Penulis Yuwanda Erianti
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Ada momen dalam hidup sebagai mahasiswa, ketika ia merasa sudah mengetahui segalanya. Saat itu, ia menyandarkan diri pada gelar, nilai, atau bahkan jumlah buku yang dibaca. Namun, apakah ini tanda dari kepandaian sejati, atau justru jebakan yang mengarah pada kebodohan yang lebih dalam? Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Simone de Beauvoir dalam karyanya “The Ethics of Ambiguity” (1947): “Kebodohan bukanlah ketiadaan pengetahuan, melainkan keteguhan pada klaim atas pengetahuan yang tak pernah kita pahami sepenuhnya.”
Sejalan dengan itu ada juga satu pemikiran yang saat ini masih membekas yang diungkapkan oleh WD 3 Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Dr. Abdullah Khusairi, dalam tulisannya “Ketika Kebodohan Telah Tiba” “Kebodohan terbesar bukan datang dari ketidakmampuan untuk tahu, melainkan dari keyakinan bahwa kita sudah tahu semua yang perlu kita tahu.”
Pernyataan ini seperti kaca pembesar yang menyinari kegelapan dunia intelektual. Ketika mahasiswa sering terperangkap dalam rasa puas diri yang palsu, tanpa menyadari bahwa ada begitu banyak yang belum ia kuasai. Sebagai mahasiswa, apakah kita sudah berhenti bertanya atau justru semakin terdorong untuk menggali lebih dalam?
Ketika merasa telah menguasai segala hal, justru ini sedang membuat siapa saja terjebak dalam lingkaran setan epistemologis yang ia ciptakan sendiri. Cognitive Dissonance perasaan tidak nyaman yang muncul saat terpapar dengan informasi yang bertentangan dengan apa yang di yakini, ini menjadi penghalang utama dalam perjalanan intelektual. Kita lebih memilih bertahan pada pengetahuan yang sudah ada, daripada mempertanyakan, mengkritisi, atau bahkan meragukan
Cobalah untuk mengenang beberapa kali dalam hidup, saat diri merasa sudah cukup memahami, merasa lebih tahu daripada teman-teman sekeliling. Sebagian besar dari kita sering kali terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai intellectual illusion—ilusi intelektual yang muncul saat merasa telah mencapai puncak pemahaman. Namun, semakin seseorang merasa telah menguasai dunia pengetahuan, semakin besar potensi untuk terperangkap dalam kebodohan yang tak terlihat.
Menurut data yang dipublikasikan dalam International Journal of Educational Psychology (2023), mahasiswa yang merasa telah mencapai puncak pengetahuan cenderung berhenti berpikir kritis. Mereka merasa puas dengan apa yang mereka ketahui, padahal banyak teori, pendekatan, dan perspektif lain yang belum mereka eksplorasi. Ini adalah fenomena yang menggambarkan betapa kebodohan yang tersembunyi dalam keangkuhan intelektual dapat begitu berbahaya.
Di dunia yang penuh dengan informasi, kita sering kali berpikir bahwa semakin banyak informasi yang kita konsumsi, maka kita akan semakin pintar. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Penelitian yang diterbitkan dalam Social Cognitive and Affective Neuroscience Journal (2022) menunjukkan bahwa mahasiswa yang merasa telah menguasai segala hal justru menilai pengetahuan mereka lebih tinggi dari kenyataan. Mereka tidak lagi merasa perlu bertanya atau menggali lebih dalam, karena merasa cukup dengan pengetahuan yang mereka miliki.
Efek Dunning-Kruger suatu fenomena psikologis yang banyak dibahas dalam literatur pendidikan menyatakan bahwa seseorang yang kurang kompeten sering kali menilai dirinya lebih kompeten daripada yang sebenarnya. Ini adalah kenyataan yang kita hadapi setiap hari. Kemampuan untuk menghafal definisi atau menyelesaikan ujian bukanlah bukti sejati pemahaman kita tentang materi.
Socrates, seorang filsuf terbesar sepanjang sejarah, pernah mengatakan, “Aku tahu bahwa aku tidak tahu.” Dalam dunia akademik yang sangat kompetitif, banyak mahasiswa yang terjebak dalam usaha untuk menunjukkan citra diri sebagai orang yang tahu segalanya. Namun, apakah mereka benar-benar tahu? Sebuah studi yang dilakukan oleh American Educational Research Association (2021) menunjukkan bahwa mahasiswa yang menyadari ketidaktahuan mereka cenderung berkembang pesat dalam karier akademik dan profesional. Mereka terus mencari pengetahuan baru, mempertanyakan asumsi yang ada, dan memperkaya perspektif mereka. Kesediaan untuk menerima ketidaktahuan adalah langkah pertama menuju pemahaman yang lebih mendalam.
Pada akhirnya, kebodohan yang paling berbahaya bukanlah ketidaktahuan itu sendiri, tetapi keengganan untuk menerima ketidaktahuan tersebut. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Harvard University Press (2020) menyebutkan bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang terus belajar dan berkembang, bukan mereka yang merasa puas dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Dalam dunia yang terus berubah ini, kemampuan untuk terus beradaptasi dan menerima kenyataan bahwa tidak ada yang benar-benar tahu segalanya adalah sebuah kewajiban.
Bagi mahasiswa, langkah pertama yang harus diambil adalah menanggalkan ego intelektual yang menghalangi perkembangan. Perlu untuk terus bertanya, mengeksplorasi, dan menerima bahwa pengetahuan yang dimiliki hanyalah sebagian kecil dari pengetahuan yang ada di dunia ini. Seperti yang pernah dikatakan oleh Albert Einstein, “Lebih baik menjadi orang yang tidak tahu dan terus belajar, daripada orang yang merasa sudah tahu segalanya.”
Dengan pemahaman ini, mahasiswa tidak hanya akan memperkaya ilmu, tetapi juga akan belajar berpikir kritis dan terus berkembang. Ini adalah jalan menuju kebijaksanaan sejati. Sebagaimana yang pernah diperingatkan oleh Dr. Khusairi, “Jika kamu merasa sudah cukup tahu, berhati-hatilah, karena saat itu kebodohan baru saja datang.”
















