Erupsi Berkepanjangan Berdampak Terhadap Peladang di Salingka Marapi

Penulis -

Kamis, 4 Januari 2024 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tanah Datar, Prokabar- Erupsi berkepanjangan berdampak terhadap peladang di salingka gunung marapi. Seperti di kenagarian Andaleh, Batipuh, Tanah Datar, petani ladang merugi karena tanaman mereka rusak dan bahkan busuk sehingga tidak bisa untuk dipanen dan dipasarkan.

Nuzul Karnaini, salah seorang peladang Andaleh mengatakan dampak erupsi marapi yang sudah lebih satu bulan membuat ladang sayur mayur seperti kol, bawang prei dan saledri miliknya rusak. Umumnya, tanaman menguning setelah dihujani abu vulkanik.

” liat saja, itu pucuk diatas bawang preinya membusuk. Kalau saledri, seharusnya sudah bisa dipanen tapi ini sudah tidak bisa,” katanya sambil menunjuk tanaman bawang prei miliknya.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Saat ini, dia hanya bisa mengandalkan tanaman yang masih terselamatkan untuk dipanen.

” solusinya ya itu, membersihkan abu dari sayur. Kapan abu itu turun kan kita tidak tahu. Kalau malam, paginya kita bersihkan dengan air biar tidak busuk. Abu yang turun kan panas, itu yang membuat tanaman busuk” ujarnya lagi.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Adapun solusi lain ungkapnya, petani menyemprotkan obat terhadap tanaman yang terdampak abu vulkanik.

” kalau soal sayur mayur nagi petani di salingka gunung marapi, pasti terdampak karena abu vulkanik ini,” lanjutnya lagi

Akibat banyaknya peladang yang mengalami gagal panen, berdampak dengan kenaikan harga sayur mayur baik ditingkat petani maupun di pasaran.

” bawang prei saja, harga diladang 17 – 18 ribu rupiah perkilogram. Harga bawang prei sudah naik juga dari dulu. Kalau saledri itu yang naik sekali mencapai 20 ribu rupiah perkilogramnya dari harga normal hanya 8 ribu rupiah sekilo,” sampainya.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Petanipun memprediksi, dalam tiga bulan kedepan sumbar bakal mengalami kelangkaan sayur mayur.

Hal ini terjadi, karena sebagian peladang di salingka gunung marapi menghentikan sementara untuk berladang hingga kondisi marapi kembali normal.

” bisa saja Sumbar dalam tiga bulan nanti sayur akan langka. Soalnya, tanaman yang berpucuknya kasar dan berbulu itu sangat rentan terkena abu marapi,” tutupnya. (eym)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB