Padang, Prokabar – Membangun Sumatera Barat itu tidak mudah, karena keunikan karakter masyarakat. Hal ini menjadi tantangan bagi pemimpin ke depan.
Di bidang pariwisata, Sumbar punya potensi besar. Namun hingga kini belum terkelola maksimal. Menurut praktisi pariwisata, Zuhrizul, hal ini tidak terlepas dari mentalitas masyarakat itu sendiri.
“Bicara sadar wisata tidak bisa diterapkan serta merta di Sumbar, banyak hal yang harus dibenahi. Karakter masyarakat Sumbar itu unik, mulai dari cara melayani, hingga persoalan tanah di destinasi wisata,” jelas Zuhrizul.
Hal senada juga disampaikan akademisi Sari Lenggogeni. Menurutnya pengembangan pariwisata tidak bisa disamakan dengan Bali, NTB ataupun kota – kota di luar negeri. Sumbar punya keunikan tersendiri.
“Membangun Pariwisata itu harus melihat kulturnya. Jangan campur adukkan antara konsep pengembangan pariwisata. Begitupun dengan pasar pariwisata Sumbar, tidak cocok ke Eropa,” kata Sari Lenggogeni.
Sektor pariwisata ini menurut Sari, harus dilepaskan ke profesional. Jika destinasi dikelola oleh pemerintah, akan tidak berjalan, karena faktor birokrasi.
“Pemerintah cukup sebagai regulator saja, untuk operator serahkan ke profesional, minimal ke Pokdarwis,” ujar Doktor lulusan Australia ini.
Sementara itu, Buya Mas’oed Abidin, berharap pembangunan Sumbar harus benar benar serius. Selain itu kreatifitas dan segala potensi harus digali maksimal.
“Tebu di Lawang contohnya, jika diolah menjadi gula enau, harganya Rp 5000, tapi jika dikemas sedemikian rupa namanya menjadi brown sugar, harganya berlipat lipat,” jelas buya kharismatik ini.
Buya Mas’oed dalam diskusi TOP100 juga menegaskan untuk membangun Sumatera Barat maka yang harus dilakukan adalah memahami Sumatera Barat itu terlebih dahulu.
“Mustahil jika kita bicara membangun dan mendorong pembangunan, pemimpinya tidak memahami Sumbar dan masyarakat,” ungkapnya.
Buya Masoed Abidin menutup rangkaian diskusi ini dengan doa bagi kemajuan Sumatera Barat.
Rencananya, setiap anggota TOP100 mengirimkan tulisan, untuk selanjutnya dijadikan sebuah buku. Isinya tentang rekomendasi bagaimana Sumatera Barat ke depan. (laf)
















