Features: Nagari Paninjauan, Ikhtiar dari Sepotong Tanah Surga

Penulis -

Kamis, 19 Maret 2020 - 18:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nagari Paninjauan, nampak tenang-tenang saja ketika sebalik urang sibuk membicarakan virus Corona. Nagari di Kecamatan X Koto Tanah Datar itu kehidupannya tetap seperti biasa. Masyarakatnya sibuk dengan aktifitas dan rutinitas sehari-hari.

Mereka tahu Corona yang sedang mengancam, tapi itu bukan alasan untuk mengurangi volume ikhtiar suci mereka yang mayoritas hidup sebagai petani. Mulai jam 07.00 WIb, mereka sudah bergerak dan bertebaran menuju parak masing-masing, mencoba mengais rezeki yang sudah disediakan oleh sang Khalik.

Tanah mereka subur, ibarat sepotong Tanah surga yang diturunkan di Paninjauan, dari tanah dan air yang sama mereka menjalani hidup, day by day. Sungguh potret sebuah kehidupan masyarakat pedesaan yang bersahaja dengan keseharian mereka.

Tak sabar mereka bertemu dan bercengkrama dengan tanaman mereka. Tak terkira senang hati melihat lado yang mulai berbunga, sunggah mencandu melihat daun seledri yang hijau rimbun menggairahkan, ditingkahi bawang perai yang mulai memecah, sawi yang siap dipanen, atau terong yang ukuran buahnya mulai ‘melihat” dan tak sabar ingin dibawa ke pasar.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Walau sebagain dari mereka terkadang hati terenyuh melihat lado daunnya keriting atau layu saat mulai berbuah. Atau, bawang perai yang daunnya sekarang banyak bolong dan membusuk karena ulat bersarang didalamnya. Seledri yang terlilat layu, kemudian hangus melekat ke plastik mulsa yang panas ditimpa matahari.

Para buruh tani, terutama yang perempuan, sudah menyebar pula menuju parak majikan. dengan topi caping dan tas bekal tersampir di bahu. Mereka tekun bekerja, sampai jam kerja mereka berakhir jam 17.00 WIB. Upah Rp70 ribu yang mereka terima dari cucur peluh mereka, terasa begitu manis dan legit. Lepas juga belanja sekolah anak besok pagi.

Itulah secuil dinamika keseharian masyarakat Paninjauan, Nagari rancak di kaki Gunung Marapi dengan ketinggian 700-800 meterr dpl. Mereka tekun, walau dengan berbagai persoalan yang menghantam pertanian mereka. Hari ini para petani di Nagari sentra holtikultura di jantung Sumatra Barat itu memang sedang kewalahan.

Banyak penyakit tanaman sekarang. Biar pestisida dan pupuk mahal diusahakan juga, supaya daun lado lurus dan bunganya mekar lagi untuk menjadi buah. Pestisida murah yang dulu ampuh membasmi hama, sekarang tak mempan lagi, hanya ditertawakan saja oleh ulat dan hama. Naik pula selera ulat sekarang, kalau sudah dilambuik dengan racun mahal, baru tertelentang dia.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Persoalan tak selesai sampai disana, ketika hasil panen dibawa ke pasar, harga yang ditemukan tak sesuai harapan. Beberapa waktu terakhir harga memang tak bersahabat untuk beberapa jenis komoditi. Sawi yang paling praktis, sebulan panen bisa dibawa ke pasar, sekarang harganya cuma Rp1000/kg, kalau dapat Rp2000 itu sudah bagus luar biasa.

Karena ada kalanya asal terjual saja, satu karung atau satu gulungan seberat 50kg, dibayar tukang pakang 20.000, miris. Padahal untuk membawa galeh dari parak ke jalan mereka harus memikul. Sungguh tak sebanding harga yang mereka dapatkan dengan biaya dan energi yang dikeluarkan. Namun, mereka pantang mengeluh. “Ya, segitulah rezeki kita”.

Paninjauan yang asri dan bersahaja, Nagari elok yang selalu menjadi rebutan para politisi yang ingin meraih kursi kekuasaan. Mereka tak terlalu memikirkan soal Pilkada, siapa yang akan jadi gubernur atau bupati, tergantung siapa yang pandai menggili mereka.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Bagaimana tidak, dengan jumlah pemilih 6500 dari empat jorong, Paninjauan adalah “gadis” yang sangat sexy dimata para pencari suara dan kursi. Tapi bagi mereka hal itu tak terlalu menjadi persoalan, hanya segelintir warga yang menaruh perhatian pada hal-hal seperti itu, tentunya dengan motivasi yang beragam pula.

Sama tak pedulinya mereka dengan dolar yang sekarang sudah 16 ribu, karena buat mereka dolar tak ada nilai tambahnya. Dolar hanyalah urusan orang kota dan bahan ocehan bagus pengamat ekonomi di televisi.

Mereka lebih enjoy membicarakan kondisi tanaman mereka dan perkembangan harga sayur mayur dipasar sembari menyeruput teh talue atau kopi sakarek di lapau, setelah shalat berjamaah di mesjid. Lapau adalah tempat ternikmat melepas penat setelah menumpahkan keringat seharian di parak.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB