Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Epyardi Asda : PE Sumbar Kurang 7 Persen, Saya Mundur Dari Gubernur

Dibaca : 472

Padang, Prokabar -Stagnasi pertumbuhan ekonomi Sumbar dibahas dalam diskusi tokoh masyarakat, jurnalis dan mahasiswa dengan Epyardi Asda, Selasa (7/1) di Padang.

Dalam diskusi itu, disebutkan Sumbar harus punya lompatan, dan harus mampu mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen. Hal ini bisa dilaksanakan dengan sosok gubernur yang kuat dan punya visi.

Ketua Asita Imdonesia, Asnawi Bahar memaparkan bahwa sejak 2014 pertumbuhan ekonomi Sumbar seakan stag diangka rata rata 5%. Padahal, Sumbar sebenarnya punya potensi besar, selain kecerdasan intelektual yang sudah terkenal kemana-mana.

“Soal SDM, Sumbar tak usah diragukan lagi. Tapi, kenapa pertumbuhan ekonomi kita stag diangka 5,16 persen sejak lima tahun terakhir. Ini yang jadi pemikiran kita bersama,” ungkap Asnawi.

Menurut Asnawi yang akrab disapa Ucok, ada 3 kekuatan besar Sumbar yang bila dikelola dengan baik akan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi menjadi 7%>

“Tiga kekuatan Sumbar iti adalah Pariwisata, Perikanan dan pertanian. Dengan kekuatan ini, upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sumbar menjadi 7% akan bisa terwujud. Tapi ini tidak mungkin terjadi bila tidak melibatkan semua stakeholder. Apakah dari kalangan pengusaha, praktisi, akademisi, Ormas termasuk kalangan generasi mudan dan tokoh masyarakat,” ungkap mantan Ketua Kadin Sumbar ini.

Statemen dan pandangan Asnawi Bahar, disikapi serius mantan anggota DPR-RI utasan provinsi Sumatera Barat selama 3 priode Epiyardi Asda, dimana daerah ini sebenarnya amat mudah mendongkrak tingkat perekonomian lebih dari 7%.

Alasan Epiyardi mengatakan mudah, karena ia menilai dengan sikap dan naluri dagang orang Minang, yang saat ini tinggal memperaktekknnya.

“Selama ini kita tidak pernah memperaktekkan jiwa dagang yang kita miliki, kalau itu kita lakukan maka peningkatan ekonomi Sumatera Barat bisa mencapai 10%,” tegas Epiyardi.

Selain itu, pemimpin Sumbar kedepan harus memiliki net working yang baik kepada pemerintah pusat dan pengusahan atau investor nasional dan internasional, sehingga peningkatan ekonomi dapat dilakukan.

‘Basis utama peningkatan ekonomi Sumbar melalui usaha kecil, dengan bantuan dari pemerintah melalui kementrian serta dinas terkait, melalui penganggaran APBN yang dimiliki kementrian,” tambahnya.

Selain pemaparan tersebut, beragam masukan juga dilontarkan sejumlah ahli dan akademisi. Masukan tersebut menjadi khazanah dalam menambah refersensi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar.

“Peningkatan 2 persen sama dengan harus ada investasi sebesar 10 triliyun di Sumbar, dan haris mampu membuka 100 ribu lapangan kerja, inj yang harus dipikirkan oleh Pemimpin. Selain itu, soal daya beli juga sangat mempengaruhi  pertumbuhan ekonomi,” sebut dosen Fisip Unand, Ilham Adelano Azre.

Sementara itu Febby dt Bangso mengapresiasi elaborasi pemikiran ini, sehingga bisa menjadi masukan bagi calon gubernur.

“Diskusi ini tidak akan berhenti sampai disini, semoga diskusi ini punya manfaat bagi pak Epyardi Asda jika sudah memutuskan untuk maju dalam Pilkada,” kata Dt Febby.

Epyardi Asda mengaku punya strategi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi ini.

“Seandainya saya jadi gubernur, jika dalam setahun saya tidak mampu mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen, maka saya akan mundur,” katanya optimis.

Diskusi terbatas ini dihadiri Prof. Syahrial Bakhtiar (Warek IV UNP), Prof. Ardipal (Warek III UNP), Asrinaldi (Akademisi Fisip Unand), Indra Dt Rajo Lelo (Wakil Ketua DPRD Sumbar), mahasiswa dan sejumlah pemred media cetak, elektronik dan online. (rls)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top