Padang, Prokabar – Politik identitas di Sumatera Barat makin menguat. Khususnya identifikasi diri melabeli dengan agama. Di satu sisi, politik identitas ini jika dikelola bisa menjadi Kekuatan. Tapi di sisi lain, politik identitas ini memgancam pluralisme dan multikulturalisme.
Hal tersebut terungkap dalam Focus Grup Discussion (FGD) “Politik identitas dan ancaman terhadap pluralisme masyarakat”, pada akhir pekan lalu.
FGD ini berangkat dari penelitian tentang politik identitas kelompok agama di Sumatera. Peneliti Ridha Ahida menemukan hal menarik di dua provinsi yaitu Sumatera Utara dan Riau.
“Di Riau, ternyata politik identitas yang lebih kuat, identitas melayu bahkan didukung oleh kebijakan pemerintah. Visi gubernur 2020 salah satunya bicara tentang penguatan entitas Melayu,” jelas Ridha, yang juga Rektor IAIN Bukittinggi ini.
Dalam diskusi tersebut juga terungkap bahwa di Sumatera Barat, politik identitas agama jauh lebih kuat. Indikatornya seperti munculnya kelompok berbasis keagamaan yang mulai besar.
“Isu Islam Nusantara, MUI Sumbar pertama kali mengkritik isu tersebut, termasuk soal kebijakan adzan yang dikeluarkan oleh Kementria Agama,” terang pengamat politik, Prof. Sri Zulchairiyah.
Menurut Sri Zulcairiyah, politik identitas yang menguat bisa mengancam pluralisme. Apalagi di daerah yang masyarakatnya heterogen. Namun jika dikelola, politik identitas keagamaan bisa menjadi kekuatan.
“Pemerintah harus berperan dalam mengelola politik identitas, agar bisa terarah,” lanjut pengajar di FISIP Unand ini.
Selain identitas keagamaan, etnis di beberapa daerah juga menguat, khususnya di Dharmasraya dan Pasaman Barat. Di wilayah tersebut, berbaur berbagai etnis, tidak hanya Suku Minang.
“Identitas etnis di Dharmasraya cukup unik, karena asimilasi budaya berjalan dengan baik. Namun, dalam politik, seperti pemilihan bupati, politik identitas ini muncul,” kata Eris, salah satu peserta FGD.
Penelitian ini rencananya akan dilakukan di seluruh provinsi di Sumatera. “Dengan penelitian ini diharapkan bisa melihat realita kelompok sosial di Sumatera,” ungkap Ridha.(laf)
















