Artikel

“Drakor” Kisah Cinta PSSI dan Shin Tae Yong Segera Tamat

Dibaca : 986

Oleh: Rizal Marajo
(Wartawan Utama)

IBARAT Drama Korea atau  ‘drakor’ yang mampu membuat masyarakat Indonesia tergila-gila, ternyata juga merasuki federasi sepakbola Indonesia, PSSI.  Saat ini PSSI turun langsung menjadi aktor utama drakor, dalam episode cekcok dengan pelatih Timnas asal Korea Selatan, Shin Tao-Yong.

Entah bagaimana awalnya, drama yang baru masuk episode pertama langsung memanas alur ceritanya.  Bahkan menjadi  gampang menebak endingnya. Sulit berharap ujungnya happy end, ketika PSSI pagi-pagi sudah mengeluarkan ultimatum pemecatan.

Adalah surprise, jika ujungnya berakhir bahagia, dimana keduanay berdamai, dan kembali fokus bekerja mengurus Timnas Indonesia yang ditunggu banyak agenda penting. Jika ujungnya bad ending, dimana PSSI sebagai penguasa mengetok palu godam, memecat pria korea 50 tahun itu, memang itulah yang yang banyak diduga akan terjadi.

Yang jelas itu akan menjadi sebuah rekor fenomenal PSSI, memecat pelatih yang belum sekalipun memimpin tim di pertandingan resmi. Artinya drakor itu sudah tamat ketika belum masuk ke inti cerita yang sebenarnya.

Padahal PSSI sebelumnya begitu membangga-banggakan pelatih Korea itu, bahkan dengan enteng memberinya kontrak panjang 4 tahun. Tapi baru setengah tahun, kemesraan dan kisah cinta itu sudah berantakan.

Bermula dari wawancara media Korea dengan Shin, yang bicara blak-blakan dan apa adanya seputar keberadaannya sebagai pelatih PSSI. Semuanya dibuka Shin dengan kritik lugas, membuat PSSI dan beberapa personal lainnya jadi kebangkaran jenggot.

Sebagai pelatih profesional, Shin menilai PSSI berubah sikap soal perjanjian kerja. Menurut Shin, PSSI yang tadinya berkomitmen untuk merancang masa depan sepak bola Indonesia bersama-sama, tiba-tiba hanya menginginkan prestasi yang tinggi dan instan untuk turnamen yang bakal digelar dalam waktu dekat.

Shin diminta PSSI meloloskan timnas U-19 Indonesia ke 4 besar Piala Asia U-19 2020 dan Piala Dunia U-20 2021 serta membawa timnas senior Indonesia menjadi juara di Piala AFF 2020 dan memperbaiki peringkat Indonesia di ranking FIFA yang saat ini berada di posisi ke-173.

Shin yang tahu bagaimana fondasi sepakbola Indonesia yang rapuh, dan levelnya baru Asia Tenggara, tentu hal itu tidak rasional. Untuk beberapa item wajar, misalnya Piala AFF 2020, Shin memang harus membawa timnas Indonesia menjadi juara. Bukan hal berlebihan membebani Shin dengan target itu, jika melihat kualitas dan reputasi yang dimilkinya. Apalagi level AFF hanya ASEAN.

Halaman : 1 2 3

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top