Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Dr. Deni Satria: Akhir dari Ilmu itu adalah Adab

Dibaca : 253

Agam, Prokabar — Dr. Deni Satria, Direktur Utama Yayasan Cendana Provinsi Riau selaku alumni SMAN 1 Tanjung Raya mencoba memotivasi dan membantu peningkatan Sumber Daya Guru dalam pengembangan pemanfaatan teknologi internet, komputer dan android. Implementasi itu melalui program pelatihan Schoology dan Examview.

“Saya bermimpi agar sekolah saya ini dikenal di Indonesia, bahkan Di Dunia. Seluruh Guru dan siswa fasih menguasai digitalisasi teknologi jaringan internet,” ungkapnya kepada Prokabar.com, usai ditemui di SMAN 1 Tanjung Raya, Minggu (26/7).

Sebagai alumni sekaligus putra daerah Danau Maninjau, berharap kejayaan tokoh inteletual Kabupaten Agam kembali bangkit dan melahirkan generasi cerdas dan beradab. Lahir kembali cendikiawan-cendikiawan baru ranah minang, pahlawan nasional baru dan Buya Hamka baru. Terutama melalui SMAN 1 Tanjung Raya ini.

Doktor Deni sempat mengkisahkan perjuangan dan kegigihan dirinya dalam menuntut ilmu, hingga mampu sukses menjadi seorang direktur utama di salah satu sekolah swasta terpandang di Provinsi Riau.

“Pada tahun 2016 lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan doktor ke Bandung. Yaitu Universitas Islam Nusantara. Pada saat itu, saya harus menghabiskan uang sekitar 4-5 juta perminggu. Meski pahit dan berkat dukungan rekan-rekan senasib seperjuangan, cita-cita itu akhirnya dapat tercapai juga,” tuturnya.

Melihat kondisi sulit dan tekanan aman tinggi, memaksa dirinya untuk memiliki target agar jangka 3 tahun tuntas. Namun berhasil menamatkan sekitar 2,5 tahun.

“Selama kuliah lancar, tapi saat proposal dan sidang terbuka dengan enam dosen penguji, dihadiri semua undangan dan publik. Di sinilah benturan keras dan kecerdasan diplomasi dibutuhkan. Berkat kesantunan jiwa, keelokan budi, kemudahan pun diperoleh dari Pembimbing Utamanya, Profesor Doktor Haji Iim Walisman, gelar doktor itu akhirnya dapat dilalui dengan IPK 3.81,” terangnya.

Terkait kehadiran ia ke SMAN 1 Tanjung Raya ini, sebagai bentuk abdi dan loyalitas alumni angkatan 1991. Memberikan apa yang bisa diberikan, agar terjadi peningkatan atau pembaharuan ada sekolah tersebut.

“Sebagai Direktur Yayasan Cendana milik PT. Chevron Pasifik Indonesia, saya sangat tegas dan bijaksana. Baik kepada Kepala Sekolah maupun semua guru pendidik. Setiap hari guru harus ada perubahan meski memindahkan satu pot dari depan ke belakang,” terangnya.

“Sesungguhnya kita umat manusia, sudah diciptakan sebaik-baik makhluk di muka bumi ini. Adapun kenakalan remaja, pasti ada solusinya. Dan itu jelas butuh kepedulian tinggi dari sang pendidik dalam mencari akar persoalan anak didik,” imbuh Doktor Deni.

Ia melanjutkan, dalam mendidik khususnya menyigi dan menuntaskan persoalan anak, harus melihat latar belakang permasalahan anak didik. Terutama di rumah tangga dan lingkungan pergaulannya. “Jika anak itu nakal, metode terbaik itu adalah seorang guru pendidik bisa membawa anak didik itu ke rumahnya. Dengan demikian, ia bisa dilatih tentang norma-norma dan kedisiplinan hidup,” jelasnya.

Ia menegaskan tidak ada anak yang bodoh dan tinggal kelas. Dan hal itu bergantung kepada guru kelas yang mendidik si anak. Jika guru pendidik itu serius melaksanakan tugas, memperhatikan detail prilaku dan kejanggalan, maka akan selalu ada solusi pembenahan pada anak didik.

Psikologi anak harus diperhatikan, dan ajarkan dengan santun. Itu dapat terwujud tentu terlebih dulu guru harus memiliki berkemauan kuat dan keras untuk menjadi guru yang santun. “Guru adalah suri tauladan dari anak didik. Akan menjadi contoh. Setiap prilaku guru, akan ditiru anak didik. Maka, guru tentu harus memiliki nilai-nilai idealisme norma dan nilai di mata anak didik,” tegasnya.

Dalam mengembangkan sebuah visi dan misi, terdapat tiga tahapan tolak ukur yang terukur. Pertama Gagasan atau ide. Ide yang cemerlang akan universal diterima semua kalangan dan memotivasi teamwork (internal) yang dimiliki. Kemudian dilanjutkan dengan narasi atau tujuan akhir yang baik dan membahagiakan semua tim. Terakhir adalah karya. Segala akhir akan membuahkan hasil berupa karya. Sebagai wujud dan tolak ukur keberhasilan sebuah program.

“Saya tidak mau menjawab dengan kata-kata, akan tetapi dengan karyanya. Selain digitalisasi sukses, maka literasi seorang pendidik akan melahirkan sebuah karya tulis. Sebagai bukti kualitas, kualitas dan elektabilitasnya,” ulasnya.

Pada kesempatan ini, Direktur Yayasan Cendana Riau itu memberi pelatihan Learning Managemen Sistem. Berupa pelatihan Schoology (Pembelajaran Interaktif) dan Examview (Ujian Berbasis Komputer).

Implementasi langsung dan sepakat, melalui memprogram sejumlah kegiatan. Ikhlas dan membiasakan untuk digitalisasi. “Akhir dari ilmu itu adalah Adab. Yaitu sopan dan santun. Saya bukan pintar, tapi ALLAH lah yang memberikan saya kemudahan menjalani hidup,” pungkasnya. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top