Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Festival Rinyuak Bertabuh, Masyarakat Bergembira

Dibaca : 356

Batuang Panjang, Prokabar — Akhirnya, Festival Rinyuak ditunggu-tunggu masyarakat Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam terlaksana penuh kegembiraan. Bagaimana tidak, ratusan masyarakat, perantau dan pengunjung berdatangan memadati lokasi lomba menangkap Ikan Rinyuak dan Pacu Biduak.

Kegiatan dipelopori Komunitas Pemuda Generasi Hamka Tanjung Raya (KPGH TJR) melalui binaan Camat Tanjung Raya, Handria Asmi. Festival tersebut berlangsung meriah dengan evoria masyarakat.

Selain Menangkap Rinyuak dan Pacu Biduak, kegiatan juga disertai mencari pensi secara bersama-sama. Lomba mewarnai sketsa Buya Hamka dari Taman Kanak-kanak (TK) Gugus I berjumlah 85 orang, turut meriah di Halaman Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.

“Kegiatan sebagai momentum pergerakan kebangkitan generasi muda, untuk membangkitkan kelestarian dan potensi alam Danau Maninjau,” ungkap Handria.

Festival yang sangat unik dan perdana dilaksanakan. Diharapkan menjadi media pelestarian sekaligus meningkatkan sumber daya manusia dalam melaksanakan sebuah iven dan organisasi yang baik di Kampung Halaman Buya Hamka tersebut.

“Kegiatan melibatkan Taman kanak – Kanak dalam menggambar sketsa Buya Hamka. Sebagai bentuk memperkenalkan Buya Hamka sejak sini sebagai sosok ulama panutan dan teladan,” ujarnya.

Sementara itu, Irfan Amran selaku tokoh masyarakat sekaligus Wakil Rakyat asal Sungai Batang tersebut mengucapkan terimakasih banyak kepada KPGH TJR, telah berfikir tentang pelestarian dan nama besar Buya Hamka yang menjadi teladan Umat Muslim.

“Pemikiran, tindakan dan aksi generasi penerus ini jelas jangka panjang, luas dan untuk lebih baik dimasa depan. Karena Festival ini mengangkat identitas budaya yang mengakar mendasar pada tatanan kehidupan masyarakat Danau Maninjau,” tuturnya.

Ia berharap, kegiatan tersebut hendaknya terus dievaluasi danberkelanjutan ditahun depan. Tentunya yang memiliki daya tarik secara menyeluruh.

“Pelestarian lingkungan terhadap ikan Rinyuak melalui perlombaan alat tangkap tradisional, akan melestarikan budaya menjaga kearifan lokal dan kelestarian ikan endemik tersebut. Nilai-nilai tradisional yang baik untuk Pelestarian. Dan untuk kedepan dukuangan semua pihak masyarakat, Komunitas lainnya dan Pemerintah Daerah secara penuh, jelas sangat diharapkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Rudi Tuscarora selaku Koordinator KPGH TJR menambahkan kegiatan Alan terarah tidak hanya kelestarian lingkungan, kearifan lokal penguatan identitas budaya Danau Maninjau saja. Bahkan lebih dalam terkait pengikat sama rasa dan sama senasip masyarakat untuk bersatu.

Kekompakan dan kebersamaan dalam tatanan berkehidupan bermasyarakat harus lebih ditingkatkan lagi. Karena rasa kepedulian dan senasip sepenanggungan saat ini menjadi pokok utama membangun negeri.

Menurut catatan sejarah, Sungai Batang merupakan kampung santri dan serambi mekah Sumatra Barat dahulunya. Syekh Tuanku Nan Tuo beserta minantunya Syekh Guguak Katur, dilanjutkan cucunya Syekh Muhammad Amrullah memiliki sebuah pondok Pesantren besar di Sungai Batang. Menjadikan daerah tersebut pusat pendidikan agama Islam di Agam bagian Barat dahulunya.

Ulama itulah pada akhirnya melahirkan keturunan dua ulama hebat dan pembaharuan. Syekh Abdul Karim Amrullah (Inyiak Rasul) dan Buya Hamka pun terlahir di Sungai Batang ini.

“Kekuatan ini salah satu magnet terkuat membuat wisawatan berkunjung. Terutama ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini. Hanya saja, potensi besar tersebut masih terpendam. Dan kita hanya butuh meningkatkan semangat kebersamaan dan kekompakan masyarakat untuk bangkit. Masyarakat kita ini hanya butuh bimbingan, arahan dan jalan untuk mengelola dan menjadi pemandu wisata,” tutupnya. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top