Padang, Prokabar – Bahasa dan filsafat tidak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Tugas utama dari filsafat adalah sebagai analisis konsep-konsep dimana untuk menjelaskan konsep-kosep tersebut maka bahasalah yang dapat mengungkapkannya.
Bahasa merupakan suatu simbol berupa urutan bunyi dan memiliki makna serta merupakan alat komunikasi bagi manusia. Berdasarkan pernyataan tersebut maka hubungan bahasa dan filsafat dapat kita lihat secara epistemologi.
Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani. Epistemologi terdiri dari dua kata yaitu episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang memiliki arti ilmu.
Jadi, epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat, makna, isi, sumber, dan proses ilmu. Jadi epistemologi berarti “diskusi tentang pengetahuan”.
Istilah epistemologi juga berkaitan dengan konsep ilmu pengetahuan, yaitu pengetahuan yang mengarah pada pemahaman tentang kebenaran.
Oleh karena itu, pembahasan epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas tentang asal usul, struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan.
Epistemologi merupakan diskusi tentang bagaimana kita memperoleh pengetahuan: apa sumber pengetahuan?
Apa jenis, ruang lingkup dan ruang lingkup pengetahuan?
Apakah mungkin bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan?
Sejauh mana pengetahuan itu nyata bagi orang-orang?
Dengan cara ini, pengetahuan yang dihasilkan diharapkan memiliki sifat-sifat tertentu yang diperlukan dari pengetahuan ilmiah, yaitu, sifat rasional yang terbukti dan memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya menjadi pengetahuan yang andal.
Teori korespondensi mengatakan bahwa suatu pernyataan dianggap benar jika terdapat fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut.
Selain itu dalam epistemologi dikenal juga teori kohorensi yang artinya bahwa sesuatu pernyataan dianggap benar apabila konsisten dengan pernyataan sebelumnya dianggap benar.
Pada pemaparan di atas telah dibahas bahwa epistemologi membahas tentang kebenaran, maka epistemologi disebut juga dengan logik, yaitu ilmu tentang pikiran atau ilmu tentang metode (cara berpikir).
Namun, logika dibagi menjadi dua bagian, yaitu logika minor dan logika mayor. Logika Minor meneliti struktur pemikiran dan postulatnya, seperti silogisme. Logika mayor mempelajari pengetahuan, kebenaran dan kepastian, yang mirip dengan ruang lingkup epistemologi.
Berdasarkan pengertian ini, metode memperoleh kebenaran epistemologis ilmu pengetahuan harus didukung oleh sistem dan prosedur yang sistematis.
Pengetahuan yang benar tidak lepas dari masalah metodologis. Disebut sains karena memiliki metode. Ada 6 metode yang dibucarakan dalam epistemology yakni pertama, metode empiris yaitu serangkaian fakta/kenyataan yang dapat dibuktikan tingkat kebenarannya melalui pengamatan indrawi manusia.
Kedua, metode rasionalisme yaitu memperoleh pengetahuan berdasarkan akal pikiran semata yang bersifat logis dengan melalui penalaran.
Ketiga, metode fenomenalisme yaitu pengetahuan diperoleh didasarkan pada dua dimensi rasional dan empiris sebagai sebuah fenomena yang tidak dapat diabaikan eksistensi salah satu diantaranya.
Keempat, metode dialektis yaitu pengetahuan diperoleh berdasarkan sifat tesis dan antitesis sehingga pengetahuan baru yang diistilahkan dengan sintesis dapat diperoleh.
Kelima, metode institusinisme yakni memperoleh pengetahuan melalui intuisi. Intuisi semacam lubuk hati yang jernih yang pada itu menghasilkan pengetahuan yang sahih.
Keenam, metode kontemplatif yakni Memperoleh pengetahuan melalui refleksi mendalam, yang kemudian menghasilkan semacam refleksi rasional dan kritis terhadap sesuatu, yaitu pengetahuan itu sendiri.
Penjelasan di atas dapat kita terapkan dalam sebuah penelitian bahasa. Dalam sebuah penelitian bahasa seorang peneliti akan menggunakan metode untuk memperoleh data yang diharapkannya.
Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi ilmiah adalah kajian tentang kaidah-kaidah yang terdapat dalam metode ilmiah. Salah satu metode yang dapat diterapkan dalam penelitian bahasa adalah metode intuitisionisme.
Jika dikaitkan dengan penelitian bahasa maka metode intuitisionisme sangat dibutuhkan terutama bagi peneliti yang meneliti bahasa pertamanya atau bahasa ibu. Salah satu contoh dapat kita lihat pada penelitian fonologi bahasa Minangkabau.
Ketika peneliti melakukan penelitian dengan mewawancari seorang informan maka intusi kebahasanya sangat berperan di sini seperti ketika informan menyebutkan beberapa kata dimana dalam kata tersebut ada bunyi /f/ dan /v/ seperti data berikut:
famili ‘kaum keluarga; kerabat’
fajar ‘cahaya kemerahan di langit sebelah timur pada menjelang matahari terbit’
februari ‘bulan ke-2 pada tahun masehi’
tivi ‘televisi’
vas ‘tempat bunga untuk hiasan di atas meja’
veteran ‘bekas prajurit’
Pada data di atas dapat kita lihat bahwa setiap kata pada data tersebut terdapat bunyi /f/ dan /v/.
Pada saat informan menuturkan kata-kata tersebut secara intusi peneliti dapat menganalisis bahwa bunyi yang terdapat pada kata-kata tersebut tidaklah benar.
Hal ini disebabkan karena dalam bahasa Minangkabau tidak ada bunyi frikatif /f/ dan /v/. Bunyi /f/ dan /v/ dalam bahasa Minangkabau dilafalkan dengan bunyi /p/.
Begitu juga dengan bunyi /z/ dalam bahasa Minangkabau tidak mengenal bunyi /z/ bunyi ini biasanya dilafalakan oleh penutur bahasa Minangkabau dengan bunyi /j/. Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa metode intuitif sangat berperan penting dalam penelitian khususnya yang berkaitan dengan bahasa ibu seorang peneliti.
Pada pernyataan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa epistemologi yang merupakan watak dan kebenaran pengetahuan manusia sangat berkaitan dan dibutuhkan dalah sebuah penelitian bahasa. (**)
















