Opini

Features: Irsyad Maulana, Sang Mutiara yang Semakin Redup


Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama)

LIMA tahun lalu, Semen Padang FC dibawah asuhan pelatih Jafri Sastra saya catat sebagai salah satu tim terbaik Kabau Sirah. Selain barometernya prestasi, yang mampu menembus babak 8 besar ISL, saya juga melihat deretan pemain yang komplit mengisi skuad. Tentunya dibelakang ada pelatih yang cakap berstrategi dan manajemen yang sehat.

“Seharusnya Semen Padang juara ISL 2014, bukan Persib.”bunyi massage yang dikirim seorang rekan pers ibukota. Ya, tentu saja jika saja semuanya berjalan fair. Tapi inilah sepakbola Indonesia, yang masih sarat dengan berbagai intrik.

Semen Padang saat itu memang mempesona. Bahakan tim juara Persib Bandung pun gemetar bertemu Semen Padang. Buktinya dua kali laga di fase wilyah, dua kali Persib dipermak Semen Padang, baik kandang maupun tandang. Memori 2014 yang manis, tapi ada pahit-pahitnya.

Dari belakang sampai depan, inilah tim 2014, Jandia Eka Putra; Hengki Ardiles, Novan Setya, Saefulah Maulan, Seftia Hadi; Yu Hyu-koo, Eka Ramdani, Hendra Bayaw, Esteban Vizcarra, M. Nur Iskandar, dan Osas Saha. Di barisan cadangan sperti Fakhrurrazi, Rudi, Airlangga Sucipto, Ricky Ohorella.

Terlepas dari hasil kontroversial yang menggagagalkan Semen Padang musim itu, saya merasa ada yang kurang dari skuad Semen Padang saat itu. Satu-satunya pemain yang paling ingin saya lihat ada di skuad, adalah Irsyad Maulana.

Ya, pemuda berkulit agak gelap, putra minang tulen, dan saya nilai sebagai bakat dan mutiara terbaik yang dimiliki sepakbola Sumbar. Saat itu dia masih berkostum Arema Malang, dan menjadi pemain muda yang sangat populer di Kota Apel itu.

Tahun berikutnya keingian itu terkabul. Irsyad akhirnya pulang, bergabung dengan tim kampung halamannya itu awal 2015. Saya menyambutnya dengan sebutan calon kapten tim masa depan, suksesor paling pas bagi sang legend Hengki Ardiles.

Sejak itulah, pemain kelahiran 27 September 1993 itu seolah identik dengan Semen Padang FC. Kiprahnya paling menggoda adalah membawa Semen Padang ke final Piala Jenderal Sudirman dan Indonesia Soccer Championship.

Di dua ajang itu Irsyad betul-betul top performance. Saya tak ragu memilihnya masuk “top 25” pemain yang berlaga di ISC versi goal.com. Dia begitu senang menerima hadiah lukisan animasi dirinya yang saya serahkan di Stadion H. Agus Salim Padang.

Dia adalah nyawa bagi Kabau Sirah, plus panggilan ke Timnnas sebagai ganjaran yang pantas untuknya. Fans Semen Padang pun tak tanggung-tanggung, entah siapa yang memulai memberinya julukan, “Neymar Ranah Minang”.

Sayangnya setelah itu, Irsyad mulai menurun, persisnya sejak Liga 1 2017. Irsyad tak bisa menyelamatkan Semen Padang dari degradasi. Walaupun begitu, loyalitas pada tim patut diacungi jempol karena dia tetap bertahan di Semen Padang yang terdegradasi ke Liga 2.

Sejumlah tawaran menggiurkan dari klub Liga 1 ditampiknya, demi cita-citanya ingin kembali membawa Semen Padang kembali ke LIga 1. Sebuah sikap yang banyak menimbulkan simpati dan respect untuk Irsyad

Cita-cita Irsyad terkabul, setelah bertarung di Liga 2 2018, Semen Padang dibawanya kembali ke Liga 1. Dan, dia mengawali Liga 1 2019 sebagai kapten tim, seiring pensiunnya Hengki Ardiles. Bersama Teja Paku Alam, anak Minang lainnya yang merapat musim ini, Irsyad adalah icon tim ini.

Tapi, hampir semusim berjalan penampilan Irsyad tidak begitu maksimal, seiring dengan kinerja tim yang sejak awal musim berkutat di papan bawah, bahkan zona degradasi. Sebagai kapten dan icon tim, Irsyad tak terlihat istimewa.

Irsyad seperti menghilang begitu saja di lapangan. Sangat jarang ecak kagum dan tepuk tangan dari tribun yang dialamatkan untuknya. Canon ball, free kick, placing cantik yang kerap berbuah gol indah, skill individu menawan, sungguh jarang terlihat lagi.

Walau Irsyad musim ini terlihat seperti pemain kebanyakan, tapi dia tetap tak tergantikan. Dia hanya absen kalau cedera atau akumulasi. Lihat statistik Irsyad, dia 25 kali tampil musim ini, 23 diantaranya adalah sebagai starter.

Tapi di masa Eduardo Almeida melatih, tidak maksimalnya Irsyad mulai terasa. Irsyad yang biasanya tak pernah dicadangkan, dalam dua laga terakhir masuk sebagai pemain pengganti. Dia yang biasanya main 90 menit, sudah 7 kali ditarik. Plus ban kapten pun telah berpindah ke tangan Dedi Gusmawan.

Sampai disini, publik pasti akan bertanya-tanya; ada apa dengan Irsyad? Permainan yang sering tak maksimal membuat fans Semen Padang lebih banyak mengelus dada dan kecewa. Gaya malasnya di lapangan membuat penonton terkadang kesal.

Mereka pastinya rindu gocekan indah, freekick mematikan, umpan akurat, dan plesing indah pemain nomor punggung 88 itu. Tapi sayangnya, kerinduan itu tak kunjung dapat, bahkan Irsyad justru semakin tenggelam. Terbaru, saat lawan Persija, masuk menggantikan Mariano Djonak Uropmabin, Irsyad nyaris tak bisa berbuat apa-apa di lapangan.

Tak banyak yang diinginkan fans Semen Padang untuk sang icon, di sisa 7 laga Semen Padang ini masih bisa melihat Irsyad yang sesungguhnya. Irsyad yang total, fighting spirit tinggi, dan mau bertarung membantu Semen Padang keluar dari situasi yang sulit ini dengan penampilan terbaiknya.

Kembalilah Seperti dulu, Irsyad.(*)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top