Diskusi TOP100 : Membangun Sumbar Diawali Dengan Memahami Masyarakat

Penulis -

Minggu, 29 September 2019 - 22:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar –  Membangun Sumatera Barat itu tidak mudah, karena keunikan karakter masyarakat. Hal ini menjadi tantangan bagi pemimpin ke depan.

Di bidang pariwisata, Sumbar punya potensi besar. Namun hingga kini belum terkelola maksimal. Menurut praktisi pariwisata, Zuhrizul, hal ini tidak terlepas dari mentalitas masyarakat itu sendiri.

“Bicara sadar wisata tidak bisa diterapkan serta merta di Sumbar, banyak hal yang harus dibenahi. Karakter masyarakat Sumbar itu unik, mulai dari cara melayani, hingga persoalan tanah di destinasi wisata,” jelas Zuhrizul.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Hal senada juga disampaikan akademisi Sari Lenggogeni. Menurutnya pengembangan pariwisata tidak bisa disamakan dengan Bali, NTB ataupun kota – kota di luar negeri. Sumbar punya keunikan tersendiri.

“Membangun Pariwisata itu harus melihat kulturnya. Jangan campur adukkan antara konsep pengembangan pariwisata. Begitupun dengan pasar pariwisata Sumbar, tidak cocok ke Eropa,” kata Sari Lenggogeni.

Sektor pariwisata ini menurut Sari, harus dilepaskan ke profesional. Jika destinasi dikelola oleh pemerintah, akan tidak berjalan, karena faktor birokrasi.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

“Pemerintah cukup sebagai regulator saja, untuk operator serahkan ke profesional, minimal ke Pokdarwis,” ujar Doktor lulusan Australia ini.

Sementara itu, Buya Mas’oed Abidin, berharap pembangunan Sumbar harus benar benar serius. Selain itu kreatifitas dan segala potensi harus digali maksimal.

“Tebu di Lawang contohnya, jika diolah menjadi gula enau, harganya Rp 5000, tapi jika dikemas sedemikian rupa namanya menjadi brown sugar, harganya berlipat lipat,” jelas buya kharismatik ini.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Buya Mas’oed dalam diskusi TOP100 juga menegaskan untuk membangun Sumatera Barat maka yang harus dilakukan adalah memahami Sumatera Barat itu terlebih dahulu.

“Mustahil jika kita bicara membangun dan mendorong pembangunan, pemimpinya tidak memahami Sumbar dan masyarakat,” ungkapnya.

Buya Masoed Abidin menutup rangkaian diskusi ini dengan doa bagi kemajuan Sumatera Barat.

Rencananya, setiap anggota TOP100 mengirimkan tulisan, untuk selanjutnya dijadikan sebuah buku. Isinya tentang rekomendasi bagaimana Sumatera Barat ke depan. (laf)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB