Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

“Drakor” Kisah Cinta PSSI dan Shin Tae Yong Segera Tamat

Dibaca : 762

Oleh: Rizal Marajo
(Wartawan Utama)

IBARAT Drama Korea atau  ‘drakor’ yang mampu membuat masyarakat Indonesia tergila-gila, ternyata juga merasuki federasi sepakbola Indonesia, PSSI.  Saat ini PSSI turun langsung menjadi aktor utama drakor, dalam episode cekcok dengan pelatih Timnas asal Korea Selatan, Shin Tao-Yong.

Entah bagaimana awalnya, drama yang baru masuk episode pertama langsung memanas alur ceritanya.  Bahkan menjadi  gampang menebak endingnya. Sulit berharap ujungnya happy end, ketika PSSI pagi-pagi sudah mengeluarkan ultimatum pemecatan.

Nasrul Abit Indra Catri

Adalah surprise, jika ujungnya berakhir bahagia, dimana keduanay berdamai, dan kembali fokus bekerja mengurus Timnas Indonesia yang ditunggu banyak agenda penting. Jika ujungnya bad ending, dimana PSSI sebagai penguasa mengetok palu godam, memecat pria korea 50 tahun itu, memang itulah yang yang banyak diduga akan terjadi.

Yang jelas itu akan menjadi sebuah rekor fenomenal PSSI, memecat pelatih yang belum sekalipun memimpin tim di pertandingan resmi. Artinya drakor itu sudah tamat ketika belum masuk ke inti cerita yang sebenarnya.

Padahal PSSI sebelumnya begitu membangga-banggakan pelatih Korea itu, bahkan dengan enteng memberinya kontrak panjang 4 tahun. Tapi baru setengah tahun, kemesraan dan kisah cinta itu sudah berantakan.

Bermula dari wawancara media Korea dengan Shin, yang bicara blak-blakan dan apa adanya seputar keberadaannya sebagai pelatih PSSI. Semuanya dibuka Shin dengan kritik lugas, membuat PSSI dan beberapa personal lainnya jadi kebangkaran jenggot.

Sebagai pelatih profesional, Shin menilai PSSI berubah sikap soal perjanjian kerja. Menurut Shin, PSSI yang tadinya berkomitmen untuk merancang masa depan sepak bola Indonesia bersama-sama, tiba-tiba hanya menginginkan prestasi yang tinggi dan instan untuk turnamen yang bakal digelar dalam waktu dekat.

Shin diminta PSSI meloloskan timnas U-19 Indonesia ke 4 besar Piala Asia U-19 2020 dan Piala Dunia U-20 2021 serta membawa timnas senior Indonesia menjadi juara di Piala AFF 2020 dan memperbaiki peringkat Indonesia di ranking FIFA yang saat ini berada di posisi ke-173.

Shin yang tahu bagaimana fondasi sepakbola Indonesia yang rapuh, dan levelnya baru Asia Tenggara, tentu hal itu tidak rasional. Untuk beberapa item wajar, misalnya Piala AFF 2020, Shin memang harus membawa timnas Indonesia menjadi juara. Bukan hal berlebihan membebani Shin dengan target itu, jika melihat kualitas dan reputasi yang dimilkinya. Apalagi level AFF hanya ASEAN.

Tapi, target tinggi 4 besar Asia untuk Timnas U-19, apalagi 4 besar Piala Dunia U-20 2021, dianggap Shin mimpi yang terlalu tinggi, Bertemu Thailand dan Vietnam saja di level ASEAN sudah ngos-ngosan, konon pula bertemu para raksasa Asia dan dunia.

Sama mustahilnya mengangkat peringkat Indonesia di daftar peringkat FIFA. Satu-satunya cara mendapatkan hal itu adalah selalu menang dalam sisa laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia.

Indonesia akan bertemu Thailand dan Vietnam di kandang lawan dan menghadapi Uni Emirat Arab di rumah sendiri. Menang terus dalam tiga partai itu? Lebih terlihat seperti sebuah mission imposible, walau kadang orang selalu bicara rumus bola itu bulat.

Padahal konsep awal Shin bekerja untuk Timnas Indonesia adalah membenahi fondasi, baik teknis, fisik, maupun mentality. Semuanya akan butuh waktu dan proses. Jika sekarang usaha Shin Tae Yong baru mulai bekerja direcoki habis-habisan, terang saja orang Korea itu gusar.

Situasi makin panas, ketika Shin meminta TC Timnas dipindahkan ke Korea. PSSI kontan menolak mentah-mentah rencana itu. Alasan Shin adalah ancaman COVID-19 lebih rendah di sana plus kemungkinan mendapatkan lawan uji tanding berkualitas juga lebih terbuka.

PSSI menanggapi sedikit emosional dan berlebihan, selain ribut soal konsekwensi biaya besar, merepotkan, PSSI juga menyebut itu sebagai pelecehan sebagai bangsa. Entah dimana point-nya Shin Tae Yong merendahkan bangsa Indonesia. Sebagai pelatih, wajar saja Shin membuat permintaan yang dianggapnya akan menghasilkan proses yang lebih baik.

Padahal, terutama terkait COVID-19, Shin rasanya memperlihatkan kekhawatiran yang sangat wajar. Acuan Shin pastinya statistik resmi dari Gugus Tugas COVID-19 di Indonesia. Grafik perkembangan COVID-19 di Indonesia memang belum ada landai-landainya. Bahkan naik terus dengan beberapa hari terakhir ada penambahan 1000-an kasus per hari.

Sebagai perbandingan, liga-liga di Eropa kini bisa berjalan lagi setelah angka COVID-19 di negara mereka turun secara signifikan. Ketika angkanya masih tinggi atau bahkan baru turun secara minimalis, tidak ada pembicaraan soal rencana menggulirkan lagi aktvitas sepakbola. Jika memakai acuan itu, argumen Shin dalam silang pendapat soal lokasi penyelenggaraan TC di Korea Selatan jadi bisa dimengerti.

Terakhir, Pelatih Korea Selatan di Piala Dunia 2018 itu juga menyebut heran mengapa Indra Sjafri, yang dianggapnya memperlihatkan sikap indisipliner selama bekerja bersamanya, malah ditunjuk PSSI menjadi direktur teknik. Dari asisten-nya, tiba-tiba bertengger jadi atasan langsung. Suatu hal yang mungkin tak pernah ditemui Shin Tae Yong di persepakbolaan profesional.

Point-point kritik Shin Tae-yong di media Korea itulah yang membuat PSSI kalang kabut dan kebakaran jenggot. PSSI dan Indra Sjafri yang kena “tampar” langsung dari Shin Tae Yong, langsung menunjukan sikap super reaktif.

Keduanya kompak menanggapi seolah-olah Shin Tae Yong seperti pelatih amatiran dan kaleng-kaleng saja layaknya. Bagaimana mungkin negara dengan sepakbola kecil dan antah berantah, memandang pelatih reputasi Piala Dunia sedemikian rendah.

Sampai di titik ini, sepertinya hubungan antara PSSI dan Shin kelihatannya sudah sulit untuk bisa diperbaiki. Seperti dalam wawancaranya dengan media Korea, Shin sudah menyatakan tidak tahan lagi bekerja sama dengan PSSI karena menurutnya banyak janji yang tidak dipenuhi.

Di lain pihak, PSSI juga tampaknya sulit memaafkan Shin karena pernyataan kerasnya yang telah menyudutkan PSSI dan justru diucapkan kepada media Korea. Opsi pemutusan hubungan kerja jadi sangat mungkin menjadi kenyataan. Jika begitu, tamat sudah Cerita Shin Tae-yong di timnas Indonesia.

Ketika Shin Tae Yong tamat, maka PSSI tinggal berfikir mencari penggantinya. Beberapa nama sudah siap menunggu bola muntah. Tidak akan jauh-jauh, Indra Sjafri mungkin saat ini sedang senyum-senyum, tak lama lagi kursi pelatih Timnas akan jadi miliknya.(*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top