Dikunjungi Komisi VI DPR, Andre Rosiade Dorong Sepablock Semen Padang jadi Solusi Huntap Nasional, Bersaing di Sumut dan Aceh

Penulis -

Kamis, 22 Januari 2026 - 16:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar — Produk inovatif Sepablock (Semen Padang Bata Interlock) milik PT Semen Padang kian menguat sebagai solusi konstruksi modern nasional, khususnya untuk percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) pascabencana. Potensi tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja Komisi VI DPR RI ke pabrik Sepablock PT Semen Padang, Kamis (22/1/2026).

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menilai Sepablock memiliki keunggulan signifikan dibanding material konvensional, baik dari sisi kecepatan pembangunan, ketahanan, maupun efisiensi biaya. Menurutnya, inovasi ini sangat relevan untuk mendukung program pemerintah dalam penyediaan hunian layak bagi masyarakat terdampak bencana.

“Hari ini kami meninjau pabrik Sepablock. Ini bagian dari rencana pemerintah untuk membangun hunian tetap. Sepablock produksi Semen Indonesia Group akan berkontribusi dalam pembangunan rumah huntap di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,” ujar Andre Rosiade.

Rombongan Komisi VI DPR RI diikuti Gani Toto (Fraksi Golkar, Dapil Jawa Tengah I), K.H. Ahmad Labib (Fraksi Golkar, Dapil Jawa Timur X), Nurwayah (Fraksi Demokrat, Dapil Jakarta III), Kawendra Lukistian (Fraksi Gerindra, Dapil Jawa Timur IV), Iskandar (Fraksi PAN, Dapil Sumatera Selatan II), Nevi Zuairina (Fraksi PKS, Dapil Sumbar II), serta Syarifah Suraidah (Fraksi Golkar, Dapil Kalimantan Timur).

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Andre mengungkapkan, berdasarkan laporan manajemen Semen Indonesia Group (SIH), PT Semen Padang telah memperoleh kontrak kerja sama pembangunan 4.800 unit rumah huntap di Sumatra Barat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Ia pun mendorong agar produk ini juga mampu bersaing di pasar Sumatera Utara dan Aceh, dengan skema harga yang kompetitif.

“Kami menyarankan agar juga bisa bersaing di Sumut dan Aceh. Ini sedang dikaji supaya harganya jelas dan kompetitif. Keunggulannya, pengerjaan rumah bisa selesai dalam dua minggu, tahan gempa dan tahan api, serta harganya relatif murah. Ini tentu sangat membantu pemerintah dan masyarakat,” tegas Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPR RI.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Andre menjelaskan, untuk tipe rumah 36, biaya pembangunan dengan Sepablock berada di kisaran Rp150 juta hingga Rp160 juta per unit. Dengan waktu pembangunan hanya dua hingga tiga minggu, masyarakat terdampak bencana dapat segera menempati hunian tetap, sehingga proses pemulihan sosial dan ekonomi berjalan lebih cepat.

Sementara itu, Direktur Utama PT Semen Padang Pri Gustari Akbar menyampaikan bahwa Sepablock merupakan produk inovasi perusahaan yang telah dikembangkan sejak 2010. Produk ini dirancang sebagai material bangunan tahan api dan tahan air, serta sangat cocok digunakan untuk pembangunan pascabencana, termasuk di wilayah rawan banjir dan gempa.

“Sepablock ini salah satu produk inovatif kami sejak 2010. Awalnya juga disiapkan untuk kondisi darurat, seperti pada masa Covid-19. Keunggulannya tahan api, tahan air, dan sangat relevan untuk pembangunan pascabencana,” kata Pri Gustari.

Ia menjelaskan, saat ini kapasitas produksi Sepablock mencapai 100 hingga 110 unit per bulan atau sekitar 1.300 unit per tahun. Kunjungan Komisi VI DPR RI ke fasilitas produksi tersebut menjadi dorongan moral tersendiri bagi manajemen dan karyawan untuk terus mengembangkan produk inovatif ini.

Baca Juga :  Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

“Dengan adanya kunjungan Komisi VI DPR RI, tentu kami semakin bersemangat untuk mengembangkan Sepablock agar pemanfaatannya semakin luas,” ujarnya.

Meski demikian, Pri Gustari mengakui bahwa pemasaran Sepablock masih terbatas dan difokuskan pada pasar domestik. Selain itu, pembangunan rumah dengan sistem bata interlock ini memerlukan tenaga tukang yang telah mendapatkan pelatihan khusus agar pemasangan sesuai standar dan kualitas tetap terjaga.

Dengan keunggulan efisiensi waktu pembangunan, ketahanan terhadap gempa dan api, harga yang kompetitif, serta dukungan pemerintah dan DPR RI, Sepablock dinilai berpotensi menjadi solusi konstruksi masa depan yang mempercepat penyediaan hunian layak dan aman bagi masyarakat Indonesia. (*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB