Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

FEATURE – Nestapa Covid Kapan akan Berakhir?


Oleh : Vinna Melwanty

Dibaca : 417

Hidup yang tenang, berubah drastis sejak Maret 2020. Orang melangkah dalam takut, sebagian tak peduli. Kedua-duanya, korban. Korban dirawat di rumah sakit, satu dua tiga dan seterusnya sampai ribuan orang. Yang meninggal dikubur dalam suasana tak lazim, di negeri yang dilanda musim yang ganjil.

“Sebanyak 17 persen rakyat Indonesia, yakin mereka takkan kena Covid-19,” kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo, dalam acara ILC TVOne, Selasa (20/10) malam.

Doni tak mengada-ada. Sebelumnya Kepala BPS Suhariyanto, merilis 17 persen responden merasa yakin tak akan tertular atau terinfeksi Covid-19. Sebanyak 12,5 persen menyatakan tidak mungkin dan 4,5 persen menyatakan sangat tidak mungkin mereka terpapar virus corona.

Itulah tugas berat Gugus Tugas, menolong rakyat Indonesia agar menjaga diri, bukan menjaga kesombongan dari wabah. Wabah di dunia bukan ini yang pertama. Jauh sebelumnya, para pendahulu kita sudah disapu oleh wabah flu yang terkenal itu. Juga wabah lainnya.

“Corona tak apa-apa,” kata seseorang dalam grup WAG yang saya ikuti. Yang lain menjawab,” taroklah tak apa-apa, tapi ini pandemi, namanya pandemi menular melampaui batas-batas negara,”kata dia. Lalu diskusi tak berlanjut. ‘Ayo pakai masker,” kata admin.

Ini sakit untuk manusia yang madar. Membiarkan virus masuk ke tubuh melalui mulut dan hidung. Lalu bersarang di paru-paru. Bagai laba-laba membuat sarangnya. Napas sesak, sesesak di pendakian panjang.

Ini bukan bualan. Data menunjukkan sampai Selasa malam saat ILC ditayangkan TV One telah 11.370 warga Sumbar terinfeksi Covid-19, naik 170 orang dari hari sebelumnya. Syukur ada yang sembuh 110 orang. Total sembuh 6.144 orang. Labor sudah memeriksa total spesimen 253.182.

Ini baru satu provinsi, bagaimana dengan satu pulau? Satu negara dan dunia yang semesta ini. Karena wabah sudah mewabah, maka kesadaran kolektif benar-benar diperlukan, agar nestapa ini selesai. Tidaklah Anda bertanya agak sekali saja pada diri sendiri atau pada alam, “kapan nestapa ini akan usai?”

Tidaklah Anda lihat ekonomi remuk bagai kerupuk terinjak, pergerakan orang dan barang terganggu, pertumbuhan ekonomi membuat jalurnya sendiri lalu menikik. Sekolah ditutup sudah 8 bulan. Tak terbayangkan bagaimana anak-anak terkurung di rumahnya sendiri.

Biaya hidup biaya apa saja terus ada, uang masuk terus berkurang. Pemerintah jungkir-balik menangani masalah ini, disalip pula oleh demo besar-besaran. Entah mana yang akan didahulukan. Tak satu du masalah sekali tiba di pundak bangsa yang sedang lelah ini.

Sebagai orang yang punya Tuhan, kita mengembalikan segalanya pada Sang Penguasa. Di sisi lain, tiap individu, semestinya berikhtiar untuk diri sendiri, seperti ia menggosok gigi tiap pagi. Ini wabah, semestinya kita memagar diri dengan iminitas dan mengikuti anjuran, jaga jarak, cuci tangan dan hindari kerumuman. Ini justru anggap tidak ada, padahal digigit nyamuk saja terasa perih.

Hidup kita bertukar sudah, dibalik sedemikian rupa oleh Tuhan. Jika tak cepat adaptasi, kereta akan meninggalkan Anda di peron. Kita tak boleh tinggal. Lalu kapan nestapa Covid ini akan berakhir? Tergantung kita mendisiplinkan diri dan anggota keluarga.**


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top