Budaya

Disdikbud Agam Berdayakan KPGH Benahi Museum RK Buya Hamka

Agam, Prokabar — Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kabupaten Agam merasa lega kehadiran Komunitas Pemuda Generasi Hamka Tanjung Raya (KPGH TJ), dalam melakukan pembenahan dan pengembangan pengelolaan Museum Rumah Kelahiran (RK) Buya Hamka. Pasalnya, sejak lahirnya komunitas itu dan di SK-kan Camat Tanjung Raya, Handria Asmi Jumat (21/6), membawa perubahan besar pada Kampung Halaman Buya Hamka. Termasuk Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Tapian Tanah Sirah, Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam tersebut.

“Kami atas Pemerintah Kabupaten Agam, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, sangat terbantu atas kehadiran dan peran aktif KPGH. terutama intensitas di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini,” terang Kasi Cagar Budaya Disdikbud Agam, Muhammad Jasir mewakili Kadisdikbud Agam, Isra, kepada Prokabar.com saat melakukan pertemuan dengan KPGH di Ruang Baca Buya Hamka, Tanah Sirah, Minggu (10/11).

Menurutnya, peran serta komunitas telah membawa perubahan besar sejak berdirinya bangunan bersejarah ulama besar nan mendunia tersebut. “Sebelumnya, sejak pemandu almarhum Hanif meninggal, digantikan Akhiar dengan minim kemampuan sebagai pemandu, sempat merosot tajam. Baik secara pengelolaan maupun tingkat kunjungan. Dengan dorongan komunitas tersebut, kini hadir Ustad Dasri. Sebagai seorang mubaliq, beliau mampu melayani pengunjung dengan baik dan ramah. Bahkan menerangkan sejarah Buya Hamka dan Inyiak Rasul secara lengkap,” ungkapnya.

Selain masalah pemandu, konflik internal petugas yang selama ini menjadi momok, secara berlahan sudah mulai mendapat solusi. “Kehadiran komunitas yang mayoritas pemuda setempat, telah mendapat dukungan semua pihak. Dan momen ini jelas tidak akan kami sia-siakan,” tuturnya.

Disdikbuda Agam sebelumnya juga telah memberikan surat kuasa untuk membantu pengelola museum dalam pembenahan tersebut. Sejumlah perencanan juga akan direalisasikan secara bertahap.

“Kami berharap keberadaan Museum RK buya Hamka ini tidak hanya tempat kunjungan semata. Akan tetapi berdampak positif terhadap sosial budaya, sejarah, pendidikan Agama Islam, pariwisata dan perekonomian masyarakat,” ulas Jasir.

Sementara itu, Effendi panggilan akrap Uo Marah mewakili KPGH sekaligus tokoh masyarakat Sungai Batang menjelaskan, pertemuan dengan Kasi Cagar Budaya tersebut memberikan pencerahan dan kekuatan dalam pembenahan salah satu cagar budaya Agam tersebut.

“Nama Besar Buya Hamka hingga saat ini, masih sangat hebat di luar sana. Jika petugas dan pemandu museum ini baik pelayanannya, maka akan berdampak baik pula untuk kehidupan masyarakat secara luas. Jika buruk, maka tidak hanya berdampak buruk nama baik Kampung Halaman Buya Hamka ini, melainkan akan membuat cacat nama baik Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Bahkan nama baik Negara Indonesia juga akan buruk, terutama wisatawan mancanegara yang sering berkunjung ke sini,” kata Uo Marah.

Untuk itu lanjutnya, tugas dan tanggungjawab pengelolaan museum, tidak hanya milik pengelola, petugas dan pemandu saja. Melainkan beban semua warga negara Indonesia. Terutama masyarakat yang berada di wilayah Museum RK Buya Hamka.

“Alhamdulillah, KPGH telah dipercaya untuk membantu pembenahan, pengembangan dan pengawasan. Tentu sesuai batasan-batasan yang telah ditentukan pastinya. Meski demikian, kita akan terus berupaya melakukan beberapa terobosan. Termasuk membagi piket tiap hari pada seluruh anggota KPGH untuk mendampingi Ustad Dasri memandu pengunjung,” pungkasnya. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top