Fakhrizal: Jalan Tol Harus Menguntungkan Semua Pihak

Penulis -

Senin, 5 Oktober 2020 - 21:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Sebelah barat Sumatera Barat adalah laut, ke sananya anak benua India, makin ke sana Afrika. Ke timur ya Riau. Dikunci oleh Kelok Sembilan, yang sekarang sudah bagai kota dalam rimba raya. Itu saja belum cukup. Sumbar perlu infrastruktur lainya, jalan kereta api dan tol.

Kini tol sudah dibuat. Belum sudah. Panjang dari sana, pendek dari sini. Baru 4,5 Km. Beringsut. Sama-sama kita bantu pemerintah menyelesaikan tol ini, sebab Sumbar hanya kebagian sirip, sedang tol tulang ikannya, akan terbentang di tengah Sumatera dari Lampung sampai ke Aceh. Orang dapat, awak tidak, manalah bisa.

Fakhrizal melihat, tol penting untuk pergerakan barang dan orang. Salah satu kasus pergerakan orang antarkota adalah saat Idul Fitri dan akhir pekan. Sedangkan untuk distribusi barang, makin ke depan, kian penting kecepatan.

Riau makin membutuhkan kebutuhan harian, jika truk-truk dari Sumbar lamban masuk ke Pekanbaru, bisa dilibas oleh daerah lain.

Masalah pembebasan tanah, di Sumbar memang terlihat bermasalah, karena memang sedang tak ada masalah. Menuduh orang mengipas-ngipas, sama dengan memperlambat pembangunan tol tersebut. Di sinilah gubernur Sumbar mesti bekerja dengan gaya Minangkabau itu. Kalau di ruang kantor saja, tak pernah basobok jo rakyat, alamat banyak program akan bermasalah.

Fakhrizal diingatkan oleh tua-tua adat di Agam, agar: Alun rabah lah ka ujuang, alun pai lah babaliak, alun dibali lah bajua, alun dimakan lah baraso. Maksudnya, menjadi pemimpin di Minangkabau, pandangan harus jauh ke depan,visioner dan menguasai manajemen risiko, guna membaca masa depan itu.

Saripati ajaran itu, ia akan terapkan dan jalan tol tak bisa makin keker dari Padang saja, harus turun. Dima tumbuah kai ka sinan manyiangnyo. Kata tetua adat ke Fahrizal, ia harus memahami kilik-kilik kecek dan gamak Minangkabau, sebab tanpa itu akan ketahuan ia tak jujur. Maka jujur sajalah pada rakyat.

Batang pua jo batang kincuang
ambiak umbuiknyo ado gunonyo
Disapuah bana ameh lancuang
kilek timbago nampak juo.

Pepatah ini ini maksudnya, menjadi gubernur jangan berpura-pura baik, kerja keras dan tulus. Jika itu yang terjadi, lambat laun rakyat akan tahu. Karena itu ke depan, khusus untuk jalan tol, harus berjujur-jujur saja dengan rakyat. Kata dia, pejuang-pejuang dulu tak dibayar, rela memberikan harta dan nyawa.

“Kini segala karena hidup negara sudah agak berkeadaan, maka rakyat tentu harus dipahami maunya.”

Maka karena pemilihan dilaksanakan Desember, maka gubernur baru, yaitu Fakhrizal, Insya Allah, takkan lama lagi dilantik. Sejak itu dipijak gas untuk tol, demi kebaikan ekonomi bersama, Sumatera Barat. (rls)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB