan kepala sekolah yang menjalankan fungsi-fungsi tersebut dengan optimal. Menurut Hadari Nawawi (1995), fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kelompok kehidupan masing-masing yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada didalam, bukan di luar situasi sosial dan harus berusaha menjadi situasi sosial di dalam orgnaisasinya.

Untuk mendapatkan kepala sekolah seperti uraian tersebut, mungkin kita bisa belajar dari kepemimpinan pondok pesantren modern di daerah kita sendiri. Pemimpin dipilih dan diangkat dengan cara musyawarah dengan pola terbuka artinya semua anggota yayasan berhak menjadi pimpinan bahkan masyarakat disekitar pesantren tersebut (Zulmuqim:2020).

Dengan demikian kepala sekolah yang diangkat akan berusaha memajukan sekolahnya dalam rangka memenuhi tanggungjawab terhadap hasil musayawarah yang telah memilihnya.

Namun tentu saja hal ini tidak bisa diterapkan pada sekolah pemerintah karena pengangkatannya adalah melalui prosedur dan tes kompetensi yang telah ditetapkan. Untuk cara kerja pemimpinnya bisa saja dijadakan rujukan oleh para kepala sekolah negeri.

Kepemimpinan mutu di dalam dunia pendidikan tidak lagi menggunakan otoritas dan kekuasaan. Komite sekolah, administrator dan pemimpin harus memberikan sumber daya yang diperlukan para staf dan guru untuk menunjang keberhasilan sekolah (Gunawan,2015). Dalam kepemimpinan mutu pendidikan, setiap orang merupakan pemimpin.

Untuk mencapai visi pendidikan, pemimpin sekolah harus dapat memberdayakan para guru dan memberi mereka wewenang seluas-luasnya untuk meningkatkan pembelajaran. Mereka diberi keleluasaan dan otonomi dalam bertindak (Sallis, 2008).

Guru harus mengajak siswanya untuk memandang dirinya sebagai pemilik visi, mendengarkan dan bertindak berdasarkan gagasan, inovasi dan kreatifitas siswa guna mencapai visi tersebut. Sebagai pemimpin mutu, semua orang bertanggung jawab menghilangkan kendala pencapaian kinerja tinggi.

Visi sebagai pemberi arah bagi setiap orang untuk diikuti, dan setelah arahan diketahui, selanjutnya adalah menghilangkan rintangan yang menghalangi dirinya untuk menjadi seseorang yang berkinerja tinggi (Arcaro, 2005). Jadi kepemimpinan mutu adalah pemimpin yang mengarahkan semua anggota untuk mencapai visi yang telah ditetapkan.

Kegiatan kepemimpinan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu lembaga pendidikan Islam merupakan aktifitas pemimpin dalam upaya menggerakkan bawahan untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan tersebut memerlukan berbagai keterampilan dan sifat, serta komitmen terhadap prinsip-prinsip Islam yang terurai dalam Al Quran dan Hadits yang akan menjamin kepatuhan hakiki bawahan.

Keberhasilan kepemimpinan pendidikan dalam manajemen pendidikan Islam akan membawa pemberdayaan dan peningkatan mutu lembaga pendidikan Islam.

Dalam konteks manajemen pendidikan Islam, semakin tinggi seseorang menempati kedudukan kepemimpinan, ia harus mampu merumuskan kebijakan umum untuk dijalankan (dioperasionalisasikan) pemimpin yang lebih rendah. Sebaliknya semakin rendah jabatan kepemimpinan seseorang, ia harus lebih terfokus pada unit-unit yang menjadi bagiannya dan menguasai secara lebih detail (spesialis) permasalahan unit/bagian tersebut.

Kebersamaan, kerjasama dan kualitas kerja masing-masing kepemimpinan akan melahirkan lembaga pendidikan Islam yang bermutu tinggi.

Peter dan Austin, Sallis mengembangkan beberapa nilai yang dibutuhkan kepemimpinan pendidikan untuk melahirkan lembaga pendidikan bermutu tinggi, yaitu: 1) visi dan simbol-simbol, pemimpin pendidikan perlu mengkomunikasikan nilai-nilai institusi kepada para staf, pelajar, dan komunitas yang lebih luas; 2) MBWA (management by walking about), suatu penerapan gaya kepemimpinan yang lebih menekankan pada pelaksanaan/praktik. Gaya kepemimpinan ini sangat dibutuhkan bagi sebuah institusi; 3) fokus pada pelajar, artinya institusi perlu memiliki fokus yang jelas terhadap pelanggan utamanya, yaitu pelajar atau siswa; 4) otonomi, eksperimentasi dan antisipasi terhadap kegagalan, pemimpin pendidikan perlu melakukan inovasi di antara stafstafnya dan bersiap mengantisipasi kegagalan yang mengiringi inovasi tersebut; 5) menciptakan rasa kekeluargaan; pemimpin perlu menciptakan rasa kekeluargaan di antara pelajar, orang tua, guru, dan staf; dan 6) ketulusan, kesabaran, semangat, intensitas, dan antusiasme, sifat-sifat ini merupakan mutu personal yang esensial yang dibutuhkan pemimpin lembaga pendidikan.


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top