Ekonomi

Eksploitasi Geothermal di Solsel Diminta Gunakan Tenaga Lokal

Padang, Prokabar – Investor yang melakukan eksplorasi geothermal di Solok Selatan diminta untuk menggunakan tenaga kerja lokal sehingga angka pengangguran di daerah tersebut berkurang.

“Kita sudah minta dan investor menyanggupi menggunakan tenaga kerja lokal,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumbar, Maswar Dedi, Jumat (7/12).

Tenaga kerja yang digunakan itu bukan tanaga ahli, tapi tenaga kerja non skil yang disesuaikan dengan kebutuhan dan sumber daya manusia di daerah eksplorasi.

Hal itu diyakini akan memberikan efek positif bagi masyarakat sekitar eksplorasi geothermal. Itu terbukti saat proses pengeboran awal di PT Supreme Energy di Solok Selatan.

Puluhan hingga ratusan masyarakat sekitar diikutsertakan dalam proses pengeboran tersebut. Maswar menambahkan, selain keuntungan di bidang tenaga kerja, daerah sekitar juga akan mendapat dampak positif di berbagai bidang seperti infrastruktur, sosial, kesehatan hingga pendidikan. Keuntungan itu bisa didapat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Disebutkannya, saat ini sudah banyak negara di dunia yang maju karena pemanfaaatan geothermal. Sumbar bisa menuju hal yang sama, karena memiliki 17 titik panas bumi yang dapat dikembangkan. Hingga sekarang baru tiga yang terekspos yaitu Solok Selatan yang akan beroperasi pada 2019, kemudian di Kabupaten Solok dan Pasaman.

Ia meminta masyarakat tidak terpengaruh isu-isu yang tidak benar yang berakibat kepada pro dan kontra kalau ada investor yang mau datang.

“Pemerintah mendukung masuknya investasi ke daerah karena dampak positifnya akan langsung dirasakan masyarakat. Apalagi geothermal adalah energi baru dan terbarukan yang tidak berbahaya,” katanya.

Sebelumnya Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit meminta semua pihak dapat membuka diri untuk masuknya investasi ke daerah, yang diharapkan dapat menggerakan perekonomian masyarakat.

“Investasi itu bukan hanya untuk pemerintah tetapi juga akan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Selain itu, wilayah Sumatera Barat sendiri diprediksi akan mengalami kekurangan pasokan listrik diperkirakan pada tahun 2019 hingga 2026. Sumber pemasok kebutuhan listrik di wilayah ini berasal dari tenaga disel sekitar 7 persen, tenaga hydro sebesar 43 persen, batubara sebesar 47 persen dan tenaga surya 3 persen.

Kebutuhan akan listrik menjadi penting untuk wilayah Sumatera Barat. Sehingga, pembangunan dan pengembangan panas bumi Gunung Talang-Bukit Kili ini akan menjadi salah satu solusi ketahanan rasio elektrifikasi di wilayah Sumatera Barat.(*/mbb)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top