Trending | News | Daerah | SemenPadangFC

Daerah

Diskusi FMM, Tokoh Minang Bicara Sumbar Saat Ini dan Kedepan

Dibaca : 348

Solok, Prokabar –Tokoh-tokoh Sumatera Barat yang tergabung dalam Forum Minang Maimbau menggelar diskusi “Sumateta Barat Saat Ini dan Sumatera Barat ke Depan”, Sabtu (22/2) malam di Villa Kayu Putih, Alahan Panjang, Kabupaten Solok.

Diskusi itu dihadiri puluhan tokoh baik yang ada di ranah maupun di rantau. Tampak hadir tokoh nasional Fahmi Idris, Fasli Jalal, Andrinof Chaniago, Buya Masoed Abidin, anggota DPR RI Guspardi Gaus dan Darul Siska, Rektor UNP Prof. Ganefri, Walikota Solok Zul Efian, Walikota Padang Panjang Fadly Amran, Prof. Helmi, Firdaus HB, Benny Wendri dan sejumlah tokoh lainnya.

Dalam diskusi yang dibuka Firdaus HB itu dibicarakan bagaimana kondisi Sumbar saat ini dan bagaimana pemimpin Sumbar yang diharapkan kedepan.

Firdaus HB menyatakan, diskusi itu diselenggarakan dalam mempererat silaturahmi keluarga besar FMM sekaligus menikmati keindahan alam Sumatera Barat.

“Melihat kondisi Sumatera Barat saat ini, perlu kita gelar diskusi ini untuk mencarikan solusi yang kongkrit yang nantinya akan kita rekomendasikan ke pemimpin Sumbar masa datang,” katanya.

Mantan Menakertrans Fahmi Idris menyatakan orang Minang dimasa lalu adalah panutan dalam intelektualitas.

Dulu, ketika selesai menjadi Gubernur langsung diangkat menjadi menteri. “Namun kini, entah karena kemampuan kita tidak diakui lagi, atau bagaimana. Kedepan kita masih belum tahu, apakah ada lagi,” katanya.

Dia menyatakan, kedepan, para calon Gubernur hendaknya mampu menata masyarakat Minang yang sekarang dan Minang yang akan datang ke arah yang lebih baik.

“Bagaimana dia akan membawa Sumbar itu menjadi sesuatu di republik ini. Bagaimana perubahan-perubahan yang akan kita lakukan kedepan. Ini perlu kita tanamkan ke generasi muda untuk tokoh besar dimasa yang akan datang,” katanya.

Sementara Buya Masoed Abidin menyatakan dulu orang Minang adalah rujukan, kedepan itu harusnya dipertahankan.

Dia melihat, saat ini Sumbar dalam kondisi kritis. Hal itu terlihat dari adanya kasus pelacuran yang terungkap, lalu ada korupsi uang masjid dan BAZ yang nilainya mencapai miliaran.

“Ini tentu perlu menjadi pemikiran kita semua. Pertemuan ini hendaknya bisa anggap sebagai langkah awal memperbaiki apa yang telah diobrak abrik oleh orang sekarang untuk Sumbar lebih baik,” katanya.

Sementara anggota DPR RI Guspardi Gaus menyatakan saat ini, Sumbar Sumbar sudah tertinggal dalam berbagai hal. “Kita lihat bahkan perguruan tinggi kita makin melorot. Padahal itu yang kita harapkan bisa menjadi ladang pengkaderan tokoh-tokoh kita dimasa datang,” katanya.

Selain itu, dia juga mengajak para tokoh untuk bisa menjembatani ranah dengan rantau, sehingga potensi rantau ini bisa dimanfaatkan untuk kampung halaman.

Pun demikian dengan Darul Siska yang menyatakan persoalan kita saat ini komunikasi tidak bagus.

Kekayaan alam dengan sumber manusia tidak maching, sehingga menghambat pengembangan potensi yang kita miliki. “Harus ini tentunya harus dibenahi,”

Dia juga mengatakan, demokrasi kita saat ini berdasarkan angka-angka. “Siapa yang punya dukungan besar, dia yang dapat posisi. Jadi kita tentu juga harus sadar diri,” katanya.

Sementara Andrinof Chaniago menyatakan persoalan saat ini adalah bagaimana membentuk lagi karakter dan mengubah mainset.

“Kita bisa mulai dari yang kecil-kecil misalnya membentuk karakter anak agar lebih baik. Seperti yang kami lakukan di Komunitas Tanah Ombak, bagaimana mengubah anak-anak pantai dari yang dulunya suka bicara asal bahkan kotor kini menjadi lebih santun dan sopan. Ini tentunya perlu menjadi perhatian. Hambatan utama untuk maju di karakter, etos kerja dan bagaimana saling menghormati,” katanya.

Sementara Prof. Ganefri untuk pemimpin ke depan, harus mampu membawa Sumnar harus menjadi destinasi pendidikan. Itu bisa kita lakukan kalau kualitas pendidikan kita baik.

“Kedepan pemerintah harus bisa memberi perhatian lebih kepada dunia pendidikan, sehingga kualitas pendidikan kita kembali meningkat,” ujarnya.

Walikota Padang Panjang Fadly Amran menyatakan pemimpin ke depa itu harus mampu menyalurkan energi positif kepada bawahan dan masyarakatnya.

“Seorang pemimpin tentunya mampu menyalurkan energi positif sehingga memberi optimisme kepada masyarakat bahwa kita kita bisa. Selain itu juga tentu harus mampu memaksimalkan potensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.(mbb)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top