Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Fakhrizal, Selepas Jadi Gubernur Harus Jadi Menteri

Dibaca : 150

Padang, Prokabar – Sudah tradisi Gubernur Sumbar jadi menteri, kecuali Pak Irwan Prayitno karena dari PKS yang bukan partai koalisi. Ini susahnya kalau koalisi-koalisi, yang baik tak terpakai, tapi mana tahu 2024 terpakai.

Kini Sumbar sajalah dulu, siapa kira-kira calon gubernur yang ada sekarang, bisa jadi menteri? Jadi menteri oke, tapi lebih oke lagi, kasih jatah kursi sekolah hebat SMP dan SMA pada anak-anak miskin.

Fakhrizal dong. Kenapa? Pertama sejak remaja dia polisi, jelas bukan orang politik. Alasan lainnya? Barang siapa yang berhasil melakukan pendekatan dengan rakyat tanpa dibuat-buat, tanpa setingan bukan untuk popularitas, maka dia akan sukses. Bagaimana caranya? Bukan cara yang sekarang sedang berlaku yang penuh kepura-puraan itu. Fakhrizal sudah tahu caranya yang alami, natural dan bukan dibuat-buat itu.

Menurut kajian tim Fakhrizal-Genius Umar, pasangan ini, punya kelebihan yang tak dimiliki pasangan lain. Apa itu? Merakyat. Kita lihat satu-persatu. Fakhrizal, sejak remaja sudah akrab dengan Minang, bahkan dia salah seorang pemain bola handal, yang saat tinggal di Air Tawar Padang, ikut seleksi PSP Yunior. Anak Kamang Mudiak, Agam ini, tipikal anak cita-cita orang tua Minang, jadi polisi.

Ia lahir 1963, pas jadi gubernur 5 tahun, lalu jadi menteri. Salah satu modalnya ya itu tadi bisa dekat dengan rakyat tanpa dibuat-buat. Kalau soal lobi ke pusat, semua pintar, pidato semua pintar, naik oto ngeong-ngeong, hahaha Fakhrizal sudah kenyang. Rapat ke rapat saja kerjanya? Itu gaya lama. Gaya sekarang eksekusi, rapatnya sedikit saja.

Berpikir berat Sumbar harus maju lima tahun ke depan? Kalau tak bisa dikerjakan oleh Bappeda, tutup saja Bappeda Sumbar itu. Masih ingat ketua Bappeda Thamrin Nurdin? Tak tahukan, tak ingatkan? Makanya, kita suruh sajalah Fakhrizal ini lagi jadi gubernur, pilih ketua Bappeda yang hebat, menjujut lari Sumbar setelah ini, percayalah kalau tidak.

Sering ke bawah, ke Jakarta Wagub atau Sekda saja, kalau tak tembus oleh mereka baru gubernur terjun, tak juga, ajak wartawan, terbuka semua pintu.

Pokoknya Pak Fakhrizal, urus rakyat saja. Bupati walikota yang sok mantap, tolong “dididik”, sebab sikap semacam itu sering menghambat kemajuan. Mau contoh? Hehehe, banyak.

Kalau urus rakyat jangan sering-sering pakai oto ngeong-ngeong Pak Fakhrizal, kenapa? Libak rakyat nanti. Tapi jangan tak pakai voorijder pula sama-sekali, hambar saja gubernur kami, tak enak pula rasanya.

Anak Miskin

Tradisi jadi menteri itu, sebenarnya bukanlah tradisi, tapi “kalau bisa” jadi menteri jugalah, ada rasa bangga urang awak sebab sejak dulu kita memang dikelilingi rasa bangga akan tokoh-tokoh.

Dari seribu ada agak lima orang yang bangga, jadi kagum dan menyekolahkan anaknya agar sehebat tokoh-tokoh itu. Lima orang saja untuk setahun anak Minang yang benar0benar jadi orang, kan bagus itu. Jangan setelah pintar dia malah tak mau pulang. Ini bahaya.

“Tugas Fakhrizal harus ke sana, bersama wagubnya yang doktor. Jika pembangunan fisik saja, bawalah ke sinilah, biar saya jadi gubernur,” itu kata urang lapau di Piaman.

Bagaimana hendaknya, gubernur dan wagub baru ini, bisa melahirkan orang pintar agak lima setahun, ulama agar dua setahun, jadilah. Dua ulama kalau sedalam Ustad Somad, bergetar bisa Sumatera dibuatnya.

Masa ndak bisa? Lepas anak-anak kita sekolah dan kuliah kemana saja. Sekolah hebat itu bagi jatah kursinya pada anak-anak desa, yang miskin, cobalahlah lihat kalau ndak mendudu lari oto Sumatera Barat ini, entahlah.

Beasiswa cukup ada dana Rajawali, lobang yang lain bisa dicari. Sekarang, Fakhrizal tinggal bilang, “anak-anak miskin, urang kampuang, diberi jatah di sekolah hebat.” Kapan lagi memihak pada orang kecil, yang menggarik jakun-jakunnya melihat sekolah, melihat anak orang sekolah tinggi-tinggi.

Kapan perlu jangan pandang bulu, anak pintar anak setengah pintar hayo sekolah perai. Kalau bodoh? Tak ada yang bodoh, yang ada: salah menyekolahkan anak. Dia mau membuat lemari, disekolahkan ke SMA. Dia hendak main basket, pintar dan talentanya di sana, dimasukkan juga ke kejuruan. Jadi bebaskan saja peserta didik memilih sekolahnya, soal pintar bodah, itu soal gelek dan kiat saja.
Nah, ayo pilih Fakhrizal, kita giring polisi jenderal ini mengikuti kehendak baik rakyat Sumbar. (Malin Kapalo Koto)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top