Padang, Prokabar – Seperti induknya, Indonesia, kondisi di Sumbar setali tiga uang. Pontang-panting menangani wabah Covid-19.
Kebijakan pemerintah Sumbar dinilai tidak konsisten, seolah-olah, ” taraso barek dilapehan.”
Angka Indonesia pada saat Lebaran total kasus sejak awal 1,73 juta. Yang sembuh Covid 1,58 juta dan wafat 47.617 orang.
Sehari sebelum lebaran 2021, Sumbar mencatatkan positif: 40. 111, sembuh: 36. 365 dan meninggal: 878 orang.
Menurut jubir Satgas Penanganan Covid Sumbar, Jasman, ada 3 daerah yang nyaris zona merah, Tanah Datar, Limapuluh Kota dan Pasbar. Daerah lain, tak cenderung mencemaskan yaitu zona oranye dalan risiko sedang.
Tak Konsisten
Ketua PSI Sumatera Barat, Faldo Maldini, dalam postingannya, Jumat (14/5) prihatin dengan kondisi Sumbar.
“Selamat Idul Fitri Sumatera Barat, meski terasa sangat berat,” katanya.
Ia mengkritisi kebijakan pemerintahan yang tidak konsisten. “Jelang hari raya Idul Fitri angka warga yang terinfeksi semakin naik. Butuh ketegasan dan konsistensi dari pemerintah.”
Pemerintah Sumbar masih belum terlalu serius tampaknya. Kebijakan pun berubah-ubah. Gubernur mengeluarkan surat yang mengoreksi suratnya sendiri.
Hanya dalam tiga hari, kata Faldo, Gubernur Sumatera Barat mengeluarkan kebijakan yang berbeda. Tanggal 8 Mei, Surat Edaran Gubernur Mahyeldi membatasi perayaan Idul Fitri di daerah merah dan oranye. Kemudian, 11 Mei, surat itu direvisi, bahwa perayaan lebaran diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. Tampak sekali, kebijakan ini tidak memperhatikan nasib banyak orang dari awalnya.
“Raso kabarek dilapehkan, raso kasulik dielakkan, bak cando mangganggam baro.”
Perencanaan yang matang dari kepemimpinan tidak tampak, sebut Faldo.
“Mudah sekali Pak Gubernur mengubah-ubah aturan main. Pemerintah lama-lama tidak lagi dipercaya, semuanya bisa berubah dengan begitu mudah. Kredibilitasnya menjadi hilang.”
Dalam analisa Faldo gubernur tidak merasakan perubahan itu berdampak besar. Yang paling menakutkan, dalam situasi sulit adalah ketidakpastian.
” Perubahan surat, bukan lah sekadar surat. Banyak yang tiba-tiba semangat, namun banyak juga yang tiba-tiba sekarat. Tasingguang kanai miangnyo, tagisia kanai rabehnyo,” tulisnya.
Pada bagian lain ia menilai, kepemimpinan yang betul-betul memberikan ketenangan yang diperlukan hari ini. Banyak dari yang terhimpit ekonomi. Jangan sampai, kapal Sumatera Barat tidak punya haluan, apalagi tidak punya nahkoda.
” Rumah indak batungganai, kappa nan indak banang kodoh.”
Ditambah lagi, sebut alumni UI ini, kasus terbaru pengadaan hand sanitizer mencapai Rp 4.5 miliar, ditambah sekitar Rp 7 miliar pengadaan barang dalam situasi Covid-19, menjadi temuan BPK. Demikian Faldo. (nrs)
















