Agam, Prokabar – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Agam, Isra menyebutkan menumbuhkembangkan karakter anak didik, bergantung kelihaian guru untuk aktif dan kreatif, terutama dibilang literasi dan kepedulian.
Kerjasama dengan berbagai lembaga, penggiat dan organisasi penulis dan sosial juga menambah penguatan pada anak didik, ungkapnya saat diskusi dengan belasan guru penulis, pemuda penggerak, Sekretaris Disparpora Subhan dan Dr. Pramono, Filolog Unand, di Ambun Pagi, Kamis (16/9).
Isra menegaskan, pengkajian koleksi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, sangat diharapkan semakin lengkap. Saat ini koleksi baru 86 buah buku dan benda lainnya. Agar naik tipe A harus ada 100 buah koleksi.
“Mari kita berikan kontribusi bersama untuk membantu pengembangan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka lebih baik. Menjadikan cagar budaya itu semakin menarik dan magnet edukasi pendidikan dan literasi generasi beriman dan bertakwa,” ujarnya.
Lahir karya-karya guru literasi tentang Buya Hamka sehingga menambah koleksi dan perhatian serius banyak pihak.
“Museum ini jangan hanya tempat menyimpan koleksi sejarah saja, tapi juga tempat pelajaran. Sehingga harus terus berkembang, terus ada perubahan krearifitas membuat daya tarik semakin kuat,” tuturnya.
Dahulunya, museum hanya dikunjungi wisatawan mancanegara. Padahal Museum Buya Hamka merupakan tempat pembelajaran.
Beberapa tahun ini telah fokus dan berbenah, lebih baik lagi. Menampakan hasil dan momen ini kita bisa berperan lagi, terutama melengkapi koleksi dan edukasi literasi.
Memanfaatkan semaksimal mungkin Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka sebagai edukasi, literasi dan pembelajaran terutama dalam sosok Buya Hamka. Sebagai sosok yang konsisten, tegas, lugas, cerdas, pintar, penulis, sastrawan, ulama dan Jurnalis.
“Kita beri saran dan pesan tentang pembenahan kelanjutan jangka panjang. Penataan, Penambahan Koleksi dan Pelayanan,” ulasnya.
Di sisi lain, Pendidikan Karakter Buya Hamka berakar dari Surau. Maka Pendidikan Surau, juga harus kita bangkitkan kembali. Dan Sungai Batang sebagai wisata religius, budaya dan sejarah tertuju pada edukasi, literasi dan pembelajaran mampu membawa daya tarik kuat dan hebat.
Apalagi Rangkaian Sejarah bertali kuat antara Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka dengan Kutub Chanah dan Makam Syekh Muhammad Amrullah menjadi paket kunjungan yang sangat menarik dan bernilai tinggi. Di sana juga ada surau yang dulunya pusat pendidikan dan sosial budaya.
“Surau merupakan tempat pembenahan dan pusat pendidikan sebagaimana Buya Hamka didik, hidup dan mampu berkarakter kuat. Ia berkesenian pasambahan sebagai latihan debat diskusi, bersilat, main galembong, menggunakan baju tari, baju pemusik, berpakaian adat dan sebagainya. Dan hal ini juga bisa jadi tambahan koleksi Museum nantinya,” terangnya.
Program ini jelas sangat sesuai dengan visi dan misi sebagai tugas utama Bupati Agam, Andri Warman. Yakni menfokuskan sektor penguatan pendidikan, kebudayaan, pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Keempat komponen ini menjadi sentral pada sektor lain, sehingga kemajuan sumber daya manusia akan meningkat. Berdampak pada peningkatan taraf hidup dengan kecerdasan dan keuletan mental yang semakin lebih maju lagi,” tutupnya. (rud)
















