Budaya

Di Nagari Maninjau, Malewakan Gelar Datuk Harus Di Masjid Ini

Tanjung Raya, Prokabar – “Lain lubuak lain ikannyo, lain padang lain hilalangnyo”. Begitulah pribahasa minang terkait adat istiadat atau aturan yang berlaku Di setiap nagari. Di Nagari Maninjau, belum sah seorang Datuk atau Imam Khatib bila belum melewakan gelarnya di Masjid Ummil Qura, masjid tertua dan bertuah yang ada di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Menurut sejarah, Masjid Ummil Qura berdiri di sana sejak 1909. Bangunan ke tiga, setelah berpindah ke lokasi yang tidak jauh dari sebelumnya. Merupakan masjid tertua dan menjadi central dari kegiatan Keagamaan dan Adat Istiadat.

Kali ini, Jumat siang (4/1) usai pelaksanaan sholat Jumat berjemaah, suku melayu dengan “limo payuang” atau lima penghulu suku, malewakan salah satu datuknya yang baru saja terpilih. Pelaksanaan gelar berlangsung diteras luar masjid. Merupakan tradisi sejak dahulunya masyarakat setempat. Meski prosesi berlangsung sederhana, namun memiliki nilai sosial yang kuat dan mengikat norma-norma, sehingga penghulu yang dilewakan merasakan tanggungjawab yang harus diamalkan dengan baik.

Junaidi Datuak Rajo Mangkuto, Ketua Persatuan Perantau di Palembang. Diamanahkan untuk memimpin kaumnya di kampung halaman. Dia dipercaya menjabat Datuak Panungkek, anak buah dari Masnur Datuak Sati.

“Amanah ini sempat membuat saya gamang. Namun setelah teringat nasihat guru dahulu, saya kembali kuat dan yakin mengemban tugas dan kewajiban sebagai Ninik Mamak Suku Melayu Maninjau. Pengalaman selama dirantau, serta bimbingan orang tua yang masih ada, segala permasalahan pasti bisa di atasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Masnur Datuak Sati menerangkan polemik atau pergeseran nilai-nilai moral regenerasi saat ini menjadi tantangan berat bagi seluruh ninik mamak. Tidak hanya di Maninjau saja, hampir merata kerusakan mental berlangsung di Ranah Minang dan Indonesia secara luasnya. 

“Kita butuh seiya sekata, dan secara sadar bersama-sama bahu membahu agar permasalahan ini dapat teratasi. Pembinaan anak dan kemenakan penting ditingkatkan, sehingga meningkatkan sumber daya manusia dan perekonomian nantinya,” tutur Masnur Datuak Sati.

Kita lanjutnya, harus kompak menjalin komunikasi dan konsisten menjalankan aturan yang sudah dibuat. Dengan demikian kerukunan dan keharmonisan dalam tatanan bermasyarakat, dapat tercapai. (rud)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top