Duh, Politik Identitas Agama Menguat di Sumatera Barat

Penulis -

Rabu, 24 Oktober 2018 - 19:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Politik identitas di Sumatera Barat makin menguat. Khususnya identifikasi diri melabeli dengan agama. Di satu sisi, politik identitas ini jika dikelola bisa menjadi Kekuatan. Tapi di sisi lain, politik identitas ini memgancam pluralisme dan multikulturalisme.

Hal tersebut terungkap dalam Focus Grup Discussion (FGD) “Politik identitas dan ancaman terhadap pluralisme masyarakat”, pada akhir pekan lalu.

FGD ini berangkat dari penelitian tentang politik identitas kelompok agama di Sumatera. Peneliti Ridha Ahida menemukan hal menarik di dua provinsi yaitu Sumatera Utara dan Riau.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

“Di Riau, ternyata politik identitas yang lebih kuat, identitas melayu bahkan didukung oleh kebijakan pemerintah. Visi gubernur 2020 salah satunya bicara tentang penguatan entitas Melayu,” jelas Ridha, yang juga Rektor IAIN Bukittinggi ini.

Dalam diskusi tersebut juga terungkap bahwa di Sumatera Barat, politik identitas agama jauh lebih kuat. Indikatornya seperti munculnya kelompok berbasis keagamaan yang mulai besar.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

“Isu Islam Nusantara, MUI Sumbar pertama kali mengkritik isu tersebut, termasuk soal kebijakan adzan yang dikeluarkan oleh Kementria Agama,” terang pengamat politik, Prof. Sri Zulchairiyah.

Menurut Sri Zulcairiyah, politik identitas yang menguat bisa mengancam pluralisme. Apalagi di daerah yang masyarakatnya heterogen. Namun jika dikelola, politik identitas keagamaan bisa menjadi kekuatan.

“Pemerintah harus berperan dalam mengelola politik identitas, agar bisa terarah,” lanjut pengajar di FISIP Unand ini.

Selain identitas keagamaan, etnis di beberapa daerah juga menguat, khususnya di Dharmasraya dan Pasaman Barat. Di wilayah tersebut, berbaur berbagai etnis, tidak hanya Suku Minang.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

“Identitas etnis di Dharmasraya cukup unik, karena asimilasi budaya berjalan dengan baik. Namun, dalam politik, seperti pemilihan bupati, politik identitas ini muncul,” kata Eris, salah satu peserta FGD.

Penelitian ini rencananya akan dilakukan di seluruh provinsi di Sumatera. “Dengan penelitian ini diharapkan bisa melihat realita kelompok sosial di Sumatera,” ungkap Ridha.(laf)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB