Padang, Prokabar – Pria berkumis itu, jadi gubernur Sumbar hanya 6 bulan. Walau singkat, tapi berkesan.
“Terkesan saya, ia serius mengurus Masjid Raya, serius bertemu dengan para tokoh. Konfigurasi ekonom, birokrat dan penyelenggara pemerintah yang pas,” kata mantan Pemred Padang TV kepada prokabar.com, Jumat (28/6).

Terkesan karena Donny mengumpulkan tokoh-tokoh kepala daerah, ninik mamak dan tigo tungku sejarangan di Hotel Muara lalu berdiskusi. Ia juga mendapatkan sumbangan dari beberapa provinsi untuk melanjutkan pembangunan Masjid Raya yang terbengkalai.

Waktu penggalangan dana untuk Masjid Raya, Donny, sebagai Pj Gubernur yang tak memiliki kepentingan apa pun, kecuali untuk membangun Sumbar.
“Khusus untuk Masjid Raya, saat itu progres pembangunannya baru mencapai 49 persen dan telah menyerap dana pembangunan yang bersumber dari APBD sebesar Rp202,2 miliar. Untuk melanjutkan pembangunan, masih dibutuhkan lagi dana mencapai Rp220 miliar.”
Karena keterbatasan anggaran, pembangunan Masjid Raya ini berjalan pelan. “Makanya harus ada sumber lain. Sekarang saya sedang menjajaki kerja sama dengan Gubernur Papua,” ucap Ditjen Keuangan Daerah Kemendagri, kala itu.
Bekerja cepat
Donny lahir di Padang pada November 1960. Ia seorang pejabat penting di Kementerian Dalam Negeri. Sempat dipercaya wakil gubernur IPDN sekaligus staf ahli Mendagri. Sebelumnya menduduki jabatan Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri. Dan saat ini dipercaya sebagai Sekjen DPD RI.
Presiden Jokowi mempercayainya sebagai Pejabat Gubernur Sumbar 15 Agustus 2015 sampai Februari 2016.
Donny sukses mengantarkan pilgub Sumbar dengan sukses, tanpa gejolak.

Di samping itu penetapan APBD Sumbar 5 tercepat di Indonesia. Ini terbukti ia bisa bekerja cepat. Selain itu bisa mengendalikan inflasi. lnflasi semasa dia jadi gubernur, pernah terendah sepanjang sejarah. Proyek fisik 2016 jika tak Januari maka bulan depan ditender padahal sebelumnya paling cepat Juni bahkan ada yang September.
Banyak pihak memintanya agar kembali pulang, untuk jadi gubernur.
Dekat dengan Pers
Selain berkisah tentang komitmennya membangun Sumbar, Reydonnyzar Moenek juga berkisah tentang lika-liku hidupnya. Dia adalah seorang birokrat Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri Indonesia (Kemendagri). Di awal kariernya sebagai birokrat, ia pernah jadi staf di Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dari tahun 1989 sampai 1993. Karena keahliannya menulis, ia dipercaya menjadi penulis dan penyusun naskah pidato Gubernur Jawa Tengah, Muhammad Ismail.
Donny ini menamatkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Semarang sebelum melanjutkannya ke Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tahun 1988 ia pun berhasil menyelesaikan kuliahnya di UGM dan selanjutnya meneruskan studinya ke Filipina dan Australia.
Dalam karirnya ia pernah mendapat penghargaan dari The World Green Environment Union dan Pemerintah Korea Selatan dan Elshinta Award 2012. Penghargaan yang diberikan bertepata
n dengan hari ulang tahun (HUT) Elshinta ke-13 itu lantaran dinilai sebagai narasumber yang tidak pelit memberikan keterangan kepada wartawan.
Dari tiga yang meraih penghargaan, Reydonnyzar mendapatkan penghargaan The Most Favourite juru bicara kementerian yang paling mudah dihubungi oleh media dan tidak pelit berita, serta terbuka kepada publik. Donny bersama Johan Budi dari KPK, meraih Elshinta Award 2012.
“Komunikasi publik di institusinya bisa berjalan sangat baik berkat peran media. Karena pembangunan tidak bisa lagi dididirikan dengan kekuasaan, maka segala kritik dan aduan masyarakat harus diterima,” kata dia. (laf)
















